Jadikan Kalbu Sebagai Detektor

Oleh Mustadihisyam

Upaya mendapatkan cahaya, petunjuk Allah memang ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan sistem teleskop besar yang sangat peka. Manusia pun harus menggunakan alat yang disebut kalbu  yang sangat peka. Kalbu manusia memang merupakan detektor yang sangat peka. Namun sering kali kepekaannya bisa berkurang atau bahkan menghilang ketika kalbu itu mulai tertutup debu-debu dosa dan tak ada upaya membersihkannya. Perilaku kalbu itu pun memang mirip dengan fungsi teleskop dan detektornya.

Perumpamaan Astronom yang bekerja dengan teleskopnya menangkap cahaya alam. Malam cerah tak berawan, cahaya bintang begitu cemerlang menembus teleskop dan direkam detektor kamera CCD. Berpuluh megabite data dapat terekam semalaman siap untuk diolah. Namun upaya itu percuma ketika analisis citra menunjukkan adanya “ghost image”, gambar aneh yang merusakkan kecemerlangan cahaya bintang. Ternyata detektor peka itu terselubung titik-titik embun. Walaupun sekadar embun tipis, hal itu cukup untuk menghilangkan makna cahaya bintang. Apalagi bila debu tebal yang menutupinya, pasti cahaya tak mungkin masuk.

Kalbu pun demikian, bila debu-debu dosa menyelimutinya, kepekaannya makin hilang. Jangankan berfungsi sebagai detektor yang bisa membimbing manusia, untuk sekadar menangkap cahaya Allah pun mustahil. Padahal kalbu berfungsi sebagai detektor pembeda yang hak (baik) dan yang bathil (buruk). Rasulullah SAW telah berpesan, “Mintalah fatwa pada kalbumu; kebajikan adalah segala yang menentramkan jiwa dan kalbu, sedangkan dosa adalah segala yang meragukan dalam jiwa dan hati, walaupun orang lain membenarkannya” (HR Ahmad & Addarimi).

Unsur-unsur apa saja yang menutupi kalbu ialah :
Pertama  KEMUNAFIKAN  dapat menutup kalbu, seperti yang tertulis dalam QS Al Munaafiquun ayat 3 “Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi  lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti “.

Kedua adalah KEKAFIRAN

  • “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat ”  (QS Al-Baqarah, ayat7)
  • Dan mereka berkata : ” Hati kami tertutup “. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman  (QS Al-Baqarah, ayat 88).
  • Kekafiran menyebabkan kalbunya kotor, tidak dapat dibersihkan lagi ” Mereka itu adalah orang-orang yang oleh Allah tidak hendak mensucikan hati mereka ” (QS. Al Maa’ Idah, 41).
  • Bahkan kalbunya menjadi sangat keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi, tanpa celah yang dapat ditembus (QS Al-Baqarah, ayat 74).
  • Kalbu yang demikian sama sekali tak dapat lagi menerima cahaya Allah, termasuk cahaya Alquran (QS. Al An’aam 25).

Dan sesungguhnya Kami jadikan (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai kalbu, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai ( QS. Al A’raaf, 179 ).

Walau pun mata dan telinga berfungsi juga sebagai detektor fisis, tetapi dalam hal menangkap cahaya Allah kalbu lah yang paling berperan. Pokok pangkal kesesatan itu bukan karena butanya mata atau tulinya telinga, tetapi karena tidak berfungsinya kalbu, ” Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang didalam dada”  (QS. AL Hajj, 46). Kalbu yang tidak berfungsi baik, karena telah tertutup atau mengeras, cenderung membentuk perilaku manipulatif. Korupsi, kolusi, dan segala ketidakadilan bersumber dari tidak berfungsinya kalbu. Pembenaran atas segala tindakan dosa selalu dilakukannya, termasuk bila memungkinkan menggunakan ayat-ayat yang tak tegas maknanya/mutasyabihat (QS. Ali Imran, 7).

Hanya dengan iman dan dzikir kalbu dapat dipelihara kepekaannya, ” Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”  (QS, At  Aghaabun, 11), juga hati akan  menjadi tentram “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram” (QS, Ar Ra’d, 28), hingga mampu bergetar setiap cahaya Allah menyentuhnya ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah  gemetarlah hati mereka, dan apabila di bacakan kepada mereka ayat-ayat Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan lah mereka bertawakal “(QS, Al Anfaal, 2).

Wallahu Alam bi Ash- Shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *