Blackhole

mustadiRenungan Jumat oleh Mustadihisyam

Para astronom meyakini sebagian besar (mungkin 90% atau lebih) materi di alam semesta tidak terdeteksi dengan teleskop besar sekalipun. Itulah yang dinamakan dark matter (materi gelap). Mereka tidak tampak, walaupun diyakini keberadaanya secara tidak langsung.

Salah satu kelompok materi gelap itu adalah black hole, yang diyakini ada di pusat galaksi. Black hole itu super amat sangat padatnya, hingga gravitasinya luar biasa besarnya. Cahaya pun tertarik oleh medan gravitasinya. Bila ada bintang yang berdekatan dengannya, materinya akan tersedot oleh black hole.

Black hole bisa terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak sebagai supernova. Bagian luarnya tampak hancur berhamburan ke luar, tetapi intinya memadat ke dalam. Kepadatan black hole dapat diumpamakan bila bola matahari yang berdiameter 1,4 juta km (109 kali diameter bumi) dan bermassa 2 milyar milyar milyar (dengan 27 angka nol) ton dimampatkan hingga diameternya hanya 3 km.

Dalam dimensi sosial, fenomena seperti itu juga ada dan harus mejadi perhatian para pemimpin dalam segala tingkatan. Apa yang dikenal sebagai the silent majority, mayoritas yang diam, mirip dengan dark matter di alam semesta. Jumlahnya mayoritas, tetapi tidak terdeteksi suara atau sikapnya yang sebenarnya. Mungkin karena takut, pasrah, atau tak peduli.

Di antara yang diam itu ada yang seperti black hole. Punya kekuatan besar, tetapi tidak tampak. Mungkin terbentuk dari tokoh raksasa yang telah runtuh. Mungkin juga dari orang biasa. Tetapi ciri utama fenomena seperti black hole itu adalah perasaan teraniaya dan sakit hati. Perasaan orang tidak tampak. Tetapi kekuatan orang yang teraniaya dan sakit hati itu sangat luar biasa.

Allah memberi hak kepada orang yang teraniaya untuk membalas secara setimpal dan berjanji akan menolongnya. Dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya (QS 22:60). Bahkan ucapan kasar pun diizinkan bagi mereka ketika membela diri: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (QS 4:148). Pembalasan orang teraniaya bukan dosa, justru dosanya terletak pada penganiayanya (QS 42:41-42).

Allah dan Rasul-Nya menjamin bahwa orang yang teraniaya akan diberi hak khusus, tanpa memandang agama mereka. Ketika Muadz diutus menjadi gubernur Yaman, Nabi berpesan bahwa dia akan menghadapi kaum ahli kitab (Nasrani atau Yahudi). Di samping pesan da”wah, Rasulullah berpesan agar masalah hak asasi kaum ahli kitab tersebut diperhatikan sungguh-sungguh. “Jagalah harta mereka dan takutlah doa orang yang teraniaya, karena tidak ada pembatas antara doa mereka dengan Allah.” (HR Bukhari-Musim).

Ibarat black hole, kelak mereka pun dapat menyedot keutamaan para penganiayanya. Nabi berpesan: “Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang pada hari qiyamat berbekal pahala shalat, puasa, dan zakatnya. Tetapi suka mencaci, menuduh, dan memakan harta orang lain serta menumpahkan darah dan memukul orang. Maka pahalanya diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang teraniaya itu, sedangkan pahalanya tak cukup membayarnya hingga dosa orang yang teraniaya yang ditimpakan kepadanya,  ia masuk neraka.” (HR Bukhari-Muslim).

Berhati-hatilah dalam bersikap dan bertutur kata. Bila tidak, berarti kita telah menciptakan sekian banyak black hole di sekitar kita. Ancaman bahaya di dunia dan di akhirat telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya.

Wassalam !

Comment (7)

  • Bambang Soesatyo| July 25, 2009

    Bagus mas, artikelnya, menambah inspirasi baru bagi kita. Matur nuwun pak ustadz M.

  • diah karmiyati| July 25, 2009

    Pak Must,

    Menurutku masalahnya adalah pada tolok ukur penganiayaan itu sendiri. Orang pasti sangat subyektif dalam merasakan seberapa besar dirinya teraniaya. Bisa saja seseorang merasa sangat teraniaya, sementara menurut ukuran orang lain dgn dasar kesepakatan orang banyak dan nilai2 religi pada umumnya (objektif dalam kaca mata manusia), mungkin itu bukan aniaya. Ini bisa terjadi dalam skala individu maupun kelompok. Pertanyaannya sejauh mana kita dibolehkan untuk membalas aniaya, kalau selama ini penghayatan aniaya adalah dari kacamata manusia?

    Tapi saya sepakat bahwa we must do the best bagi kamanungsan dalam rangka tugas kita sebagai khalifah fil ard..

    Suwun pak Must.

  • ady s| July 25, 2009

    Wah ora kencan kok ya padha ulasane jeng.

    Lan sing penting meneh isa kanggo tambah referensi, yen awake dhewe wis dielingke “aja nganti mencabik-cabik Al Qur’an”. Lan maneh nafsu sing neng njerone awake dhewe sing marahi “rumangsa” kuwi sing ndadekake… istilahe jeng Diah “obyektif dlm kaca mata manusia”, dadi durung saka kersane Sing Gawe Urip, lagi tataran saka karepe Nafsu. Kecuali yen awake dhewe wis “diresiki” sing Gawe Urip kaya disimbulke rikala Kangjeng Nabi Muhammad saw dibelek jajane sing artine Daya Kekuasaan Gusti Kang Maha Kawasa wis jumeneng neng Bait ALLAH sing neng njerone awake dhewe2 lan tansah NUNTUN awake dhewe, kuwi wis ora ndadekake obyektif dlm kaca mata manusia.

    Mbokmenawa ngono kuwi sing dikersake Sing Gawe Urip.

  • Diah| July 25, 2009

    Dadi sing paling penting kudu tansah ngupaya amrih bisa caket mring Gusti Allah ya.. Ora sah nggoleki salahe liyan tumrap awake dhewe..(wah ketularan Ady ki..)

  • zainuddinfs| July 26, 2009

    Wah konco2 iki ternyata ngelmune sdh duwuur2, itu menandakan semua sudah siap kapanpun dan dimanapun “yang memiliki kita” akan memanggil, alhamdulillah, semoga kita semua dipertemukan oleh Gusti Allah di sorgaNYA, amiiiin

  • Diah| July 26, 2009

    Amiin yaa rabbal’alamiin….

  • Ummu shofiyya kasmaji 2000| March 4, 2010

    Nderek comment nggih. Ada artikel menarik tentang kesabaran ketika kita teraniaya. Bisa dibaca di artikel “tips melatih kesabaran” di : muslim.or.id. Tidak mesti membalas pnganiayaan yg kita terima adalah pilihan trbaik. Kita justru dianjurkan utk memaafkan,krn menjadi pemaaf akan makin menambah kemuliaan kita. Pembalasan yang “setimpal” juga sangat relatif,tdk ada ukuran yg pasti, karena biasanya manusia hanya menggunakan hawa nafsunya ketika membalas, sehingga balasan yg diberikan lebih besar dari yg ia peroleh

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *