Mampir Ngombe

Oleh Mustadihisyam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Rasulullah mengibaratkan orang hidup itu seperti menyebrang jalan, singkat tapi harus waspada jangan sampai celaka di tengah jalan. Urip sak dermo mampir ngombe kata orang Jawa. Di dalam perjalanan hidup yang jauh ini, yang baru sekali ini kita tempuh, karena sebelumnya kita tak pernah datang ke bumi ini, kita perlu petunjuk supaya tidak tersesat di jalan. Supaya kita bisa sampai seberang jalan dengan selamat, supaya kita bisa menikmati indahnya mampir ngombe.

Read More

Puasa meningkatkan derajat keimanan

Oleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum wwb.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya menjadi orang yang bertaqwa” (QS Al-Baqarah 183)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, apabila suatu ayat didahului dengan panggilan kepada orang yang beriman maka ayat itu mengandung perihal yang sangat penting. Sebab Tuhan Maha Tahu bahwa yang bersedia dipanggil menjalankan perintah itu hanya orang-orang yang beriman, termasuk ibadah puasa. Orang yang merasa ada iman akan bersedia menjalankan perintah Allah dengan segala konsekwensinya. Maka tak heran jika orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan, Allah akan mengangkat derajatnya menjadi orang yang bertaqwa. Derajat orang bertaqwa adalah derajat keimanan yang tertinggi di hadapan Allah.

Ada lima tingkatan derajat keimanan dalam Islam:

Pertama adalah orang Islam (Muslim), yaitu orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji melaksanakan syariat Islam dengan baik, mendirikan sholat, melaksanakan ibadah puasa, membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Inilah tingkatan derajat ketaqwaan yang paling dasar.

Kedua adalah orang beriman (Mukmin), yaitu orang yang betul-betul beriman kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Sesuai dalam QS Al Anfal ayat 2-4: “Sesungguhnya orang Mukmin itu adalah apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah keimanannya, dan mereka bertawakal kepada Allah. Dan mereka mendirikan sholat, serta menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka. Itulah orang yang sebenar-benarnya beriman, bagi mereka itu akan Kami  angkat derajatnya, Kami ampuni dosa-dosanya, dan Kami berikan kepadanya rizqi yang mulia ” .

Ketiga adalah orang yang selalu berbuat baik (Muhsin), yaitu orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tidak mau menyakiti hati orang lain, tutur katanya santun – bicaranya selalu dipikir dulu sebelum diucapkan, tidak pernah mau ingkar janji, selalu menebar kasih sesama mahluk Tuhan, dan jauh dari keburukan.

Keempat adalah orang yang ikhlas dalam menjalankan agama (Mukhlis), yaitu orang yang mau merelakan jiwanya, hartanya, segala sesuatu yang mereka miliki semata-mata untuk berjuang untuk agama Allah dengan ikhlas dan hatinya ridha terhadap ketentuan Allah. Hidupnya senantiasa tak pernah ngresulo (mengeluh) kepasrahannya begitu tinggi. Untuk mencapai derajat ini tentu harus berusaha ibadah yang super keras.

Yang kelima adalah orang yang bertaqwa (Muttaqin), inilah derajat keimanan paling tinggi di sisi Allah dimana manusia telah menjadi insan kamil – orang yang disayang Allah baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kemana mata memandang, Allah selalu tampak mendampinginya, orang ini benar-benar tak mau menghianati hubungannya dengan Allah. Inilah derajat yang diharapkan manusia setelah melaksanakan ibadah puasa dibulan Ramadhan. Orang yang beribadah kepada Allah bukan karena pingin masuk surga dan takut ke neraka, tapi dia beribadah semata-mata karena cintanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi output dari orang menjalankan ibadah puasa adalah insan Muttaqin, orang bertaqwa yang derajat keimanannya paling tinggi, super top.

Semoga Allah memberikan kekuatan iman dan kesehatan sehingga kita dpt melaksanakan ibadah puasa, mengangkat derajat kita menjadi insan Muttaqin.

Wassalamu’alaikum wwb.
Selamat pagi – salam sejahtera.

Menata Hati

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Orang itu merasa enak tidak enak ada di hati. Orang panas yang tidak enak juga hati. Orang kedinginan yang tidak enak juga hati. Dan yang menentukan enak atau tidak enak hati itu kehidupan. Maksudnya, kehidupan kita ini besar sekali ditentukan oleh hati kita. Kehidupan di komunitas apa saja. Kalau hati tidak enak, ya tidak enak. Makan enak lauk enak sampai ke mulut, sampai ke perut tetap yang menentukan hati.

Kita yang menata hati dalam kehidupan. Mengapa? Itu karena, enaknya hati tidak mudah diatur dengan lahiriyah. Enaknya hati diatur oleh yang mempunyai hati. Harta, tahta, wanita termasuk berita. Orang melihat dan membaca berita, enak atau tidak enak, adalah orang yang menata hati. Artinya, orang mau diumpat atau dipuji kalau hatinya tertata tidak akan terpengaruh. Tapi, kalau orang hatinya kotor, dipuji bangga, diumpat juga kesal. Sama saja kalian yang membuat berita mengumpat-umpat orang puas, tapi ternyata yang kalian umpat kebal. Pasti (akan) tambah kesal lagi.

Kita memuji orang, tapi orang yang kita puji cuek, kita kecewa. Itu karena maunya orang yang kita puji suka. Kedua-keduanya yang mengatur adalah kita yang membuat berita. Jadi, hidup di mana saja hati perlu ditata. Jangan minta ditata orang lain.  Contohnya, ingin rumah yang enak, biar hatinya enak. Ingin kendaraannya enak biar hatinya enak. Artinya, pihak lain yang mengatur. Situasi yang enak biar dikira enak, seakan-akan situasi itu sudah enak, kita menjadi enak. Padahal belum tentu.

Mengharapkan sesuatu, ternyata setelah didapatkan biasa saja. Karena yang bermain hati. Jadi, maka kehidupanmu di mana saja, manajemen organisasi yang ada di dalam menunjukan organisasi yang di dalam itu. Hati yang tertata akan membuat dan akan menentukan enak atau tidak enak dan tidak mudah terpengaruh oleh pihak mana saja.

alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikri allaahi alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu

[13:28] (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Memaknai Tobat 

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum wwb

Tobat berasal dari kata taaba yang artinya kembali. Jadi tobat artinya kembali ke jalan Allah setelah melakukan perbuatan dosa. Tobat melibatkan perasaan, perkataan dan perbuatan. Melibatkan perasaan artinya menyesali perbuatan dosa dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Melibatkan perkataan artinya mengungkapkan permohonan ampun kepada Allah dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Dengan perbuatan artinya meninggalkan perbuatan dosa tersebut.

Imam Nawawi membagi tobat ke dalam dua bagian, yaitu tobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah dan tobat dari dosa terhadap sesama manusia.

Untuk yang pertama ada tiga syarat agar tobatnya diterima, yaitu berhenti dari maksiat, menyesal, dan bertekad tidak akan mengulanginya.

Untuk yang kedua, ketiga syarat tadi, ditambah dengan mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi. Caranya bisa dengan minta maaf atau mengembalikan haknya.

Ada tiga cara untuk memaknai tobat.

Pertama, tobat adalah bukti cinta Allah kepada manusia. Allah mencipta dan memelihara manusia dengan landasan rasa kasih sayang.

Salah satu bukti kasih sayang Allah terhadap manusia adalah menganugerahi berbagai macam nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, terhadap orang yang berlumur berdosa sekalipun. Allah SWT pun terus menerus membukakan pintu ampunan bagi mereka asal ia bertobat.

Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, sekiranya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi kemudian kamu bertemu Aku dengan dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula” (HR Tirmidzi).

Kedua, tobat adalah sarana relaksasi (penenangan jiwa) dan perenungan. Setiap orang membutuhkan istirahat. Perjalanan hidup sering membuat jiwa sesak dan penat. Tobat adalah sarana yang tepat untuk berhenti sejenak dari berbagai aktivitas, menjernihkan pikiran, mengevaluasi perjalanan yang telah ditempuh dan mengingat-ingat kembali cita-cita, misi atau tugasnya di muka bumi ini.

Ketiga, tobat sebagai sarana penyucian jiwa. Jiwa manusia memiliki dua kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat jahat. Keduanya silih berganti menguasai jiwa. Ketika ia berbuat baik, tercerahkanlah jiwanya. Hati pun menjadi sehat dan bersih. Tapi ketika berbuat jelek, kotorlah jiwanya. Menurut Rasul, ketika seseorang berbuat jelek, hatinya ternoda dengan satu titik hitam. Saat berulang kali melakukan perbuatan jelek, semakin banyak pula titik hitam itu, sehingga hitamlah jiwa.

Tobat adalah sarana terbaik untuk mensucikannya kembali.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Timbangan Amal

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum wr.wb

Apabila hati manusia masih punya ruang untuk merenungkan dunia ini dan meneliti realita alam, manusia dan kehidupan, akan tergambarlah di hadapannya suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak, realita yang memaksa dirinya untuk berfikir lebih jauh tentang amal perbuatannya. Apabila diamati dengan seksama, roda kehidupan ini bagai kurva normal. Bermula dari tiada, segala makhluk hidup itu kemudian diciptakan Allah. Setelah itu, dia memulai hidupnya dalam ketakberdayaan, mulai merangkak, berdiri dan berjalan, semakin lama semakin meningkat kekuatannya dan akhirnya mencapai puncak. Segera setelah itu, ia mulai menurun sampai akhirnya kembali kepada Pencipta.

Demikian juga kekuasaan, siapa pun yang pernah duduk di singgasana kekuasaan tidak ada yang abadi. Segera setelah itu, dia mencapai puncak kejayaan, tapi sering kali orang lupa bahwa pada saat mencapai puncak kejayaan itulah sebenarnya awal dari kemundurannya. Karena, dunia ini hanya jembatan tempat lewat, bukan keabadian. Dan yang perlu direnungkan, dipahami,. adalah bagaimana pertanggungjawaban perbuatan, sepak terjang kita sewaktu hidup di dunia ini di akhirat kelak. Berani atau tidak, mampu atau tidak, dia pahami bahwa  semua perbuatannya, sepak terjangnya, kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki sewaktu hidup akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Pengadilan Tuhan. Pada saat itulah manusia tidak ada daya untuk  mengelak akan semua dosa dan kesalahannya.

Oleh karena itu, setiap manusia, siapa pun dia, apa pun jabatannya, hendaknya selalu mengingat hari di mana pada hari itu tidak berguna lagi, pangkat, jabatan, harta, anak dan sanak saudara . Hari itu akan tiba bahwa tidak seorangpun bisa menghindarinya. Seperti lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Chrisye. Lirik lagu ini diilhami QS Yaasin, ayat 65: “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.”

Maka benarlah hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa, orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat akhirat. Orang yang selalu menghitung segala perbuatannya dengan mizan (timbangan) yang amat teliti, berpikir sebelum berbuat. Orang yang selalu menjauhi segala yang akan mengurangi kesempatannya untuk mengecap kesenangan dialam yang abadi kelak. Dia mengetahui bahwa apalah artinya dunia ini, hanya setetes air di samudera, bagai sebutir pasir di pantai. Dalam keadaan seperti itu, tentu langkahnya akan menjadi ringan dalam mengikuti segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Jadilah dia hamba yang taat yang hanya menginginkan ridha Allah. Hanya itu, tiada lain.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

featured image diambil dari sini