Isra Mi’raj

Pada umumnya, umat Islam sedikit banyak sudah mengetahui bahwa dari peristiwa Isra Mi’raj inilah mandat kewajiban shalat wajib lima waktu bagi umat Islam dimulai.

Dalam sehari semalam, umat Islam diwajibkan melakukan shalat Subuh dua rakaat, shalat Zhuhur pada waktu siang sebanyak empat rakaat, salat Ashar empat rakaat pada waktu sore, shalat Maghrib tiga rakaat pada waktu petang, dan diikuti shalat Isya’ pada malam harinya sebanyak empat rakaat.

Read More

Harmoni dalam Perbedaan

Andaikan tuts piano berwarna hitam atau putih semua, pasti tidak akan terdengar suara yang mengalun indah darinya. Bila lukisan itu hanya satu warna pasti akan kurang menarik, atau bila lagu tidak memiliki nada yang berbeda pasti akan terasa hambar di telinga. Bila alam ini hanya memiliki satu warna, tentu kita tidak akan pernah mengenal arti keindahan, dan bila rasa itu hanya satu, pastinya kita takkan pernah merasakan nikmat itu apa. Atau hal yang paling ekstrim, bila semua manusia dilahirkan dengan bentuk dan rupa yang sama, tentu kita tidak akan pernah merasakan indahnya CINTA!

Read More

Sabar

Kata “Sabar” sudah tak asing bagi kita, hanya satu kata tapi susah untuk diterapkan dalam persoalan hidup. Padahal Allah mensejajarkan sabar dan sholat sebagai kewajiban kita “Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu” (QS Al-Baqarah: 45 &153).

Terus terang banyak diantara kita yg sangat hati-hati menjaga sholatnya, namun di sisi lain adakalanya kita tak pernah merasa berdosa saat “tidak sabar” terhadap sebuah masalah. Padahal kunci masuk dilimpahkanya sifat-sifat yang baik dari Allah adalah sabar.

Read More

Mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang

Assalamualaikum wr.wb,

Saudaraku, orang yang paling beruntung dalam hidup ini adalah orang yang berhasil mengenal Allah. Semua kenikmatan ini kecil dibandingkan dengan nikmatnya mengenal Allah. Orang yang tidak mengenal Allah akan selalu meributkan masalah dunia, sampai-sampai dia mau mengorbankan kehormatan dan harga dirinya. Maka, marilah kita bersungguh-sungguh menuju Allah. Dalam Hadits Qudsi disebutkan, jika seorang hamba mendekat sejengkal maka Allah akan mendekat sedepa, jika mendekat sedepa maka Allah sehasta, jika kita berjalan kepada-Nya maka Allah akan berlari mendekati hambanya.

Kita semua berkesempatan dekat dengan Allah. Caranya lakukan dan sempurnakan pengabdian sekecil apapun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, kalau kita tidak bisa melakukan yang besar. Mulailah dengan yang kecil-kecil seperti sholat tepat waktu. Begitu terdengar suara adzan, segeralah ambil air wudhu dan kerjakan sholat. Usahakan sholat berjamaah di masjid karena masjid itu rumah Allah, pintu rahmat selalu terbuka.

Selalu menjaga kerapian sholat dan cari shaf yang paling depan, para sahabat Rasulullah bahkan diriwayatkan selalu berebut shaf terdepan. Marilah kita perbaiki sholat kita, dimulai wudhu dengan nikmat, berdzikir atau baca Alquran sambil menunggu iqomat. Rasakan kenikmatan ketika sholat. Ketika keluar masjid dahulukan para orangtua. Ketika kita duduk di kendaraan umum ada seorang ibu hamil berdiri, kita persilakan beliau duduk dengan ikhlas karena Allah.

Daripada termenung di atas kereta, kita bisa membaca Alquran di smartphone. Sebelum tidur berwudhu dan berdoa dahulu, siapa tahu malam itu malam terakhir.  Bangun tidur bersyukurlah karena telah dibangunkan oleh Allah di perempat malam dengan melakukan sholat tahajud selagi orang lain tertidur nyenyak. Ketika akan makan, syukuri nikmat tersebut dengan mengingat Allah. Ketika membuka almari pakaian, bersyukurlah karena kita diberikan rizki bisa membeli pakaian, dan berdoa semoga pakaian ini tidak menjadikan kita menjadi sombong.

Marilah kita dekati Allah dengan yang kecil-kecil dulu, sebelum bisa mengerjakan yang besar. Karena yang besar itu rangkaian dari yang kecil-kecil. Jangan sempatkan hati ini penuh kebencian, karena setiap kita punya musuh kotorlah hati kita. Jangan awali sesuatu dengan kebencian.

Wallahu A’lam Bish – Shawabi.

Wassalamu’alaikum
Mustadi

Malam ini malam Nuzulul Quran

Oleh Mustadihisyam (12 Juni 2016/17 Ramadhan 1438H)

Nuzulul Quran yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama tersebut benar-benar menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat muslim. Titah untuk menyebarkan ajaran Ilahi telah resmi dimulai. Tanda-tanda mengenai kebesaran peristiwa ini juga sudah diketahui oleh salah satu pendeta Yahudi ahlul kitab yang bernama Waraqoh bin Naufal, yang setelah mengatahui tentang peristiwa Muhammad di gua Hira’, dia berkata bahwa Muhammad akan menjadi Nabi akhirul zaman.

Setidaknya ada ibrah yang bisa kita ambil dari adanya peristiwa nuzulul Quran ini. Banyak hal yang dapat kita jadikan pelajaran. Mulai dari awal bagaimana peristiwa nuzulul Quran terjadi secara kronologis, bagaimana para keluarga dan orang terdekat menyikapi terjadinya peristiwa, sampai pada apa yang semestinya bisa kita ambil dari adanya peristiwa ini. Yang jelas, nuzulul Quran menjadi momentum bagi umat muslim untuk mengenang kembali proses turunnya kitab suci Alquran untuk pertama kalinya. Kemudian, juga sebagai refleksi kita agar kembali mengkaji lebih dalam Alquran. Kita jadikan sebagai kesempatan untuk menggali nilai-nilai luhur dan jutaan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Perintah membaca yang pertama kali diucapkan oleh malaikat Jibril pada Rasulullah juga mengandung pelajaran yang begitu mendalam. Secara filosofis, perintah tersebut mensiratkan bahwa dalam belajar apapun, hendak selalu didahului dengan membaca. Membaca tidak bisa lepas dari kegiatan belajar mengajar. Inilah yang kemudian menjadi percontohan bagi umat manusia, bahwa ilmu itu selalu diawali dengan mengenalinya terlebih dahulu. Membaca adalah proses langkah awal dalam mempelajari dan mengenali sesuatu.

Makna membaca hendaknya dimaknahi secara luas, tidak hanya sebatas membaca buku atau tulisan saja. Kita mengenali lingkungan dan mengenali alam juga merupakan membaca yang dalam artian luas. Mengenali mahkluk-makhluk dan juga Alam ciptaan Allah SWT. Demikian ibrah yang bisa kita ambil dari adanya nuzulul Quran.

Semoga peristiwa nuzulul Quran tersebut dapat merefleksikan kepada kita mengenai hikmah yang bisa kita ambil, yang kemudian dapat mempertebal keimanan dan ketaqwaan dalam pribadi kita.

Semoga kita tidak hanya pandai membaca Alquran, tetapi lebih dari itu yaitu mampu merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu A’lam Bishawab.

Salam, mustadihisyam