Wahyu Cakraningrat

mama iraOleh Ira Sumarah Hartati Kusumastuti 

Paras Ratu Banowati memucat saat prabu Duryudana bersabda, bahwa dia menerima kehamilan Banowati dengan keragu-raguan. Kecemburuannya pada kemesraan Banowati dengan Arjuna, membuatnya mengeluarkan supata : “Diajeng ratuku, camkan ini!¬†Aku tidak mendahului kehendak Hyang Tunggal, tapi perhatikan kata-kataku… jika bayimu kelak lahir sebagai seorang putri, maka itu adalah anak Arjuna pacar gelapmu, dan bayi itu akan langsung aku bunuh. Tapi, kalau bayimu lahir sebagai anak laki-laki, maka dia adalah buah cinta kasih kita dan aku akan mengasihinya serta menjadikannya sebagai Putra Mahkota Hastinapura.” Continue reading “Wahyu Cakraningrat”

Dursala Perlaya

mama iraOleh Ira Sumarah Hartati Kusumastuti

Suara gonggongan anjing dan ringkik kuda yang bersahut-sahutan di Hastinapura seakan berlomba-lomba dengan gelak tawa ksatria tinggi besar yang sedang mabuk-mabukkan dengan paman-pamannya…Ksatria itu bernama Dursala.

Dursala adalah putera Dursasana dengan Dewi Saltani. Seperti ayahnya,Dursala juga kurang memperhatikan sopan santun.Sering bertindak sewenang-wenang terhadap orang yang lebih lemah dan selalu menang sendiri.Sikap tidak terpuji ini sudah muncul sejak ia masih kecil,dan makin menjadi setelah ia dewasa,karena ayahnya bukannya menegur,tapi justru seolah-olah menyuruh.Walaupun pada dirinya melekat sifat-sifat buruk itu,Dursala tergolong tekun dalam menuntut ilmu kesaktian. Ia pernah berguru pada Begawan Pisyaca,seorang pendeta berujud raksasa,yang memberinya ilmu Aji Kundala Geni (Aji Gineng) yang akan meremukkan batu yang di hantam, dia juga berguru pada Begawan Durna dan berlatih menggunakan gada dengan Baladewa. Saat pangeran muda ini sedang mabuk-2an datanglah Sengkuni menyampaikan pesan Duryudana .. Continue reading “Dursala Perlaya”