Sudahkah selama ini kita berbuat baik?

Pernahkah Anda pergi kesuatu kota tujuan yang belum pernah Anda datangi?

Apakah yang Anda perlukan supaya sampai tujuan dengan selamat tanpa kesasar atau tersesat dulu? Tentu Anda perlu alat bantu petunjuk seperti peta dan rambu-rambu lalulintas. Dengan peta dan rambu rambu lalulintas Anda akan dituntun kemana arah yang harus dilalui, dimana harus belok ke kanan, dimana harus ke kiri, kapan Anda diperbolehkan memacu kendaraan dan kapan harus mengeremnya, kapan harus berhenti istirahat dan kapan diperbolehkan melanjutkan perjalanan kembali. Mungkin seperti itulah gambaran manusia hidup di dunia ini, dimana dunia ini belum pernah di datangi sebelumnya, belum pernah ada cerita orang mati setelah beberapa bulan kemudian bangun dan hidup lagi di dunia lagi.

Continue reading “Sudahkah selama ini kita berbuat baik?”

Apakah merokok urusan pribadi?

Seorang perokok berat berkata, ” Merokok adalah hak pribadi saya, apapun bahayanya adalah resiko saya. Bukankah hidup ini milik saya sendiri?”

Saya katakan kepadanya, tidak demikian! Baik dalam ajaran agama maupun pertimbangan akal, hidup yang anda nikmati adalah milik Tuhan dan diperintahkan untuk digunakan untuk kemaslahatan Anda, keluarga, masyarakat dan umat manusia.

Anda mempunyai kewajiban terhadap mereka. Sabda Nabi Muhammad saw : “Sesungguhnya jasmani Anda memiliki hak atas diri Anda.” Kewajiban itu lahir akibat penggunaan perbagai fasilitas yang di anugerahkan Tuhan dan diolah oleh masyarakat. Apabila Anda meyia-nyiakan hidup, maka akan Anda apakan hak-hak orang lain yang merupakan kewajiban Anda itu?

Semua sikap dan tindakan seseorang memberikan dampak positif atau negatif, kecil atau besar terhadap lingkungannya. Anda keliru jika menduga bahwa merokok adalah urusan pribadi. Bukankah Anda mengepulkan asap rokok ke udara dan kami yang tidak merokok terpaksa harus menghirup udara yang telah dinodai nikotin rokok Anda, paling tidak aroma rokok Anda ?

Perlu Anda sadari bahwa kita semua adalah produk lingkungan yang dihasilkan oleh banyak pihak. Cinta, kita kita peroleh dari ibu, bapak, keluarga dan kita semua. Pengetahuan kita peroleh dari guru-guru kita, juga dari pengalaman kita atau orang lain. Rasa aman diperoleh dari kehadiran polisi, tentara, dan para hakim yang bijaksana dan jujur. Kita berteduh di bawah pohon yang ditanam oleh generasi lalu sambil menikmati buahnya, wajarkah kita melakukan sekehendak hati kita ?

Tidakkah kita terpanggil atau merasa berkewajiban untuk menanam, walaupun hanya sebatang pohon, agar bisa dipetik buahnya oleh generasi berikutnya? Kalau demikian wajarkah Anda berkata, “Saya bebas melakukan apa saja.” Bahkan, wajarkah seorang penganut paham yang menyatakan, “Saya bebas melakukan apa saja selama tidak melanggar hak orang lain?”

Ini adalah pandangan filsafat materialisme yang penganutnya sangat egoistis. Agama tidak mengajarkan demikian. Yang diajarkan dan dipujinya adalah “mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan orang lain.”

Tuhan memuji sekelompok sahabat Nabi yang mengutamakan orang-orang lain atas diri mereka, sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Ini jelas berbeda dengan sementara perokok, yang mengutamakan kepentingan atau kesenangan diri sendiri walaupun orang lain terancam bahaya.
Wallahu a’lam bish-shawab

Disadur dari Lentera Hati, M Quraish Shihab.

Pygmalion Effect

Hukum berfikir positif

Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya. Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik.

  • Apabila lapangan di tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi Pygmalion berkata, “Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
  • Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan Pygmalion berbisik, “Kikir betul orang itu.” Tetapi Pygmalion berkata, “Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu”.
  • Ketika anak-anak mencuri apel dikebunnya, Pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, “Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”

Itulah pola pandang Pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.

Pada suatu hari Pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik. Kawan-kawan Pygmalion berkata, “Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma patung, bukan isterimu.”

Tetapi Pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia sungguhan. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betul. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Misalnya,

  • Jika kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita.
  • Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya dia betul-betul menjadi cerdas.
  • Jika kita yakin bahwa upaya kita akan berhasil, besar sekali kemungkinan upaya dapat merupakan separuh keberhasilan.

Dampak pola berpikir positif itu disebut dampak Pygmalion. Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negatif.

  • Kalau kita menganggap tetangga kita judes sehingga kita tidak mau bergaul dengan dia, maka akhirnya dia betul-betul menjadi judes.
  • Kalau kita mencurigai dan menganggap anak kita tidak jujur, akhirnya ia betul-betul menjadi tidak jujur.
  • Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinannya kita betul-betul akan gagal.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Bayangkan, bagaimana besar dampaknya bila kita berpola pikir positif seperti itu. Kita tidak akan berprasangka buruk tentang orang lain.

  • Kita tidak menggunjingkan desas-desus yang jelek tentang orang lain. Kita tidak menduga-duga yang jahat tentang orang lain.
  • Kalau kita berpikir buruk tentang orang lain, selalu ada saja bahan untuk menduga hal-hal yang buruk.
  • Jika ada seorang kawan memberi hadiah kepada kita, jelas itu adalah perbuatan baik. Tetapi jika kita berpikir buruk, kita akan menjadi curiga, “Barangkali ia sedang mencoba membujuk,” atau kita mengomel, “Ah, hadiahnya cuma barang murah.” Yang rugi dari pola pikir seperti itu adalah diri kita sendiri.Kita menjadi mudah curiga. Kita menjadi tidak bahagia. Sebaliknya, kalau kita berpikir positif, kita akan menikmati hadiah itu dengan rasa gembira dan syukur, “Ia begitu murah hati. Walaupun ia sibuk, ia ingat untuk memberi kepada kita.”

Warna hidup memang tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Tetapi kaca mata yang damai akan menjadikan hidup kita damai.

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Berpikir baik tentang diri sendiri. Berpikir baik tentang orang lain. Berpikir baik tentang keadaan. Berpikir baik tentang Tuhan.

Dampak berpikir baik seperti itu akan kita rasakan. Keluarga menjadi hangat. Kawan menjadi bisa dipercaya. Tetangga menjadi akrab. Pekerjaan menjadi menyenangkan. Dunia menjadi ramah. Hidup menjadi indah. Seperti Pygmalion, begitulah.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only…………how nice!

sumber : dari milis ke milis