Menawarkan Kemandirian Teknologi

Artikel dikutip dari Harian Kompas, 15 September 2015 mengupas PT. Technology and Engineering Simulation (TES), perusahaan teman kita Didik Rusdarmaji.


Menawarkan Kemandirian Teknologi

oleh CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Di dalam kokpit pesawat tempur bertuliskan F-16, mata minus Ricky Wiradisurya (40) tajam menghadap angkasa di atas kota tanpa nama, awal September 2015. Kedua tangannya sibuk mengendalikan alat kontrol pesawat. “Kontrol pesawat ini sangat responsif. Cara mengemudikannya harus cermat apabila ingin memaksimalkan kekuatan pesawat ini,” katanya.

pt tes
Awak PT Technology and Engineering Simulation (TES) melakukan simulasi terbang menggunakan simulator pesawat tempur F-16 di Bandung, Jawa Barat, awal September 2015. PT TES menjadi salah satu perusahaan swasta di bidang pertahanan yang memproduksi simulator dan produknya telah digunakan di dalam dan luar negeri.

Ricky bukan pilot pesawat tempur sebenarnya. Bagian pesawat F-16 yang dikemudikannya hanya setengah moncong dan ruang kemudi. Pemandangan kota juga adalah rupa digital yang terpampang dalam layar lebar cembung.

“Ini simulator pesawat tempur F-16. Karena dibuat mirip aslinya, secara teknis saya mungkin bisa mengemudikan pesawat sebenarnya. Namun, tentu tidak diizinkan karena tidak punya lisensi dan jam terbang khusus,” katanya.

Simulator F-16 adalah satu dari beberapa simulator alat tempur yang dibuat PT Technology and Engineering Simulation (PT TES) Bandung, Jawa Barat. Ricky adalah satu dari beberapa tim pembuat simulator F-16 dari perusahaan industri pertahanan di Lembang ini.

“Simulator F-16 ini sedang dalam tahap pengujian sebelum nantinya akan diserahkan kepada TNI Angkatan Udara. Kami juga tengah mendalami penjajakan konten lokal untuk Sukhoi,” ujar Direktur PT TES Deny Isnanto.

Deny yakin simulator buatan anak negeri memiliki masa depan cerah. Negara pengguna bisa menghemat biaya pengadaan alat tempur, menjamin keamanan personel tempur saat melatih, hingga mengurangi ketergantungan teknologi dari negara lain. “Negara yang kuat di sektor pertahanan tempurnya jarang menggunakan alat tempur sebenarnya untuk latihan. Simulator jadi solusi menyiapkan diri lebih tangguh,” katanya.

PT TES didirikan tahun 2004 oleh beberapa mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia (DI), jejak PT TES lebih dulu dikenal di Malaysia. Saat banyak kalangan dalam negeri belum percaya, Pemerintah Malaysia menyediakan dana riset meningkatkan kualitas simulator pesawat tempur Hawk tahun 2006 dan diikuti simulator tank ACV300.

“Malaysia mengenal keunggulan produk Indonesia lewat simulator CN-235 buatan PT Dirgantara Indonesia tahun 2004,” kata Deny yang pernah menjabat Manager Simulation Technology PT DI.

Kepercayaan itu memicu TNI menggunakan teknologi yang sama beberapa tahun kemudian. PT TES diminta membuat simulator bagi Hawk, simulator helikopter Super Puma NAS 332, serta helikopter Bell 412. Selain itu ada juga simulator multikendaraan tempur (multiranpur) untuk tank FV101 Scorpion dan AMX 13. “Keberadaan simulator multiranpur ini lebih hemat biaya. Satu simulator bisa digunakan untuk dua kendaraan tempur,” katanya.

Deny yakin kualitas teknologi simulator buatan Bandung ini tak kalah dari produsen Kanada, Inggris, Perancis, dan Rusia. Satu-satunya perbedaan hanya dalam besaran omzet perusahaan. “Kami siap bersaing. Dengan kualitas seimbang, harganya 25 persen lebih murah,” katanya.

Menurut Deny, produk yang dibuat tidak semata-mata bicara seputar keuntungan finansial. Pemerintah bisa menyelamatkan masa depan apabila mendukung produksi dalam negeri.

Dia mencontohkan kemampuan anak-anak muda Indonesia yang bekerja di PT TES. Saat ini, sebanyak 50 orang dari 70 karyawan berusia di bawah 40 tahun. Ketimbang menerima tawaran dari luar negeri, anak muda itu memilih berkarya di Tanah Air sendiri.

Mandiri

Semangat yang sama ditunjukkan Robert Bessie (35) dan Ricardo Pandiangan (27) saat menguji kemampuan pesawat terbang nirawak (UAV) baling-baling yang dibuat Uavindo, perusahaan swasta bidang pertahanan di Bandung, tempat keduanya bekerja.

Empat baling-balingnya diperiksa satu per satu. Perangkat lunak hingga sambungan antarkabel yang dipasang melilit tubuh UAV yang masuk kategori berteknologi menengah hingga tinggi itu. Dengan kecepatan 15 meter per detik, banyak hal bisa dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan hingga pemantauan beragam kondisi dari udara.

Direktur Uavindo Djoko Sardjadi mengatakan, UAV baling-baling adalah satu dari beberapa UAV yang dibuat Uavindo. Mirip dengan PT TES, produk Uavindo lebih dikenal di luar negeri. Di Jepang, Uavindo ikut membantu Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) Universitas Chiba di Jepang membangun pesawat tanpa awak JX-1. Pesawat ini ikut membantu JMRSL melakukan penginderaan jarak berbasis gelombang mikro.

“Alat ini juga bisa dikembangkan untuk pemetaan di Indonesia, mulai dari potensi sumber daya alam, kewilayahan, hingga pemetaan areal rawan kebakaran hutan,” katanya.

Di Universitas King Fahd, Arab Saudi, karya Uavindo berupa terowongan angin (wind tunnel) untuk pengujian aerodinamika juga digunakan. Kini, Uavindo diajak memperbarui terowongan udara di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Terowongan ini diproyeksikan menguji pesawat buatan PT DI, N-219.

Produk buatan anak negeri itu juga bisa menghemat pengeluaran negara. Ronald Bessie, Direktur Operasional Uavindo, mengatakan, pihaknya sudah dibuktikan lewat mobil Mata Garuda yang kini dimanfaatkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Mata Garuda dijejali teknologi mutakhir, mulai dari sensor topografi dan inersial hingga kamera resolusi tinggi. “Teknologi ini akurat menentukan titik mana yang rusak dan perbaikan apa yang harus dilakukan. Cara ini jelas menghemat anggaran perbaikan jalan,” ujarnya.

Seperti belum cukup, sektor pengembangan minat pendidikan dunia penerbangan yang terinspirasi dari teknologi pertahanan juga bisa coba direbut lewat penerapan simulator terjun bebas (skydiving tunnel).

Teknologi itu sudah diterapkan di Australia dan Singapura. Di balik penyediaan wahana itu untuk rekreasi, kemungkinan besar ada misi besar yang ingin dicapai, memupuk kecintaan pada pengembangan teknologi penerbangan ke depan. “Kami sudah memulainya dengan membuat teknologi simulator terjun bebas untuk Komando Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung Barat,” katanya.

Indonesia punya anak-anak bangsa yang piawai menguasainya. Giliran pemerintah yang menentukan pilihan, berdiri bersama mereka atau bergantung kepada bangsa lain.

dr Wikan Tempuh Yogya-Solo Tiap Hari

wikanJakarta, Tetap ingin menjalani profesinya sebagai dokter dan melayani pasien, namun juga ingin berbagi ilmu pada mahasiswa-mahasiswanya, dr Wikan Basworo, SpF* tak mengeluh harus menempuh perjalanan Yogyakarta-Solo setiap hari. Bagaimana kisahnya?

dr Wikan merupakan pemilik klinik perorangan dan pengelola dari Paguyuban Diabetes Melitus Surakarta (Padimas) untuk Prolanis alias Program Pengelolaan Penyakit Kronis, yakni untuk pasien diabetes dan hipertensi. Ia praktik sebagai dokter umum di klinik tersebut, namun juga aktif mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM).

“Saya praktik pagi jam 6 sampai jam 8, lalu mengajar, kemudian nanti sore setelah Maghrib saya praktik lagi sampai waktu yang tak terbatas. Kadang bisa sampai jam 11 malam,” ujar dr Wikan saat berbincang dengan detikHealth di Media Center Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jl Letjend Suprapto, Cempaka Putih, Jumat (10/10/2014).

Praktik sampai malam ini disebutkan dr Wikan semata-mata karena ia tak membatasi waktu konsultasi setiap pasien yang datang padanya. Lamanya waktu konsultasi harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

Dokter yang kini berusia 53 tahun dan memiliki tiga orang anak ini mengaku tak masalah menjalani aktivitas seperti itu setiap hari. Ia sangat menikmati perannya sebagai dokter dan dosen, yang dapat melayani pasien namun juga bisa berbagi ilmu pada mahasiswa-mahasiswanya.

Menceritakan kisah pembentukan Padimas, dr Wikan menceritakan awalnya ia melihat pasien yang datang ke kliniknya mayoritas adalah diabetes dan hipertensi. Ia kemudian berinisiatif untuk mengundang para warga dan penyandang untuk membentuk kegiatan bersama-sama.

“Mereka inisiatif mau kegiatan apa. Nama Padimas itu juga inisiatif anggota. Dibentuk susunan anggota. Saya inisiasi dari belakang. Yang pasti saya setiap kegiatan pasti sempatkan hadir. Biasanya kegiatan kami dilakukan hari Minggu jam 6 pagi, aktivitasnya mulai dari senam, edukasi, pemberian testimoni, bahkan sampai bernyanyi-nyanyi,” lanjutnya.

Dokter kelahiran Purworejo, 19 September 1961 ini juga berpesan agar masyarakat selalu mengendalikan pola makan dan tetap rajin berolahraga. Sebab dua hal inilah yang memegang peranan penting untuk mengendalikan komplikasi jantung dan diabetes melitus.

“Yang penting sekarang kan menjaga kesehatan, bukan mengobati,” imbuh dokter lulusan FK UGM tersebut. (ajg/vit)

*dr. Wikan Basworo, eks 3-IPA-4

sumber artikel: detik health, 10-10-2014

Edy Meiyanto menangkan RSKA 2014

4247-dosen-ugm-kombinasikan-3-senyawa-kurkumin-untuk-anti-kanker

Dosen Fakultas Farmasi UGM Prof. Dr. Edy Meiyanto, Apt., M.Si., terpilih sebagai pemenang pertama kategori penelitian terbaik dalam kompetisi Ristek-Kalbe Science Award (RSKA) di bidang life sciences dan teknologi bidang kesehatan. Penghargaan berhasil diperolehnya setelah sebelumnya berhasil masuk 10 finalis menyisihkan 176 peneliti dari berbagai lembaga di Indonesia. Penghargaan diserahkan secara langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, Minggu, 14 September 2014 kemarin di Jakarta.

Edy Meiyanto berhasil meraih penghargaan dengan mengajukan hasil penelitian tentang analog kurkumin sebagai agen anti kanker kombinasi yang efektif. Sejak tahun 2001 silam ia bersama tim di Cancer Cemoprevention Research Center (CCRC) Fakultas Farmasi memanfaatkan tiga senyawa hasil pengembangan penelitian di Fakultas Farmasi UGM sebagai agen anti kanker. Adalah senyawa kurkumin yang terkandung dalam kunyit dikombinasikan dengan Penta Gama Vunon-0 (PGV-0) dan Penta Gama Vunon-1(PGV-1). Sebelumnya ketiga senyawa tersebut telah dikembangkan oleh para peneliti di Fakultas Farmasi UGM sebagai agen anti inflamasi yang terbukti efektif menekan peradangan.

Dari penelitian yang dilakukan pada jaringan yang terkena kanker payudara positif HER-2 diketahui kombinasi ketiga senyawa tersebut mampu menekan pertumbuhan sel kanker hingga 80-95 persen. Seperti diketahui kurkumin memiliki sifat sebagai agen anti kanker. Sementara PGV-0 yang merupakan senyawa hasil modifikasi kurkumin bisa menghambat perkembangan sel kanker. Sedangkan PGV-1 memiliki potensi untuk memacu sinyal pertumbuhan sel.

“Dari uji coba in-vitro (skala laboratorium) hasilnya kombinasi ketiga senyawa tersebut efektif membunuh sel kanker. Di satu sisi senyawa potensial sebagai eksekutor kematian sel kanker, sementara di sisi lainnya senyawa yang lain memacu sinyal pertumbuhan,” paparnya saat di temui di ruang kerjanya di CCRC Fakultas Farmasi UGM, Jumat (19/9).

Kini, ia bersama peneliti di CCRC UGM tengah berupaya mengeksplorasi mekanisme agen anti kanker yang lebih pasti. Dilanjutkan dengan melakukan uji coba pada hewan. “Tak hanya itu ke depan juga akan dilakukan eksplorasi terhadap penyebaran sel kanker ke jaringan lain,” ungkapnya. (Humas UGM/Ika)

Artikel dikutip dari sini