Ar Rahman – Ar Rahiim

Nama Allah yang terkandung dalam basmallah adalah Ar Rahman dan Ar Rahiim, sifat kasih sayang. Hikmah di balik nama tersebut harus kita fahami dengan baik. Semoga dengan mempelajarinya kita menyadari siapa Allah dan bagaimana kita meniru sifat-Nya.

Yang disebut orang yang pengasih adalah orang yang selalu berniat memberi atau menolong orang lain dengan segenap kemampuannya. Sedang yang dimaksud dengan Ar Rahiim, sifat pengasihnya Allah, adalah pemberian yang melimpah terus menerus, terlepas dari apakah yang diberi tersebut membutuhkan atau tidak, bahkan layak menerima atau tidak.

Berbeda dengan sebagian besar manusia, kelemahan kita adalah baru mau memberi jika diberi atau karena mengharapkan sesuatu, misalnya mengharapkan pujian, penghargaan atau balas budi. Ciri kita masih tak ikhlas saat memberi adalah kecewa jikalau orang yang diberi tak balas budi atau tak mengucapkan terima kasih.

Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak. Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Mahasuci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita.

Berbeda dengan Ar Rahiim, Ar Rahman lebih tinggi daripada Ar Rahiim. Ar Rahman jangkauan kasih sayangnya meliputi dunia akhirat, sedang Ar Rahiim hanya duniawi. Sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah memberikan kasih sayang-Nya pada kita dengan menciptakan dan membentuk. Kemudian setelah tercipta, kita dituntun mendapatkan iman dan kebahagiaan dunia akhirat. Setelah mati, kita diberi peluang menatap-Nya di akhirat kelak.

Kita sering bertanya mengapa Allah memberikan sakit, kebangkrutan dan berbagai musibah? Bahkan kita juga sering bertanya mengapa tak sedikit orang yang rajin beribadah tapi tetap terkena musibah?

Camkan baik-baik, tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Keburukan yang ditimpakan kepada kita pasti berisi kebaikan di dalamnya.

Ketidaksabaran dan ketidakmampuan kita memahami hikmahlah yang membuat seolah kejadian itu buruk. Dengan kedalaman iman kita dapat menembus keyakinan bahwa tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan.

Ambil contoh, seorang anak tertusuk duri hingga harus diamputasi.

Diamputasi tangan adalah suatu keburukan, tapi jika tak diamputasi ia akan tetanus dan bila penyakitnya makin kronis tubuhnya akan hancur. Diamputasi bukanlah suatu keburukan walau tubuhnya tersakiti dan sebagian tangannya hilang. Disakiti untuk kebaikan tetap kebaikan.

Karenanya, janganlah kita menjadi sengsara karena bencana yang menimpa hingga menyangka bahwa Allah tak sayang pada kita. Bila terjadi sesuatu pada diri kita yang tampaknya seperti keburukan, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa berniat berbuat baik kepada hamba-Nya.

Ibarat anak yang diamputasi tadi, sang orang tua mengamputasi bukan karena ingin menghilangkan tangannya, tapi justru untuk menyehatkannya. Begitupun, aneka cobaan dan masalah dalam hidup ini sesungguhnya merupakan kasih sayang Allah untuk keselamatan kita.

Hikmah utamanya adalah kita tak boleh su’udzan di balik sepelik apa pun masalah yang menimpa karena pasti tersimpan niat baik dari Allah untuk kita dan pasti tersimpan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita anggap buruk.

Hikmah lainnya adalah kita harus meniru sifat kasih sayang Allah ini. Seorang Muslim yang mengikuti sifat kasih sayang Allah, dia akan peka terhadap orang-orang di sekitarnya yang berada dalam kesulitan. Dia terus melacak siapa yang membutuhkan pertolongan seraya menyediakan diri dan hartanya untuk menolong dengan segenap kemampuannya.

Jika tak mampu menolong, maka dia berusaha memfasilitasi untuk menjadi perantara pertolongan. Jika itupun tak berdaya dilakukannya, maka berempati dengan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang bisa meringankan bebannya. Jika itupun tak sanggup, maka dia berdoa di balik gelap malam tanpa sepengetahuan siapa pun karena dia sangat merindukan orang lain terlepas dari kemalangannya.

Inilah sebenarnya karakter seorang Muslim, selalu berfikir bagaimana menolong sesama dan melepaskan kemalangan orang lain. Jika hal ini ada pada diri kita, kita akan hidup penuh dengan kebahagian, bukan karena mendapatkan pertolongan, tapi karena kita bisa menolong orang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab

Comment (1)

  • waladi| July 2, 2008

    Ass. wr wb

    Saya salah satu yang suka membaca dan selalu mencari-cari tulisan anda, karena isinya selalu memberikan pencerahan kpd kita semua. Di dlm milist ini rupaya selain anda ada mas edy yg jg selalu menampilkan cerita-cerita segar dan memberikan nasihat secara tdk langsung utk kita semua. Saya berdoa kpd Allah swt mudah-mudahan tulisan2 tsb bermanfaat dan memberikan berkah pada kita terutama pada diri penuslis…., amin3x

    Akan tetapi, kenapa saya masih merasa ada yang masih perlu dilengkapkan…. (maaf ya, kalau tdk)….., sillaturahim….ya sillturrahim…… apa ya yg dimaksud dg kata ini?? apa cukup dg melempar bacaan2 atau cerita2 atau lebih pada mencoba utk memahami satu sama lainnya. Tentunya kita akan sangat yakin bahwa sebagian besar yg terlibat dalam milist ini mereka yg rata2 beruntung/ berhasil dalam menjalani kehidupan ini. Akan tetapi bagaimana dg yg di luar sana yg tdk pernah bs berhubungan dengan IT ini, bahkan mengenalpun tdk……, saya yakin banyak rekan2 kita yg demikian…., yg hidupnya kurang beruntung…… Untuk itu saya mohon dengan sangat hormat, berikanlah contoh2 nsihat dengan perbuatan …. syiarkan ajarn nabi dengan amalan juga…, perhatikan rekan atau teman2 kita yg masih kurang beruntung….. sambunglah tali sillaturrahim.

    Ada sebuah kisah (bercerita jg nih!!). Diriwayatkan dalam sebuah hadits (maaf ya kalo salah tlg direvisi) tersebutlah ada seseorang yag mau menjalankan ibadah haji, tentunya setelah menabung sekian lama dan niatnya yg sudah membara. Akan tetapi ketika musim haji tiba dan dia mau berangkat…. ada sesuatu yg membuat bigung. Niat mau haji yg sudah sekian lama dan biaya yg dia kumpulkan membulatkan tekadnya untuk berangkat menunaikan ibadah haji, tetapi tiba2 langkahnya terhenti lantaran ada tetangganya/ rekannya/ kawannya yg sedang menderita sakit parah dan berharap adanya bantuan…., Singkatnya si calhat ini secara ichlas memberikan bekal hajinya utk membantu rekan/ tetangga yg sakit dan tdk bs berangkat haji pd musim haji tsb…. Menurut kisah tersebut ketika clhat yg tdk jd berangkat haji pulang …. bertemu orang tua (menurut cerita Malaikat Jibril yg menyamar) mengucapkan “selamat” anda “mabrur”……

    Apa yg dapat kita petik dari riwayat ini?? mudah2 kita semua menjadi orang yg mabrur…. walau kita belum sempat menginjak tanah suci Makkah Almukarohmah……

    Salam saya buat rekan2 semua terutama Mas Edy dan Ustad Mustadisyam….

    wld

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *