Isra Mi’raj

Pada umumnya, umat Islam sedikit banyak sudah mengetahui bahwa dari peristiwa Isra Mi’raj inilah mandat kewajiban shalat wajib lima waktu bagi umat Islam dimulai.

Dalam sehari semalam, umat Islam diwajibkan melakukan shalat Subuh dua rakaat, shalat Zhuhur pada waktu siang sebanyak empat rakaat, salat Ashar empat rakaat pada waktu sore, shalat Maghrib tiga rakaat pada waktu petang, dan diikuti shalat Isya’ pada malam harinya sebanyak empat rakaat.

Allah SWT berfirman, ‘’Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS al-Isra: 78).

Mengapa shalat diwajibkan? Banyak jawaban yang bisa diberikan, tapi salah satunya, shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual, hubungannya dengan Allah.

Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian. DR Alexis Carrel, penerima Nobel dan pakar kedokteran Barat, mengatakan “Apabila pengabdian, shalat dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut”.

Pernyataan tersebut paralel dengan Firman Allah dalam ayat sebagai berikut, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar” (QS al-Ankabut: 45).

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pemaknaan Isra Mi’raj dalam konteks Indonesia? Ajaran Islam harus hidup dalam perilaku pengikutnya dan mewarnai perilaku bangsa.

Namun, sangat disayangkan saat ini agama hanya dijadikan “ritual-formal’ yang menghiasi kalender seremonial, tapi kosong dari implementasi nilai-nilai dan maknanya dalam prakis sosial dan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita sekarang memang sudah mengerjakan shalat, tapi gagal dalam “mendirikannya”. Redaksi Alquran adalah “dirikanlah” bukan “kerjakanlah”. Akibatnya, meski shalat, tapi juga masih saja melakukan korupsi, perselingkuhan, berbuat sewenang-wenang, memfitnah orang lain, menyebarkan kebencian, mengolok-olok orang lain karena merasa benar sendiri, bahkan ada yang senang bermaksiat. Isra Mi’raj kita rayakan tetapi masih melakukan perbuatan-perbuatan bathil seperti itu. Singkatnya, kita terjebak, meminjam Julia Kristeva (1982) dalam moralitas mengambang (abjection), yaitu suatu kondisi hilangnya batas-batas antara kesucian dan najis, antara benar dan salah, antara baik dan buruk.

Wallahu a’lam bish-shawab.

mustadihisyam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *