Glopa-glape

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh
Salam dan sejahtera untuk kita semua.

 

 

“Glopa-glape, glopa-glape
Gajahe kepengin menek 
Ulane kepengin mabur 
Manuke kepengin nglangi
Kodhoke kepengin nyembur
Elok temen  elok iki”.

Glopa-glape adalah tembang Jawa karya Ki Narto Sabdo  yang mengandung pesan moral agar kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Tindakan orang yang tidak bersyukur akan anugerah Tuhan atau disebut “klewa-klewa”  sering terjadi pada pejabat negeri ini. Cita-cita dan ambisi memang penting, tetapi ambisi harus didampingi dengan rasa MALU.

Barangkali hanya manusia di antara mahluk Allah di bumi ini, yang memiliki perasaan malu. Tetapi tampaknya tidak seluruhnya manusia memiliki perasaan malu itu. Lihatlah pejabat kita, dengan jabatannya, mereka tak merasa sungkan mengambil harta yang bukan haknya, mereka tak malu malu lagi meminta jatah yang seharusnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat yang memilihnya. Mereka tega memperkosa hak rakyat dan dengan santai mempertontonkan aibnya. Mereka yang seharusnya menjadi contoh justru menjadi cengkre tabiatnya.

Kita mengenal paling sedikit tiga malu: malu kepada orang lain, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada Tuhan. Kalau malu kepada orang lain sudah tidak dipunyai, malu kepada diri sendiri dan Tuhan apalagi. Sebab bagi kita, orang yang tidak begitu mempertimbangkan pandangan diri dan pandangan Tuhan, umumnya masih suka mempertimbangkan pandangan orang lain. Bahkan pandangan orang lain inilah yang justru sering menjadi motor utama gerak-gerik dan perilaku. Manusia berbuat mulia atau menyembunyikan borok sendiri karena dipandang orang, kadang-kadang sopan di depan orang dan liar dalam kesendirian.

Mereka yang selingkuh kepada rakyatnya, minta suap dan korupsi, mungkin masih sedikit punya perasaan malu terhadap orang lain. Oleh karena itu dia lakukan secara sembunyi-sembunyi, supaya tak ingin perbuatannya diketahui banyak orang. Namun jelas, semua itu sudah tidak lagi mempunyai rasa malu kepada diri sendiri maupun Tuhan.

Nabi Muhammad swa yang mengatakan  “Apabila kamu tidak malu, berbuatlah sekehendak hatimu!” , artinya tentu saja tidak malu kepada orang, diri sendiri dan Tuhan.  Malu sebenarnya merupakan bagian dari iman, kalau tidak ya iman itu sendiri. Maka jangan mengatakan kita orang yang beriman kalau kita tak lagi punya rasa malu.

Sekuat tenaga apapun tekad dan kehendak manusia yang berusaha untuk mengejar ambisi pribadi dengan menghalalkan segala cara, akhirnya mereka akan jatuh karena ulah dan perbuatannya sendiri.

“Si Gajah pepes tlalene
Si Ulo aber upase
Si Manuk putung swiwine
Si Kodhok bedhah wetenge”.

waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqaan

[17:81] Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isra’: 81)

Semoga ibadah kita, disamping kemuliaan-kemuliaan lainnya mampu mendidik kita menjadi manusia-manusia sejati yang memiliki perasaan malu.

Wassalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh

Aamiin YRA.
Salam, Mustadi.

3 Replies to “Glopa-glape”

  1. Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh ….
    In sha Allah kita smua msh ‘mpunyai rasa malu itu’ … Aamiin YRA.
    Makasih ust. Mus utk pencerahannya.
    Btw, klenenganne nyamleng nan …. matur nuwun

  2. Suwun kang Must pencerahannya, baru aja smalam aku download gending itu, ingat Almarhum mbah Kakung yg nyetel sambil dengerin Kutut manggung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *