Kisah keranjang air

[Prawacana] Banyak artikel bagus beredar secara broadcast di media sosial. Mungkin telah Anda tandai pula sebagai starred message(s) di WhatsApp. Kami mengumpulkannya dalam satu kategori “Brodkes Sosmed” agar memudahkan saat ingin membaca kembali.

Dikisahkan ada seorang pemuda bertanya kepada ustadznya: “Ustadz, apa gunanya aku membaca Al-Qur’an, sementara aku tidak mengerti arti dan maksud dari Al-Qur’an yang aku baca.”

Lalu sang ustadz menjawabnya dengan tenang: “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai. Bawakan aku sekeranjang air.”

Pemuda itu mengerjakan seperti yg diperintahkan ustadznya, tapi semua air yg dibawanya habis sebelum ia sampai di rumah.

Ustadznya berkata: “Kamu harus berusaha lebih cepat.”

Ustadz meminta pemuda itu kembali ke sungai. Kali ini pemuda itu berlari lebih cepat, tapi lagi keranjangnya kosong (tanpa air) sebelum sampai di rumah.

Dia berkata kepada ustadznya: “Tidak mungkin bisa membawa sekeranjang air. Aku ingin menggantinya dengan ember ya?“

“Aku ingin sekeranjang air, bukan dengan ember.” Jawab ustadz.

Si pemuda kembali mencoba, dan berlari lebih cepat lagi. Namun tetap gagal juga. Air tetap habis sebelum ia sampai di rumah. Keranjang itu tetap kosong.

“Ustadz.. Ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Air pasti akan habis di jalan sebelum sampai di rumah.”

Ustadz menjawab: “Mengapa kamu berpikir ini tidak ada gunanya? Coba lihat dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi dengan keranjang itu.”

Pemuda itu memperhatikan keranjangnya, dan ia baru menyadari bahwa keranjangnya yang tadinya kotor, berubah menjadi sebuah keranjang yang BERSIH, luar dan dalam..!

“Muridku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’an? Boleh jadi kamu tidak mengerti sama sekali. Tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu sadari kamu akan berubah lebih baik dan bersih, luar dan dalam. Itulah kasih sayang ALLAH dalam mengubah kehidupanmu…”

Saudaraku…
Tidak ada yang sia-sia ketika kita membaca Al Qur’an. Mari kita lebih sering lagi membacanya. Meski tanpa tahu artinya, namun tentu tetap berusaha untuk memahami artinya… Aamiin Yaa Robbal Alamiin.


*Diteruskan kembali oleh Syam Suharti – Grup WA Kasmaji81 (08/10/2016) 

Dhawuhe Ramane Ira Sumarah

ira2Oleh Ira Sumarah
via WhatsApp Group
1 Oktober 2016

.

.

Almarhum Kêng Rama mbiyèn naté wêling, “Wuk ana 3 jenis manungsa sing kudu mbok mangêrtèni.”papi

  • Sepisan sing madhêp mantêp ndhèrèk Gusti. Sadhar mênawa dhèwèké kuwi mung titah kang ngganêpi rêncana Allah nganti paripurnaning ndonya. Mula manungsa kang sepisan iki, wêdi banget tumindak dosa, tansah mituhu dhawuhing Gusti minangka Qur’an lan Hadist. Uripé tansah manêmbah, nyambut gawé lan tumindak, dhasaré ibadah. Mulane adoh saka sêrakah, maksiat, apa manèh ngunggul-unggulké awaké dhéwé.
  • Manungsa sing kapindo sinêbat jalma antara. Wedi dosa ning seneng kadonyan. Mulané bingung, kadhang nggênah, kadhang melu tumindak kang ala. Manungsa kapindho iki biasané munafik. Beda ngarêp lan mburiné. Mulané pinter ndhêlikaké tumindak/barang alané. Uripé kakèhan apus-apusané, ben ra konangan sêjatiné. Manungsa kapindho iki mênawa bisa diélingké manungsa sepisan mau banjur ngibadah sing bênêr. Tobat nasuha. Muga-muga isih bisa husnul khotimah. Waton bênêr ora ngambah barang kang ala mau.
  • Sing paling mêdèni kuwi manungsa kaping têlu. Iki wis niat dadi balané iblis. Kabèh paugêraning Gusti ditabrak. Kadonyané kênthêl. Suwéning-suwé nganggêp dhiri pribadhiné kaya Gusti. Gila sanjungan, dhêmên pengalêm, têgêl lan mêntala mring sapadha-padhaning urip, mêrga ukuran salah lan bênêr dhèwèké sing ngatur.

Eling terus dhawuhé Kêng Rama yo Wuk, têngêranmu Sumarah, pasrah mring karsaning Allah.

====================

papi

*Ira nek ngaturi Ramane = Papi.

Masya Allah atau Subhanallah?

[Prawacana] Banyak artikel bagus beredar secara broadcast di media sosial. Mungkin telah Anda tandai pula sebagaistarred message(s) di WhatsApp. Kami mengumpulkannya dalam satu kategori “Brodkes Sosmed” agar memudahkan saat ingin membaca kembali.

Oleh: K. H. Muhammad Arifin Ilham

Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”.
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita MERASA KAGUM.
Ucapkan “Subhanallah” jika MELIHAT KEBURUKAN.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan “Subhanallah” (Mahasuci Allah dari keburukan demikian), tertukar dengan ungkapan “Masya Allah” (Hal itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan “Subhanallah”. Padahal, seharusnya kita mengucapkan “Masya Allah” yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan “Subhanallah” tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan “Subhanallah” (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaanNya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

Allah Swt berfirman:

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan “Subhanallah” sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Saw berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah SAW.

Beliau bersabda:

‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’
Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu Anda sekalian dalam keadaan junub”. Rasulullah Saw bersabda: “Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.”
(HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah.

Wallahu a’lam bish-shawabi.


*Diteruskan kembali oleh Djoko Suhardijarko – Grup WA Kasmaji81 (03/10/2016) dari kamar sebelah (sumber “Riba Crisis Centre”).