Alat Ukur Keuntungan

Ciri kapitalis itu dua. Pertama, dalam mencari keuntungan mereka tidak menggunakan tata nilai yang baik, mengeksploitir semuanya demi kepentingan diri dan konglomerasinya. Kedua, setelah mendapatkannya mereka kikir dan sibuk membesarkan dirinya.

Islam menghadirkan solusi, ada dua ciri profesional Muslim.

Pertama, ketika mencarinya, sangat menjaga nilai-nilai, sehingga kalau dia mendapatkan sesuatu, dirinya lebih bernilai daripada yang dia dapatkan. Kalau dia mendapat uang, maka dia dihormati bukan karena uangnya, tapi karena kejujurannya. Kalau dia mempunyai jabatan, dia disegani bukan karena jabatannya, tapi karena kepemimpinannya yang bijak, adil dan mulia.

Kedua, setelah mendapatkannya dia distribusikan untuk sebesar-besar manfaat bagi kemaslahatan umat. Makin kaya, makin banyak orang miskin yang menikmati kekayaannya.

Kita seringkali menganggap bahwa keuntungan itu adalah finansial (uang), sehingga sibuk menumpuk harta kekayaan untuk bermewah-mewahan. Inilah di antaranya yang membuat bangsa kita hancur.

Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumu’ah [62]: 10).

Carilah karunia Allah, bukan uang. Sesungguhnya keuntungan itu tidak identik dengan uang. Walaupun tidak mendapatkan uang, jika niatnya lurus dan cara berikhtiarnya benar, maka kita sudah beruntung, Allah yang akan mendatangkannya suatu saat kelak.

Alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima. Pertama, yang namanya untung itu adalah kalau apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh. Walaupun belum (atau bahkan tidak) mendapatkan uang, tetapi jika telah berkesempatan menolong orang lain, meringankan beban orang lain, memuaskan pembeli atau melakukan apapun yang menjadi kebaikan di sisi Allah, maka semua itu sudah merupakan keuntungan.

Sebaliknya, bisnis narkoba, perjudian, dan prostitusi itu menghasilkan banyak uang, tetapi jangan pernah merasa beruntung kalau bisnis itu berkembang. Itu semua bukan keuntungan, melainkan fitnah karena akan mendapat kutukan dan laknat dari Allah.

Kedua, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun nama baik (citra diri) kita. Jangan sampai kita mempunyai banyak uang, tetapi nama baik kita hancur, dikenal sebagai penipu, pendusta atau koruptor. Apalah artinya kita mempunyai banyak harta, tapi citra kita hancur sehingga istri dan anak-anak menjadi tercekam dan terpermalukan. Kekayaan kita bukan pada tempelan (uang, pangkat, jabatan), kekayaan kita harus melekat pada citra diri kita.

Ketiga, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa menambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Jika kita mempunyai banyak uang, tetapi tidak berilmu, sebentar saja bisa hangus uang kita. Tidak sedikit orang yang mempunyai uang, tetapi tidak memiliki pengalaman, sehingga mereka mudah tertipu. Sebaliknya, misalkan uang kita habis karena dirampok, kalau kita memiliki ilmu, pengalaman, dan wawasan, kita bisa mencarinya lagi dengan mudah.

Keempat, yang namanya untung adalah kalau apa yang kita lakukan itu bisa membangun relasi atau silaturahmi. Oleh karenanya, jangan pernah hanya karena masalah uang hubungan baik kita dengan orang lain menjadi hancur. Setiap orang yang terluka oleh kita, dia akan menceritakan luka di hatinya kepada orang lain. Dan ini akan menjadi benteng yang memenjarakan, kita semakin kecil. Jangan mencari musuh, tapi perbanyak kawan. Kalau kawan sudah mencintai kita, mereka akan bersedia untuk membela dan berkorban untuk kita, setidaknya mereka akan menceritakan sesuatu yang baik tentang kita.

Kelima, yang namanya untung itu tidak hanya sekadar untuk mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, tetapi apa yang kita lakukan itu justru harus banyak menguntungkan dan memuaskan orang lain.

Oleh karena itu, kalau kita sudah meyakini bahwa pembagi rezeki adalah Allah, maka bisnis kita bukan lagi dengan manusia, tetapi dengan Allah, penggenggam setiap rezeki. Waspadalah terhadap bisnis yang tidak menjadi amal, yang tidak menjadi nama baik, yang tidak menjadi ilmu, yang memutuskan silaturahmi, dan yang mengecewakan orang lain. Karena semua itu bukan keuntungan, tetapi bencana.

Wassalam !

Meneladani Allah Sebagai Al-Haadi’

Kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah agama. Karena, hidayah inilah yang akan membuat akal memuliakan kita. Hati akan cemas ketika kita berjalan di lorong gua yang gelap. Hati pun akan cemas ketika kita berjalan di belantara yang masih asing. Begitupula kalau tersesat, hati kita akan cemas, walau tersesatnya di Masjidil Haram.

Namun, akan beda rasanya bila kita berjalan di gulitanya malam dan ada yang menuntun, terlebih bila yang menuntun tersebut sangat tahu medan dan ingin menyelamatkan kita, hati akan tenang. Ketika kita masuk ke sebuah kota dengan disertai seorang pemandu ahli, maka hati kita pun akan tenang. Apa yang dimaksud dengan petunjuk jalan? Ia adalah yang tampil ke depan memberi petunjuk. Mereka ini disebut haadi. Salah satu asma’ Allah adalah Al-Haadi atau Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

Kata yang terdiri dari huruf “ha”, “dal”, dan “ya”, memiliki makna “tampil ke depan memberi petunjuk”. Tongkat disebut haadi karena tongkat biasanya lebih depan daripada kaki. Arti kedua adalah “menyampaikan dengan lemah lembut”. Dari sini lahirlah kata “hadiah”, karena hadiah disampaikan dengan lemah lembut. Pengantin wanita disebut juga al-haadiyu’, karena ia menjadi “hadiah” yang lembut bagi suaminya. Jadi, kalau dikaitkan dengan Allah Al-Haadi; Allah Yang Maha Memberi Petunjuk bermakna bahwa Allah bisa memberi petunjuk dengan sangat lemah lembut sehingga tidak dirasakan oleh orang yang mendapatkan petunjuk tersebut.

Hidayah Allah

Hidayah (petunjuk) yang diberikan Allah kepada manusia bermacam dan bertingkat-tingkat bentuknya. Hidayah tingkat pertama disebut insting atau naluri. Contohnya seorang bayi akan langsung menangis ketika dilahirkan. Ia bisa menangis bukan kerena belajar, tapi refleks hingga ia mendapatkan air susu yang dibutuhkannya. Pernah anak saya ketika masih bayi menangis meronta ronta, saat itu ibunya sedang ke warung, saya gendong anak itu, saya tepuk-tepuk supaya berhenti menangis, tapi tetap saja meronta menangis. Begitu ibunya datang, digendong anak itu, langsung diam, tidur dalam pelukannya. Kenapa ketika saya gendong anak tetap menangis dan saat ibu nya yang gendong terus diam, tidur pulas ? Mungkin dari bau pakaian yang saya pakai, nalurinya mengatakan “oh.. ini bukan bau orang yang setiap hari menggendong saya, memeluk saya disaat tidur dan menyusui saya dikala lapar”.  Dan begitu digendong ibunya, nalurinya mengatakan “lha…ini orang yang saya cintai, yang bisa memberikan kehangatan saya ternyata sudah datang “, maka diamlah anak itu dan tidur pulas. Anak itu bisa membedakan mana ibunya dan yang bukan ibunya, padahal mata anak itu belum bisa melihat jelas, belum bisa bicara, tapi dengan insting nya yang tajam dia bisa menentukan ibunya. Itulah Naluri,namun naluri tidak didesain untuk memecahkan persoalan.

Oleh karena itu, Allah SWT memberi hidayah tingkat kedua, yaitu panca indra. Inilah hidayah Allah yang membuat kita bisa melihat, mendengar, merasa, dan mendapatkan banyak informasi. Panca indra membuat kita mampu mengambil sikap dengan baik. Sayangnya, indra ini tidak selamanya benar dan akurat. Misal, kayu yang lurus akan kelihatan bengkok di air, rel kereta api ujungnya seperti bersatu, pelupuk mata yang paling dekat dengan mata tidak mampu kita lihat. Sangat dekat tidak terlihat, demikian pula kalau jauh tidak terlihat. Intinya, indra tidak selalu mampu memberitahukan informasi yang paling benar. Ketika kita memilih pasangan hidup yang pertama kita rasakan adalah tatapan wajah kecantikan, ketampanannya. Tapi itu sangat belum cukup untuk mengatakan ” Wanita/pria itu cocok sebagai pasangan saya”. Masih ada step berikutnya untuk menyempurnakan pandangan ini, apa itu !

Di atas panca indra, ada hidayah tingkat ketiga yaitu akal. Akal adalah hidayah istimewa yang dikaruniakan Allah SWT kepada manusia yang tidak diberikan pada binatang. Rel kereta api terlihat bersatu dengan panca indra, tapi tidak bersatu menurut akal. Dengan akal kita bisa menganalisis dengan baik, melihat dengan cermat, dan mengambil keputusan dengan lebih tepat. Dengan akal kita bisa menilai calon pasangan kita, bagaimana ahlak nya, sifat-sifatnya, intelektualisme nya. Walaupun demikian, akal sering disalahgunakan. Akal sering dipakai untuk ngakali, wah …ini yang repot. Orang bisa “efektif” melakukan kejahatan karena menggunakan akal. Karena itu, kita jangan bangga memiliki anak, suami, atau orangtua yang cerdas, kalau mereka tidak memiliki hidayah keempat, yaitu :

Hidayah agama. Hidayah inilah yang menjadikan akal memuliakan manusia. Yang pintar banyak, tapi yang pintar sekaligus benar adalah hidayah paling mahal. Hidayah agama pun bertingkat-tingkat bentuknya. Dari mulai hidayah berupa pengetahuan tentang Islam, lalu hidayah berupa kemampuan untuk mengamalkan Islam, dan hidayah yang menjadikan hati kita selalu terpaut kepada Allah ketika beramal (keikhlasan). Ketika mata kita mengatakan wanita itu cantik, akal kita menilai wanita itu ahlak dan ibadahnya baik, hidayah pemahaman agama kita mengatakan bahwa “wanita itu cocok sebagai pasangan saya walaupun dia anak seorang miskin, karena bagi saya kaya miskin bukan ukuran di depan Allah, ketaatan kepada Allah lah yang jadi ukuran nya”. Inilah hidayah yang paling tinggi dan paling mahal hargaanya.

Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Tidak seorangpun yang memiliki hak memberi hidayah pada orang lain, tanpa seizin Allah. Mungkin timbul pertanyaan, untuk apa kita berdakwah? Dakwah berfungsi untuk fadzakkir innama anta mudzakkir; hanya sekadar mengingatkan. Karena itu, jalan hidayah bisa bermacam-macam bentuknya, ada yang lewat ceramah, ada yang lewat VCD, SMS, acara televisi, email dan lainnya. Ketika tahun 65 Buya Hamka difitnah,ditahan dijebloskan dalam tahanan tanpa sebab oleh rezim saat itu, sampai beliau hampir putus asa ingin bunuh diri, ketika sebuah silet sudah ada ditangannya, Allah memberikan InayahNya, hati kecil nya mengatakan ” kalau saya bunuh diri, betapa nistanya saya ini, padahal saya ini seorang ulama, yang seharusnya menjadi panutan”, Akhirnya dibuanglah pisau itu, dia sadar, istiqfar kepada Allah, dan seperti kita ketahui dalam masa tahanan 2tahun itu beliau dapat menyelesaikan Tafsir Al Azhar, Al Quran 30 juz. Ternyata kita sering kali menilai sesuatu masalah itu hanya yang terlhat ujud nya saja, bukan pada hakekat dari masalah itu, sering kali Allah memberikan segala persoalan hidup ini ada maksud tersembunyi, yang kita kadang-kadang tidak mengerti, apa yang kita rasakan pahit itu ternyata ujungnya sangat manis.

Dengan demikian kita jangan menganggap diri hebat karena telah mampu menyadarkan orang lain. Kita hanya sekadar perantara, hakikatnya Allah-lah yang memberi hidayah. Bagi kita, masalahnya bukan bagaimana agar orang lain bisa mendapatkan hidayah, tapi sejauh mana kualitas kebenaran yang disampaikan dan sejauh mana keikhlasan kita dalam menyampaikan kebenaran tersebut. Kedua hal tersebut adalah syarat utama bagi dalam meneladani Allah sebagai Al-Haadi’; Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk. Kita pun tidak akan mampu memberi petunjuk pada orang lain, bila kita tidak memiliki pengetahuan. Karena itu, meneladani Al-Haadi mengharuskan kita menjadi orang-orang yang berilmu dan gemar menjadi pengamal ilmu.

Wallahua’lam bish-shawab.

Syafaat

Suatu hari terjadi pertengkaran rumah tangga antara perempuan merdeka Barirah dengan suaminya seorang budak, si suami masih cinta kepada istrinya, tapi Barirah sudah tidak cinta lagi. Akhirnya si suami itu memohon kepada Rasullullah sudilah kiranya mendamaikan dengan istrinya Barirah. Dipanggilnya Barirah oleh Rasul dan dibujuknya agar mau kembali rukun dengan suaminya,kemudian Barirah bertanya kepada Rasul :” Apakah ini perintah Rasul ?”. Rasullullah menjawab : ” Aku hanya semata-mata memberi jasa baik “. Tetapi Barirah tetap tidak mau kembali ke pada suaminya. (hadist Bukhari). Ternyata jasa baik Rasul menjadi perantrara ( = syafaat ) tidak diterima.  Syafaat bisa berarti memberikan jasa-jasa baik, menjadi penengah tapi tidak memutuskan.

Dalam hadist terkenal tentang Syafaat, bahwa Rasullullah di akhirat nanti akan membela dan memohon kepada Tuhan agar beberapa manusia dibebaskan dari tuntutan. Kalau kita ta’ziah kepada orang tua yang di tinggal mati anak nya, kita ucapkan ” Semoga anak saudara yang meninggal ini menjadi syafaat saudara di akhirat nanti “.  Disini syafaat berarti menolong meringankan azab siksaan si ayah yang diterimanya kelak di akhirat, karena si ayah sabar menghadapi kematian anaknya.

Misal, kita makan di warung, tapi uang kita kurang 1000 rp, lalu ada teman mengenapi kekurangan 1000 rp, perbuatan teman menggenapi itu juga dinamai Syafaat, sebab syafi’ artinya genap, lawan dari watri berarti ganjil. Jadi syafaat bisa berarti Menggenapi .

Contoh lain : seseorang berurusan dengan pejabat dan dipersulit, kebetulan kita kenal dengan pejabat itu, lalu kita menyediakan diri jadi perantara untuk bantu menyelesaikan masalah itu dan berhasil, perbuatan sebagai perantara itu juga dinamakan Syafaat. Tentunya masalah-masalah yang baik yang perlu dibantu. Syafaat bisa berarti Perantara.

“Barang siapa yang memberikan syafaat baik, niscaya dia akan memperoleh keuntungan dari padanya. Dan barang siapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya dia akan menanggungkan dari padanya.Dan Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah serba sanggup”. ( QS Anisa, ayat 85)

Dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di kantor kadang kala terjadi perselisihan antara tetangga, antara teman sekantor sehingga timbullah disharmoni dalam pergaulan, Islam mengajarkan barang siapa sudi menjadi penengah kepada orang yang berselisih, atau sudi memberikan jasa-jasa baik kepada orang yang sedang bertengkar, dengan jujur tanpa pamrih, niscaya Allah akan memberikan keuntungan pahala, terutama keuntungan budi. Sebaliknya jika menyalah gunakan syafaat, misalnya  ingin membantu menyelesaikan masalah, tapi ujung-ujungnya minta imbalan uang, misal menjadi perantara mempertemukan orang untuk berbuat zina, korupsi, maka perbuatan orang tersebut akan menanggung dosa atas ketidakjujurannya itu.

Syafaat yang baik disebut Nashib artinya keuntungan pahala, sedang syafaat yang buruk disebut Kiflun artinya menanggung akibat perbuatan buruk. Allah sanggup dan berkuasa memberikan pahala bagi yang memberikan syafaat yang baik, dan memberikan siksaan bagi yang memberikan syafaat yang buruk.

Dalam suatu riwayat bahwa Masruq memberikan syafaat jasa baik kepada seseorang, sehingga usaha Masruq itu berhasil baik, oleh orang itu sebagai tanda ucapan terimakasih, dihadiahkan seorang budak perempuan kepada Masruq. Bukan main marahnya Masruq menerima hadiah itu dan dia kembalikan hadiah saat itu juga, sambil berkata : “Kalau dulu aku tahu apa yang ada dalam hatimu, niscaya tidaklah akan aku urus hajadmu itu “.  Jelaslah bahwa Masruq menolong hanya semata mata karena Allah, bukan ada udang di balik batu.

Rasulullah berkata :” Barang siapa yang memeberikan syafaat kepada saudaranya, dan saudaranya memberinya hadiah, lalu diterimanya, maka sesungguhnya dia telah membuka satu pintu besar dari pada pintu-pintu dosa besar ”  ( dirawitkan oleh Abu Daud dari pada Abu Umamah ).

Patutlah kita perhatikan hadist ini, sangguplah kita menempuh jalan iman seperti ini dalam kehidupan sehari-hari ? Hadist ini menunjukkan seseorang yang menolong orang lain dengan menggunakan jasa-jasa baik dengan pengaruhnya, jabatannya, wewenangnya sehingga urusan orang itu menjadi mudah dan berhasil lancar, lalu orang yang ditolongnya itu memberikan hadiah kepadanya. Kalau hadiah itu diterimanya, berarti dia telah membuka suatu pintu dari pintu pintu dosa besar, itulah yang sering dinamakan uang pelicin, uang semir, rasywah ( uang pelancar urusan ). alangkah jauhnya dari budi Islam !

Apa artinya jasa baik, kalau sudah mulai dibayar dengan uang !

Dalam situasi sekarang ini banyak orang yang mengaburkan rasywah/uang pelicin dengan pemberian sebagai tanda ucapan terimakasih. Biasanya pemberian sebagai tanda ucapan terimakasih itu ada maksudnya, yaitu harapan supaya di kemudian hari dipermudah dan diperlancar urusannya. Itulah awal terjadinya kolusi, korupsi.

Teringatlah akan kisah sahabat Rasullullah yaitu orang Anshar di Madinah, mereka begitu Ikhlas menyambut dan membantu para kaum Muhajirin, sehingga Al-Qur’an memberikan pujian kepada kaum Anshar (QS al-Hasyr, ayat 9). Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah adalah seorang putra Anshar yang sangat terkenal dermawan, banyak orang yang terdesak ekonominya berhutang kepadanya dan diberinya hutang, kadang kadang hutang itu tidak terbayar dan beliau tidak menagihnya. Suatu hari Qais jatuh sakit berat, dia heran kenapa orang-orang tidak ada yang datang menjenguknya. Ditanyalah anaknya kenapa tidak ada yang menjenguknya, kemudian anaknya menjawab kalau mereka tidak menjenguk karena malu, karena mereka banyak berhutang kepada bapak ( Qais ) dan belum terbayar hutang itu. Mendengar itu, Qais berkata :” Celakalah harta benda kalau itu akan menghambat ikhwan berziarah”.  Selah itu Qais menyuruh mengumumkan kalau mulai hari ini semua yang masih mempunyai hutang kepadanya di bebaskan, tak usah di bayar. Menengar seruan itu, belum hari petang rumah Qais penuh sesak dengan orang-orang yang ingin berziarah, sampai-sampai tiang rumahnya patah karena banyaknya orang yang datang. Setelah itu tambah terkenalah kedermawanan Qais bin Sa’ad.

Qais bin Sa’ad adalah contoh pengemban syafaat yang didasari keimanan kepada Allah, tanpa pamrih.