Cinta dan Persahabatan

Renungan Jumat
Oleh: Mustadihisyam

Setiap manusia mempunyai apa yang disebut nafs (jiwa), dia ada di dalam kalbu. Kalau kalbu itu bersih maka cahaya Ilahi akan menembus masuk ke dalam sehingga sehatlah jiwa itu, cinta dan kasih sayang adalah salah satu wujud dari jiwa mutmainnah, jiwa yang sehat.

Tetapi kalau kalbu itu kotor, pancaran cahaya Ilahi tak mampu menembus dinding kalbu , maka jiwa itu menjadi layu bahkan sakit. Rasa benci, dendam, iri hati, kedengkian adalah diantara tanda-tanda sakitnya jiwa itu. Tidaklah salah kalau di dalam lagu Indonesia Raya disebutkan “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, jiwa harus sehat dahulu sebelum badannya.  Badan bolehlah sakit, tapi jiwa harus tetap sehat !

Cinta dan Benci selalu ada dalam diri manusia, agama memberi petunjuk bagaimana menyikapi hal itu. Rasulullah mengingatkan kepada umatnya : “Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu saat akan menjadi seterumu. Dan bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu saat akan menjadi kekasihmu”.

Manusia mempunyai kalbu, yang dalam bahasa aslinya artinya “Bolak-balik”. Hati manusia sering disebut kalbu karena sering berubah-ubah, kadangkala ke kanan dan kadangkala ke kiri, paginya kedelai sorenya tempe. Itulah gambaran hati manusia, apalagi kalau tidak dilandasi dengan pegangan hidup dan parameter yang pasti, tentu akan merepotkan diri sendiri dan berdampak negatif kepada orang lain.

Cinta dan benci selalu mengisi setiap waktu dan waktupun terus berlalu, karena itu cinta dan benci pun dapat berlalu. Sebelum bercinta, seseorang merasa dirinya merupakan salah satu dari yang “ada”. Ketika bercinta, merasa dirinya memiliki segala yang “ada”, bahkan merasa dunia ini miliknya atau merasa tidak menghiraukan yang “ada”, cinta buta, semuanya dianggap sepi, nasihat orang tidak digubrisnya. Dan ketika cintanya putus, dia merasa dirinya tidak “ada”, hampa, merasa tiada berguna. Itulah cinta sering kali mempermainkan manusia.

Cinta dan persahabatan anak muda biasanya didorong oleh rasa untuk memperoleh kenikmatan belaka yang bersifat sementara, karenanya prosesnya serba cepat, cepat terjalinnya dan cepat pula putusnya. Ketika melihat keindahan warna bunga dia akan terpesona keelokannya, dipandangnya lalu ingin mendekatinya, tidak hanya puas dengan itu, dia ingin juga memetik sebelum waktunya, demi kepuasannya.

Tuhan menciptakan keindahan bunga untuk menunjukkan kebesaranNya, untuk disyukuri, bukan untuk dijadikan obyek kenikmatan belaka.

Lain lagi dengan cinta dan persahabatan orang dewasa, biasanya demi untuk memperoleh manfaat, dan ini pun beragam sehingga ia pun bersifat sementara. Banyak selebritis yang melakukan pernikahan secara luar biasa, bahkan ada yang di depan Ka’bah Masjidil Haram, tapi gagal dalam berumah tangga, karena cintanya semu, cinta yang didasari ingin memperoleh manfaat ketenaran namanya, keelokan tubuhnya, kekayaannya, cintanya tidak dibalut dengan baju taqwa, yaitu kasih dan sayang. Cinta yang rahman – rahim adalah cinta yang diberikan hanya semata-mata kemurahan hati dan kasih sayang belaka, tanpa embel-embel menuntut keuntungan untuk pribadinya.

Abu Hayyan At-Tauhidy menulis, “Perjalanan yang paling panjang adalah mencari sahabat”.

Tapi kadang manusia lupa, persahabatan yang dijalin sekian lama dengan susah payah, perlu waktu dan perjuangan yang panjang, dengan gampangnya dikhianati.

Sahabat, menurut Aristoteles adalah Anda sendiri, hanya saja dia orang lain, kenapa ! Karena Anda memiliki kalbu yang sering kali berubah-ubah, maka tidak ada “persahabatan sejati” karena tidak mengerti makna dari “sejatinya persahabatan”. Apalagi persahabatan yang di dasari oleh dunia kenikmatan dan kepentingan.

“Para sahabat akrab, pada hari kemudian saling bermusuhan, kecuali orang yang bertaqwa ” (QS 43:67).

Al-Quran memberikan tuntunan kepada manusia bagaimana seharusnya memperlakukan cinta dan persahabatan itu. Kuncinya adalah taqwa, yaitu cinta dan persahabatan yang di landasi dengan pancaran sifat Nya, Ar Rahman dan Ar Rahim, kasih dan sayang.

Ar Rahman dan Ar Rahim adalah sifat Allah yang terlebih dahulu dijelaskan dalam Al-Quran, disurat Al Fatihah ayat pertama sebelum menjelaskan sifat-sifatNya yang lain, kedua sifat ini satu rumpun dengan kata “Rahmat” yang berarti murah, kasih sayang, cinta, perlindungan.

Rahmat Ilahi, pancaran dari sifatNya yang rahman dan rahim ini akan akan terasa apabila kita lihat induk ayam yang mengais-ais kakinya di tanah mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Setelah didapat makanan, dipecahnya menjadi kecil lalu dia panggil anak-anaknya sambil berkotek, anak-anaknya berlari mendekatinya untuk menyantap makanan dari induknya. Apabila bahaya datang dengan tiba-tiba, maka dikejarnya yang akan mengganggu, walaupun itu seekor gajah. Dia tidak peduli dirinya akan hancur lumat diinjak-injak gajah, karena didorong oleh sifat rahmat yang telah diberikan oleh Allah untuk mempertahankan anak-anaknya.

Ada juga seorang ibu yang telah ditinggal suaminya, dengan segala daya kekuatan si ibu berusaha bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya, dia rela menjadi janda demi masa depan anaknya, supaya kasih sayang itu utuh tidak terpecah kepada yang lain. Itu semua si ibu lakukan karena didalam diri jiwa ibu itu ada Rahmat Ilahi sebagai pancaran sifat Allah yang Rahman-Rahim.

Sungguh luar biasa hasilnya kalau kedua sifat ini telah membekas di dalam jiwa manusia, tidak ada kebencian dalam hidup ini, sirnalah rasa benci, dengki dan dendam dari hati ini. Benci akan merusak tata pergaulan hidup masyarakat, menjadikan perpecahan diantara manusia, dan menjauhkan dari rasa keadilan.

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil! Berlakulah adil karena adil itu lebih dekat dengan takwa “
(QS Al-Maaidah :8)

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang bertaqwa, yaitu orang yang mengedepankan rasa cinta kasih sayang dan membuang jauh-jauh rasa kebencian, sehingga tercipta pergaulan di dalam masyarakat yang MARHAMAH, yaitu pergaulan yang kasih mengasihi, bantu membantu, yang timbul dari rasa kemurahan dan kesayangan, Ar Rahman-ArRahim.

Wallaahu alam bi ash-shawab !

3 Replies to “Cinta dan Persahabatan”

  1. Ass

    Matur nuwun Kang, smoga dng tauziyah ini qta selalu jd orang yg bertaqwa n mendptkan rahman n rahim dr ALLAH SWT

    Wass

Leave a Reply to diah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *