Setelah usia lewat 40 tahun…

Manusia adalah insan yang berakal budi, apa yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya lebih dari untuk sekedar bisa hidup, tapi juga mengharapkan si anak itu bisa tumbuh jadi anak saleh, yang nantinya bisa menjadi seorang intelektualisme Islam yang sejati. Begitu besar harapan dan pengorbanan orang tua terhadap anaknya.

Setelah Anda jadi orang sukses seperti sekarang ini, setelah Anda sudah berumur hampir setengah abad ini, setelah Anda jadi orang tua yang putra putrinya sudah dibangku kuliah ini, timbullah pertanyaan dalam hati kita, apa yang harus kita perbuat untuk kedua orang tua itu?

Dalam QS Al – Ahqaaf, ayat 15, kita di ingatkan oleh Allah untuk merenung sejenak, ternyata ada wasiat Allah yang diberikan kepada manusia untuk orang tuanya. Dan dari hasil perenungan ini timbullah suatu kesadaran yang dalam dari lubuk hati seorang manusia, siapa kita ini, kita ada karena lantaran ibu dan bapak tercinta. Beliau telah melahirkan, nggulo wentah kita, mendoakan kita siang malam supaya jadi putra bangsa sejati.

Jangan pernah berpikir kalau sukses Anda sekarang adalah hasil jerih payah kita, sekolah kita, keringat kita. Jangan lupa, ibu dan bapak setiap malam jam 02.00 ketika semua nyenyak tidur, beliau bangun dengan ikhlas memohonkan kepada Sang Pencipta untuk kebaikan anak-anaknya !

Sederek tentu tahu apa itu Sangkan Paraning Dumadi.

Dalam QS Al – Ahqaaf, ayat 15 dijelaskan : “Dan kami wasiatkan kepada manusia supaya dengan kedua ibu bapaknya, hendaklah berbuat baik” . Inilah wasiat, perintah Allah kedua kepada munusia, sesudah perintah yang pertama berbakti kepada Allah, yaitu untuk berbakti kepada kedua orang tua. Ayah dan ibu adalah cikal bakal kita lahir di muka bumi ini, jadi pertalian darah sangat dekat. Beliau menumpahkan kasih sayangnya, cinta nya yang murni kepada anak-anak nya tanpa mengharapkan balasan sekecil apapun jua. Kadang-kadang makanan yang sudah ada dalam mulut ibu bapak dicabutnya karena diminta oleh anaknya, biarkan ibu bapak menahan lapar. Tidaklah kita bertemu didalam Al Qur’an atau Hadist yang memerintahkan supaya seorang ayah atau ibu memelihara putranya dengan baik. Sebab walaupun tidak diperintahkan, memelihara putra dengan baik akan pasti dikerjakan orangtuanya karena didorong oleh rasa kasih dan sayangnya.

Bahkan Allah mengingatkan agar kasih sayang yang diberikan kepada anakitu dibatasi, karena bisa menjadi fitnah. Itulah mengapa kita diperintahkan berbuat baik kepada orang tua, karena banyak anak yang lupa kepada ibu bapaknya setelah mereka dewasa. Begitu anak menjadi dewasa tidaklah sempat membalas jasa baik orang tuanya, karena dia sendiri sibuk menumpahkan kasih sayangnya kepada anaknya sendiri, sehingga seorang anak tidak akan bisa membalas jasa ibu bapaknya.

Islam menjadikan rumah tangga sebagai sendi pertama berdirinya suatu negara. Maka begitu pentingnya pergaulan ibu bapak dengan anak di waktu kecil, itulah pergaulan lingkungan pertama yang disebut al-Bai’atul ulaa. Maka kaum pendidik banyak yang tidak setuju dengan adanya asrama anak yatim. Karena dengan asrama itu anak-anak tidak mendapat kasih sayang yang mendalam. Mereka berpendapat rumah tangga yang tidak dikaruniahi anak oleh Allah, supaya memelihara anak yatim di rumahnya, bukan anak yatim diantarkan ke dalam asrama.

Lanjutan ayat 15 ” Telah mengandung akan dia ibunya dengan susah payah dan telah melahirkannya dengan susah payah, dan mengandungnya dan menceraikannya selama tiga puluh bulan”. Disini Allahmemperingatkan kepada manusia betapa susah payahnya ibu sejak dari mengandung hingga melahirkan.

Teringatlah akan tabiat burung pelikan, burung ini begitu sayang terhadap anaknya, sampai-sampai demi kelangsungan hidup anaknya, dia rela menghisap darahnya sendiri untuk minum anak-anaknya, setelah habis sang induk mati dengan tidak menyesal dan anakpun tumbuh. Pengorbanan seorang ibu yang benar-benar tulus kepada anaknya, dan tak mungkin terbalas walaupun dibayar dengan berjuta-juta uang. Dengan sifat Rachman dan RachimNya, Allah mentakdirkan telur yang sudah di buahi oleh sperma ayah itu menempel terus dalam dinding Rahim ibu, sampai saat nya nanti lahir. Mulai saat di dalam Rahim itulah Ibu sudah memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya, itulah asal mula kandungan permpuan itu disebut Rahim artinya Kasih sayang. Selama melekat dalam rahim ibu, dia mulai mengisap darah ibu sebagai makan pokok.

Bertambah hari si janin bertambah besar, setelah melalui masa nuthfah (cairan segumpal) menjadi ‘aalqah (darah segumpal) kemudian menjadi mudhghah (daging segumpal) dalam masa 4 bulan 10 hari, kemudian tumbuh tulang, semakin banyaklah menghisap makanan dari ibu, sehingga si ibu bertambah lemah tubuhnya, berubah selera makannya. Semua makanan, minuman, sayuran yang di makan ibu disaringnya dalam darah buat makanan si jabang bayi itu. Tidurpun mulai berkurang dan tidak nyenyak, tapi si ibu tetap tersenyum, kepayahan tidak menyurutkan perjuangan untuk menunggu kelahiran si anak. Setelah 9 bulan tibalah anak itu akan lahir, si ibu mengerang dan merintih kesakitan, namun senyum tetap tersungging di bibirnya. Si ayah pun dengan hati berdebar, gelisah menunggu kehadiran anaknya. Akhirnya lahirlah si anak itu, kecil telanjang bulat, menangis seolah-olah tidak mau keluar dari rahim ibu yang penuh kasih sayang itu. Si ayah menghampiri, dan dicium kening istrinya sambil meneteskan air mata bahagia, si anakpun tidur pulas di samping ibunya.

Begitu besar pengorbanan ibu atas kelahiran anaknya, kadang-kadang bisa membawa kematian bagi ibu saat melahirkan. Setelah itu mulailah dengan kepayahan baru, jeritan tangisnya setiap hari mengganggu saat ibu tidur istirahat, digantinya popok sehabis pipis, di bersihkan kotorannya, dimandikan,tapi semua itu tidak membuat ibu bersedih, bahkan menjadi obat kepayahan ibu. Tugas ibu selanjutnya menyusui anaknya, semua makanan yang dimakan ibu menjelma menjadi air susu ibu yang sehat dan tidak ada tandingannya dengan susu semahal apapun, Allah Maha Pengasih!

Sekarang apa balasan kita sebagai anak kepada ibu? Pada suatu hari Rasulullah bertawaf disekeliling Ka’bah, dilihatnya seorang laki-laki bertawaf sambil menggendong ibunya yang sudah tua. Selesai tawaf dengan menggendong ibunya, dia pergi ke Maqom Ibrahim, lalu sembahyang sunat bersama Rasul, setelah selesai sembahyang Rasul bertanya kepada orang itu:” Puaskah kamu menggendong ibumu mengerjakan ibadah ini?”.

Laki-laki itu menjawab:” Belum, belum terbalas jasanya walaupun buat sekali saja meneguk air susunya “. (Dirawikan oleh al-Hafizh al Bazzar).

Kelanjutan QS Al – Ahqaaf, ayat 15 : Sehingga setelah mencapai dewasa dan mencapai empat puluh tahun, berkatalah dia: ” Tuhanku ! berikanlah peluang aku, supaya aku bersyukur atas nikmat Engkau yang telah Engkau nikmatkan ke atas ku dan keatas kedua ibu bapakku”.

Biasanya manusia kalau sudah mencapai umur 40 tahun telah mencapai kematangan dan kemantapan sebagai insan, dia mulai menyadari akan keberadaan orang lain disekitarnya, menyadari tidaklah mungkin manusia hidup sendiri, sehingga rasa egoisme, mau menang sendiri, merasa paling benar sendiri dan nafsu nya mulai berkurang. Tidak seperti saat ketika masih umur di bawah 40 tahun, dimana egoisme dan nafsunya masih menggebu-gebu.

Mungkin alasan inilah maka Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi saat usia 40 tahun, Allah Maha Tahu. Kami mensyukuri nikmatMu ya Allah, yang telah Engkau berikan kepada kami dan kepada ibu bapak kami, beliau dengan susah payah membesarkan kami, mendidik kami, memelihara kami, menumpahkan kasih sayangnya kepada kami hingga dewasa menjadi orang seperti saat ini, menjadi direktur, menjadi manager, mempunyai rumah bagus, mobil, anak- istri-suami dan masih banyak lagi….

Kami merasakan betapa banyak pengorbanan, suka duka, sedih dan gembiranya ibu bapak dalam membesarkan anak-anaknya. Rasa ini biasanya dialami saat kita usia 40 tahun, dimana anak-anak kita sudah mulai besar.

Tepat sekali apa yang dikatakan Hajjaj bin Abdullah al-Hakami, seorang Pangeran dari Bani Umaiyah, Beliau berkata : “40 tahun usia pertama aku meninggalkan dosa karena malu kepada manusia. Tetapi setelah usia lewat 40 tahun aku meninggalkan dosa karena malu kepada Allah”. Ucapan ini akan terasa sekali kalau kita sudah berumur 40 tahun lebih. Sudahkah kita malu kepada Allah ?

Kelanjutan QS Al-Ahqaaf, ayat 15: “Dan supaya aku berbuat amal shalih yang Engkau ridhai.” Setelah kita bersyukur karena dilahirkan oleh orang tua yang baik-baik, selanjutnya wajiblah kita berbuat baik kepada ibu bapak dikala masih hidup, dan mendoakan setelah beliau meninggal, itulah anak shalih. Kemudian kita berdoa sendiri supaya kita dapat berbuat amal baik, menyambung perbuatan baik yang telah dirintis oleh orang tua kita. Kalau Beliau punya jasa-jasa baik lanjutkan jasa baik itu, misalkan beliau punya usaha yang manfaat bagi bagi masyarakat, lanjutkan usaha itu untuk kemaslahatan umat. Kalau beliau seorang guru, amalkan ilmu yang diajarkan beliau untuk kebaikan masyarakat.

Kelanjutan QS Al – Ahqaaf, ayat 15: “Dan perbaikilah bagiku pada keturunanku”. Dan kita berdoa kepada Allah, semoga kebaikan yang kita amalkan ini bisa menurun kepada anak turun kita, tidak putus berhenti sampai disini.

Banyak contoh orang tuanya seorang tokoh masyarakat, pemimpin bangsa ataupun seorang alim ulama, sehingga setelah beliau meninggal namanya di abadikan untuk nama jalan, nama bandara dan lain sebagai nya, karena jasa-jasa baiknya sewaktu hidup, Tetapi sayang sepeninggal beliau, anak turunnya tidak bisa meneruskan dan menjaga perbuatan baik beliau, sehingga putuslah sejarah kebaikan dari orang tua kepada anak anaknya. Di umur kita yang sudah lebih dari empat puluh tahun ini, kita berdoa semoga ya..Allah amal kebaikan yang telah kami rintis selama berpuluh puluh tahun ini, janganlah putus begitu saja sepeninggal kami nanti. Warisan yang paling berharga dari orang tua yang sudah meninggal adalah Anak yang Shaleh! Bukan rumah magrong-magrong, bukan ijazah S3, bukan mobil, bukan pula pangkat dan jabatan.

Kelanjutan QS Al – Ahqaaf, ayat 15: “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah seorang Muslim”. Namun dalam mengarungi bahtera kehidupan, untuk berbuat kebajikan ini, kadang-kadang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, oleh karena itu kami mohon ampun ya..Allah, kami bertaubat kepadaMu.

Tapi bagaimanapun juga kami tetap seorang Muslim, kami berserah diri dan pasrah kepadaMu ya… Allah. Inilah wujud pengakuan dari seorang Muslim sejati, mengakui kesalahan, mohon ampun dan bertaubat atas kesalahannya, dan berserah diri kepada Allah.

Semoga ayat 15, QS Al – Ahqaaf ini dapat menjadi bahan perenungan dan kita amalkan sebagai doa sehabis sholat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Alat Ukur Keuntungan

Ciri kapitalis itu dua. Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya. Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim.

Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.

Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima. Pertama, yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain, meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan keuntungan.

Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.

Kedua, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang, pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.

Ketiga, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman, dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.

Keempat, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan pernah hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain menjadi hancur. Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.

Kelima, yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.

Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi dengan Allah, penggenggam setiap rezeki. Waspadalah terhadap bisnis yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana.

Wassalam !

Meneladani Allah Sebagai Al-Haadi’

Kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah agama. Karena, hidayah inilah yang akan membuat akal memuliakan kita. Hati akan cemas ketika kita berjalan di lorong gua yang gelap. Hati pun akan cemas ketika kita berjalan di belantara yang masih asing. Begitupula kalau tersesat, hati kita akan cemas, walau tersesatnya di Masjidil Haram.

Namun, akan beda rasanya bila kita berjalan di gulitanya malam dan ada yang menuntun, terlebih bila yang menuntun tersebut sangat tahu medan dan ingin menyelamatkan kita, hati akan tenang. Ketika kita masuk ke sebuah kota dengan disertai seorang pemandu ahli, maka hati kita pun akan tenang. Apa yang dimaksud dengan petunjuk jalan? Ia adalah yang tampil ke depan memberi petunjuk. Mereka ini disebut haadi. Salah satu asma’ Allah adalah Al-Haadi atau Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

Kata yang terdiri dari huruf “ha”, “dal”, dan “ya”, memiliki makna “tampil ke depan memberi petunjuk”. Tongkat disebut haadi karena tongkat biasanya lebih depan daripada kaki. Arti kedua adalah “menyampaikan dengan lemah lembut”. Dari sini lahirlah kata “hadiah”, karena hadiah disampaikan dengan lemah lembut. Pengantin wanita disebut juga al-haadiyu’, karena ia menjadi “hadiah” yang lembut bagi suaminya. Jadi, kalau dikaitkan dengan Allah Al-Haadi; Allah Yang Maha Memberi Petunjuk bermakna bahwa Allah bisa memberi petunjuk dengan sangat lemah lembut sehingga tidak dirasakan oleh orang yang mendapatkan petunjuk tersebut.

Hidayah Allah

Hidayah (petunjuk) yang diberikan Allah kepada manusia bermacam dan bertingkat-tingkat bentuknya. Hidayah tingkat pertama disebut insting atau naluri. Contohnya seorang bayi akan langsung menangis ketika dilahirkan. Ia bisa menangis bukan kerena belajar, tapi refleks hingga ia mendapatkan air susu yang dibutuhkannya. Pernah anak saya ketika masih bayi menangis meronta ronta, saat itu ibunya sedang ke warung, saya gendong anak itu, saya tepuk-tepuk supaya berhenti menangis, tapi tetap saja meronta menangis. Begitu ibunya datang, digendong anak itu, langsung diam, tidur dalam pelukannya. Kenapa ketika saya gendong anak tetap menangis dan saat ibu nya yang gendong terus diam, tidur pulas ? Mungkin dari bau pakaian yang saya pakai, nalurinya mengatakan “oh.. ini bukan bau orang yang setiap hari menggendong saya, memeluk saya disaat tidur dan menyusui saya dikala lapar”.  Dan begitu digendong ibunya, nalurinya mengatakan “lha…ini orang yang saya cintai, yang bisa memberikan kehangatan saya ternyata sudah datang “, maka diamlah anak itu dan tidur pulas. Anak itu bisa membedakan mana ibunya dan yang bukan ibunya, padahal mata anak itu belum bisa melihat jelas, belum bisa bicara, tapi dengan insting nya yang tajam dia bisa menentukan ibunya. Itulah Naluri,namun naluri tidak didesain untuk memecahkan persoalan.

Oleh karena itu, Allah SWT memberi hidayah tingkat kedua, yaitu panca indra. Inilah hidayah Allah yang membuat kita bisa melihat, mendengar, merasa, dan mendapatkan banyak informasi. Panca indra membuat kita mampu mengambil sikap dengan baik. Sayangnya, indra ini tidak selamanya benar dan akurat. Misal, kayu yang lurus akan kelihatan bengkok di air, rel kereta api ujungnya seperti bersatu, pelupuk mata yang paling dekat dengan mata tidak mampu kita lihat. Sangat dekat tidak terlihat, demikian pula kalau jauh tidak terlihat. Intinya, indra tidak selalu mampu memberitahukan informasi yang paling benar. Ketika kita memilih pasangan hidup yang pertama kita rasakan adalah tatapan wajah kecantikan, ketampanannya. Tapi itu sangat belum cukup untuk mengatakan ” Wanita/pria itu cocok sebagai pasangan saya”. Masih ada step berikutnya untuk menyempurnakan pandangan ini, apa itu !

Di atas panca indra, ada hidayah tingkat ketiga yaitu akal. Akal adalah hidayah istimewa yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia yang tidak diberikan pada binatang. Rel kereta api terlihat bersatu dengan panca indra, tapi tidak bersatu menurut akal. Dengan akal kita bisa menganalisis dengan baik, melihat dengan cermat, dan mengambil keputusan dengan lebih tepat. Dengan akal kita bisa menilai calon pasangan kita, bagaimana ahlak nya, sifat-sifatnya, intelektualisme nya. Walaupun demikian, akal sering disalahgunakan. Akal sering dipakai untuk ngakali, wah …ini yang repot. Orang bisa “efektif” melakukan kejahatan karena menggunakan akal. Karena itu, kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah keempat, yaitu :

Hidayah agama. Hidayah inilah yang menjadikan akal memuliakan manusia. Yang pintar banyak, tapi yang pintar sekaligus benar adalah hidayah paling mahal. Hidayah agama pun bertingkat-tingkat bentuknya. Dari mulai hidayah berupa pengetahuan tentang Islam, lalu hidayah berupa kemampuan untuk mengamalkan Islam, dan hidayah yang menjadikan hati kita selalu terpaut kepada Allah ketika beramal (keikhlasan). Ketika mata kita mengatakan wanita itu cantik, akal kita menilai wanita itu ahlak dan ibadahnya baik, hidayah pemahaman agama kita mengatakan bahwa “wanita itu cocok sebagai pasangan saya walaupun dia anak seorang miskin, karena bagi saya kaya miskin bukan ukuran di depan Allah, ketaatan kepada Allah lah yang jadi ukuran nya”. Inilah hidayah yang paling tinggi dan paling mahal hargaanya.

Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tidak seorangpun yang memiliki hak memberi hidayah pada orang lain, tanpa seizin Allah. Mungkin timbul pertanyaan, untuk apa kita berdakwah? Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan. Karena itu, jalan hidayah bisa bermacam-macam bentuknya, ada yang lewat ceramah, ada yang lewat VCD, SMS, acara televisi, email dan lainnya. Ketika tahun 65 Buya Hamka difitnah,ditahan dijebloskan dalam tahanan tanpa sebab oleh rezim saat itu, sampai beliau hampir putus asa ingin bunuh diri, ketika sebuah silet sudah ada ditangannya, Allah memberikan InayahNya, hati kecil nya mengatakan ” kalau saya bunuh diri, betapa nistanya saya ini, padahal saya ini seorang ulama, yang seharusnya menjadi panutan”, Akhirnya dibuanglah pisau itu, dia sadar, istiqfar kepada Allah, dan seperti kita ketahui dalam masa tahanan 2tahun itu beliau dapat menyelesaikan Tafsir Al Azhar, Al Quran 30 juz. Ternyata kita sering kali menilai sesuatu masalah itu hanya yang terlhat ujud nya saja, bukan pada hakekat dari masalah itu, sering kali Allah memberikan segala persoalan hidup ini ada maksud tersembunyi, yang kita kadang-kadang tidak mengerti, apa yang kita rasakan pahit itu ternyata ujungnya sangat manis.

Dengan demikian kita jangan menganggap diri hebat karena telah mampu menyadarkan orang lain. Kita hanya sekadar perantara, hakikatnya Allah-lah yang memberi hidayah. Bagi kita, masalahnya bukan bagaimana agar orang lain bisa mendapatkan hidayah, tapi sejauh mana kualitas kebenaran yang disampaikan dan sejauh mana keikhlasan kita dalam menyampaikan kebenaran tersebut. Kedua hal tersebut adalah syarat utama bagi dalam meneladani Allah sebagai Al-Haadi’; Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk. Kita pun tidak akan mampu memberi petunjuk pada orang lain, bila kita tidak memiliki pengetahuan. Karena itu, meneladani Al-Haadi mengharuskan kita menjadi orang-orang yang berilmu dan gemar menjadi pengamal ilmu.

Wallahua’lam bish-shawab.