Dhawuhe Ramane Ira Sumarah

ira2Oleh Ira Sumarah
via WhatsApp Group
1 Oktober 2016

.

.

Almarhum Kêng Rama mbiyèn naté wêling, “Wuk ana 3 jenis manungsa sing kudu mbok mangêrtèni.”papi

  • Sepisan sing madhêp mantêp ndhèrèk Gusti. Sadhar mênawa dhèwèké kuwi mung titah kang ngganêpi rêncana Allah nganti paripurnaning ndonya. Mula manungsa kang sepisan iki, wêdi banget tumindak dosa, tansah mituhu dhawuhing Gusti minangka Qur’an lan Hadist. Uripé tansah manêmbah, nyambut gawé lan tumindak, dhasaré ibadah. Mulane adoh saka sêrakah, maksiat, apa manèh ngunggul-unggulké awaké dhéwé.
  • Manungsa sing kapindo sinêbat jalma antara. Wedi dosa ning seneng kadonyan. Mulané bingung, kadhang nggênah, kadhang melu tumindak kang ala. Manungsa kapindho iki biasané munafik. Beda ngarêp lan mburiné. Mulané pinter ndhêlikaké tumindak/barang alané. Uripé kakèhan apus-apusané, ben ra konangan sêjatiné. Manungsa kapindho iki mênawa bisa diélingké manungsa sepisan mau banjur ngibadah sing bênêr. Tobat nasuha. Muga-muga isih bisa husnul khotimah. Waton bênêr ora ngambah barang kang ala mau.
  • Sing paling mêdèni kuwi manungsa kaping têlu. Iki wis niat dadi balané iblis. Kabèh paugêraning Gusti ditabrak. Kadonyané kênthêl. Suwéning-suwé nganggêp dhiri pribadhiné kaya Gusti. Gila sanjungan, dhêmên pengalêm, têgêl lan mêntala mring sapadha-padhaning urip, mêrga ukuran salah lan bênêr dhèwèké sing ngatur.

Eling terus dhawuhé Kêng Rama yo Wuk, têngêranmu Sumarah, pasrah mring karsaning Allah.

====================

papi

*Ira nek ngaturi Ramane = Papi.

Masya Allah atau Subhanallah?

[Prawacana] Banyak artikel bagus beredar secara broadcast di media sosial. Mungkin telah Anda tandai pula sebagaistarred message(s) di WhatsApp. Kami mengumpulkannya dalam satu kategori “Brodkes Sosmed” agar memudahkan saat ingin membaca kembali.

Oleh: K. H. Muhammad Arifin Ilham

Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”.
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita MERASA KAGUM.
Ucapkan “Subhanallah” jika MELIHAT KEBURUKAN.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan “Subhanallah” (Mahasuci Allah dari keburukan demikian), tertukar dengan ungkapan “Masya Allah” (Hal itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan “Subhanallah”. Padahal, seharusnya kita mengucapkan “Masya Allah” yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan “Subhanallah” tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan “Subhanallah” (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaanNya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

Allah Swt berfirman:

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan “Subhanallah” sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Saw berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah SAW.

Beliau bersabda:

‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’
Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu Anda sekalian dalam keadaan junub”. Rasulullah Saw bersabda: “Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.”
(HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah.

Wallahu a’lam bish-shawabi.


*Diteruskan kembali oleh Djoko Suhardijarko – Grup WA Kasmaji81 (03/10/2016) dari kamar sebelah (sumber “Riba Crisis Centre”).

Membongkar Hati

fahmiOleh Fahmi Alkaf (eks 3 IPA 4)

Ucapan baik berupa pujian, syukur, keterkejutan sampai jeritan tauhid yang super murni seperti… “Alhamdulillah”… “syukur ya Allah”… “MasyaAllah”“Subhanallah”“Astaghfirullah” sampai “Allahu Akbar..!!” semua itu sesuai anjuran sangat baik serta mengandung makna yang dalam dan luas.

Bagi pengucapnya itu bisa menjadi bimbingan ke jenjang ruhani yang lebih tinggi, namun di sisi lain bisa saja merupakan kebiasaan tanpa makna yang pada kondisi tertentu bisa memupuk rasa ujub dan sombong yang sangat bertentangan dengan maksud isi ucapannya.

Alhamdulillah, misalnya. Ucapan tersebut mengembalikan dan mengingatkan pengucapnya bahwa pujian itu semuanya tak layak untuk siapa pun dan hanya Allah yang patut dipuji. Namun, kadang pengucapnya malah merasa setelah mengucap Alhamdulillah dia merasa paling dekat dengan Allah, merasa lebih agamis dibanding yang lain, lebih tawadhu, lebih dicintai Allah…dst. Penyakit ujub mulai menjangkitinya.

Contoh lain ucapan takbir –Allahu Akbar– yang pada maknanya menyadarkan si pengucapnya pada Kebesaran Allah dan yang lain adalah kecil sehingga tercerminlah sikap tawadhu merendah dan takut pada kebesaran Allah. Namun sering terjadi dengan mengucap takbir “Allahu Akbar” perasaan percaya diri bahwa yang saya lakukan benar, di jalan Allah, paling benar yang lain salah, kita harus istiqomah karena kita sedang berjuang di jalan Allah, kita penegak kebenaran, dst..dst.. sampai yg ekstreem perasaan bahwa saya sekarang sudah kuat dan besar karena dekat dengan Allah, memperjuangkan jalan Allah…..

Takbir… “Allahu Akbar..!!” dari penyadaran atas ke Mahabesaran Allah berubah menjadi ke maha-banggaan diri atas perasaan ada pada jalan kebenaran. Penyakit ujub hingga takabbur kembali menjangkiti lagi.

Begitu juga dengan perilaku perilaku yang menunjukan sikap tawadhu. Berjalan menunduk, selalu terlihat sedih, senyum-senyum tertahan campur sedih, cara berjalan sampai ucapan-ucapan… antumalfaqirsaya yang hina…dst., pada dasarnya semua itu merupakan perilaku kebaikan yang memang dianjurkan.

Namun hakekat manusia itu adalah hatinya… niatnya.. ruhnya… yang merupakan pengendali semua aktifitas dan perilakunya. Boleh jadi perilakunya sudah baik, tapi di tengah jalan dibelokkan oleh ujub atau kibr. Saat memulai niatnya baik namun di tengah terkena godaan yang mengubah niat 180 derajat. Atau sebaliknya, perilakunya tidak sedap namun hati dan niatnya harum baunya.

Yang terbaik adalah kedua-duanya tetap istiqomah di jalan kebaikan. Hanya dengan latihan setiap hari ruhani kita dapat tetap konsisten. Seperti senam dan olah raga rutin yang dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, begitu juga dengan kesehatan dan kebugaran ruhani perlu terus dilatih dan diolah secara rutin.

Sarananya sudah diajarkan oleh agama, hanya penghayatannya memerlukan niat dan kemauan yang teguh dari dalam diri sendiri. Yang penting mau dan usaha sungguh-sungguh Insya Allah ada yg membantu. Allah… MalaikatNya… Nabi…. Orang Suci…. dan Para pendahulu yang telah sampai di sana.

Salam terus saling mengingatkan..!!