Dursala Perlaya

mama iraOleh Ira Sumarah Hartati Kusumastuti

Suara gonggongan anjing dan ringkik kuda yang bersahut-sahutan di Hastinapura seakan berlomba-lomba dengan gelak tawa ksatria tinggi besar yang sedang mabuk-mabukkan dengan paman-pamannya…Ksatria itu bernama Dursala.

Dursala adalah putera Dursasana dengan Dewi Saltani. Seperti ayahnya,Dursala juga kurang memperhatikan sopan santun.Sering bertindak sewenang-wenang terhadap orang yang lebih lemah dan selalu menang sendiri.Sikap tidak terpuji ini sudah muncul sejak ia masih kecil,dan makin menjadi setelah ia dewasa,karena ayahnya bukannya menegur,tapi justru seolah-olah menyuruh.Walaupun pada dirinya melekat sifat-sifat buruk itu,Dursala tergolong tekun dalam menuntut ilmu kesaktian. Ia pernah berguru pada Begawan Pisyaca,seorang pendeta berujud raksasa,yang memberinya ilmu Aji Kundala Geni (Aji Gineng) yang akan meremukkan batu yang di hantam, dia juga berguru pada Begawan Durna dan berlatih menggunakan gada dengan Baladewa. Saat pangeran muda ini sedang mabuk-2an datanglah Sengkuni menyampaikan pesan Duryudana ..

Sengkuni : “Hei Dursala..sudah jangan tenggak lagi arakmu, mukamu sudah merah semua…ini aku disuruh Uwa Prabumu, memberikan perintah padamu.”

Dursala : “Hwa hahahaha…Eee..kenapa Oo..eee, siang-2 Uwa prabu sudah memberi perintah…hahahah..santai dulu lah..”

Sengkuni : “Ooo bocah gemblung …santai bagaimana?..ketahuilah itu anak-anak Pandawa latihan perang-perangan di Padang Kurusetra…mereka terus mempersiapkan diri, dan kamu malah mabuk-mabukan…Gemblung!”

Dursala : “Huohohoho..hwueheheheh…jadi kenapa ribut?┬áMereka mandi keringat latihan, saya mandi keringat kepanasan tuak…sama saja toh keringatannya…Uwa Prabu memberi perintah apa Eyang…?”

Sengkuni : “Dursala…dari seluruh putra Kurawa engkaulah yang paling sakti…paling bisa di andalkan…Uwamu marah, karena para putra Pandawa sudah berlatih di Kurusetra…kamu diperintahkan untuk mengusir mereka, Ngger…”

Dursala : “Halah…kalau cuma mengusir mereka mudah Yang…baik, tolong siapkan pasukan pendukung Eyang…saya bawa paman Kartamarma, dan Paman Citraksa Citraksi buat ngluruk mereka.”

dursala1

Kegiatan latihan perang para putra Pandawa yang dipimpin oleh Raden Gatotkaca berjalan dengan tertib. Mereka berlatih beberapa formasi perang Krauncabyuha (formasi bangau), Cakrabyuha (formasi cakram/melingkar), Kurmabyuha (formasi kura-kura), Makarabyuha (formasi buaya), Trisulabyuha (formasi trisula), Sarpabyuha (formasi ular) dan Kamalabyuha atau Padmabyuha (formasi teratai).

Kedatangan Dursala di Tegal Kuru Setra secara mendadak, yang meminta mereka meninggalkan arena Kurusetra menjadikan keributan dan perkelahian, namun para putra Pandawa tak satupun yang mampu menandingi kesaktian R.Dursala. Dengan Aji Kumbala Geni pemberian gurunya (Pisyaca), Dursala mengalahkan semua kerabat Pandawa.

Kemampuan Aji Gineng bila digunakan dan mengenai seseorang, maka orang yang terkena aji Gineng akan hancur lebur, dan R,Gatotkaca terkena aji Gineng tidak mampu menahannya gemetar tubuhnya, bagai dilolosi raganya. Satria Pringgadani itu roboh lunglai yang segera diselamatkan Abimanyu dan dilarikan ke Amarta untuk mendapat pengobatan dari Shri Kresna.

Misi Dursala untuk membubarkan latihan perang ini berjalan dengan sukses.

dursala2Setelah mendapat pengobatan dari Bathara Kresna, Gatotkaca diminta berguru pada Resi Seta yang memiliki Aji Narantaka sebagai lawan seimbang dari Aji Kundala Geni (Aji Gineng), mematuhi saran Uwanya, Gatotkaca segera terbang berguru pada Resi Seta. Di Pertapaan Suhini,di lereng Gunung Selaperwata.Dari guru yang masih terhitung kakeknya itu,Gatotkaca memperoleh ilmu Ajian Narantaka. Setelah mendapat ilmu itu,segera Gatotkaca menemui Dursala.Ketika keduanya bertanding lagi,Gatotkaca menang. Akibat hantaman Aji Narantaka,tubuh Dursala hancur menjadi abu.Peristiwa ini terjadi beberapa waktu sebelum pecah Baratayuda. Kematian Dursala benar-benar menyedihkan para Kurawa,karena sesungguhnya anak Dursasana ini sangat diharapkan menjadi salah satu senapati dalam Baratayuda kelak.

Bisma : “Anakmas Duryudana, sudahlah tidak perlu disesali kematian Dursala..itulah pepesten yg bermakna takdirnya…”

Duryudana : “Eyang, Dursala adalah salah satu andalan kita, kesaktiannya bahkan melebihi ayahnya ataupun saya…Kurang Ajar Gatotkaca itu, curang dan licik…”

Bisma : “Anakmas…putaran roda kehidupan ada sebab ada akibat…Gatotkaca anakmas katakan licik? Siapa yang memulai tanding ini? Bukankah anakmas yang mulai memerintahkan Dursala menyerang mereka yang sedang berlatih perang? Inilah putaran kehidupan yang paling sering kita temui… tuduh menuduh, saling membalas dan dendam yang tak berkesudahan…”

Duryudana : “Heeemmmm Kanjeng Eyang memang selalu membela Pandawa…Eyang makan dan menikmati fasilitas disini, kenapa arah kebijaksanaan eyang selalu memuji saudara-saudaraku Pandawa…”

Bisma : “Ngger cucuku Duryudana ….betapa ringannya mulutmu berucap…Eyang lahir dan seharusnya menjadi cikal bakal Hastinapura…bicara tentang hak…aku sudah melepaskan hak itu penuh keikhlasan agar kamu ada dan sekarang menjabat raja Hastinapura…kurang apalagi? Kelak Eyang juga akan mati netepi darmaning satria demi bumi Hastinapura…Terserahlah kalau sekedar mengingatkan, sudah memancing perasaan iri dengkimu pada saudara-saudaramu Pandawa.. Ooo Ngger…sesungguhnya perasaan iri dengkimu itulah, yang kelak akan menjadi pemicu kehancuranmu sendiri.”

Bisma menutup percakapan dengan Duryudana dan beranjak masuk ke sanggar Pamujan… Baginya, wajib mengingatkan apa yang dirasanya salah. Jika peringatan itu tidak diterima, atau malah dibantah karena tidak sesuai dengan tujuan orang yang di ingatkan, dia menaikkan hasil dari percakapan itu pada kuasa Yang Esa…disanalah keputusan akan diturunkan kembali pada mereka yang berseteru..apakah azab atau pahala ? Bisma sadar, bukan kuasanya mendahului takdir Sang┬áPemberi Hidup.

One Reply to “Dursala Perlaya”

  1. Matur Nuwun Yud, sebenarnya sudah banyak yang aku post di fb ku tapi dasar gaptek, aku ngga bisa menghimpun atau mencari dokumennya…jadi kalau panjenengan bisa membantu melestarikan…wah bahagia sekali kakaprabu, semoga tidak membosankan untuk teman-2 Kasmaji 81… aku melakukan pendekatan budaya dan kangmas Mustadi dari sisi religi…. hehehe

Leave a Reply to Ira Sumarah Hartati Kusumastuti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *