Pujian

mustadiSahabat Kasmaji 81, sebuah pujian orang yang datang kepada kita sebenarnya adalah prasangka orang lain kepada kita, kita tidak boleh larut dalam prasangka orang justru kita harus serius mengenal diri kita sendiri, ini hal penting, mengapa? Karena kita tidak bisa mencapai derajat kedudukan di sisi Allah hanya dengan pujian manusia tetapi kita akan mencapai derajat kedudukan di sisi Allah dengan keikhlasan.

Dan ikhlas salah satu indikasinya adalah, menurut Ali Bin Abi Thalib RA dipuji ataupun tidak dipuji dan dicaci tetap sama, kalau kita tiba-tiba semakin semangat kerjanya karena pujian manusia, kemudian kita tidak enak perasaan karena tidak dipuji dan lalu kita patah semangat karena dicaci, itu ada sesuatu yang salah di dalam niat kita.

Sepatutnya pujian dari manusia, anggaplah hanya hiasan telinga yang membuat kita malu, kita harusnya tetap semangat walau dipuji ataupun tidak dipuji manusia, karena yang memuji hakiki adalah Allah SWT. Kalau tidak ada yang memuji biarkan saja jangan membuat kita pusing karena tidak dipuji manusia tetapi disukai Allah akan tetap melesat kedudukannya.

Dicaci oleh manusia justru akan menjadi bahan evaluasi bagi kita, siapa tahu yang dianggap cacian menurut kita, padahal merupakan karunia Allah tuntunan untuk memperbaiki diri, maka tidak ada riwayat sakit hati, tidak ada riwayat terluka hati, dan tidak ada riwayat iri dengki yang akhirnya menjadi benci.

Sahabat Kasmaji 81, betapa pentingnya kita melatih diri dalam menyikapi pujian ini, karena kalau kita sudah rindu dengan pujian makhluk, biasanya kita tidak pandai menjaga diri, kita sering menipu diri, untuk dipuji keren kita berani untuk mencicil ini dan mencicil itu yang sebetulnya tidak diperlukan dan hanya akan memperberat hijab saja, misalnya ke sekolah memakai sepatu ingin yang bermerk, padahal semakin mahal sepatu semakin pusing ketika jalan yang dilalui becek, semakin mahal sepatu semakin tidak tenang kalau masuk ke dalam masjid karena takut tertukar.

Makin mahal makin ingin dipuji orang lain dan makin menyiksa diri, begitupun menuntut ilmu kalau kita tidak ikhlas kita sering ingin pamer keilmuan kita padahal yang mendengarkan justru tidak mendapatkan hikmah yang banyak, karena ilmu yang kita sampaikan yang tidak berasal dari hati yang tulus dan tidak bisa menembus hati. Hati-hati keinginan dipuji orang lain, keinginan dihormati orang lain, keinginan dihargai orang lain itu adalah sebuah perangkap yang membuat hidup kita tidak merdeka.

Orang yang merdeka dalam hidup ini adalah orang-orang yang ikhlas, dia tidak dibelenggu oleh penghormatan dan pujian makhluk. Orang-orang yang merdeka adalah orang-orang yang jujur, dia tidak takut ketahuan kekurangannya, tidak rikuh ketahuan kejelekannya karena dia tidak berdusta. Orang yang merdeka itu adalah orang yang tawakal yang tidak pernah bergantung kepada makhluk, sehingga tidak pernah menjilat merendah-rendah kepada manusia, ingin dihargai, ingin dihormati ingin diberi, puas hanya kepada Allah.

Jadi kalau pemerintah – perusahaan ingin sukses maka kita harus memiliki pemimpin yang jujur, yang ikhlas, orang yang tawakal, yang adil, karena orang yang adil itu tidak berbuat dzalim kepada siapapun, merdeka, tidak ada kepentingan bagi dia dari keputusannya untuk kepentingan dirinya tapi kepentingannya adalah kebenaran tegaknya keadilan, itulah orang-orang yang merdeka, maka mulailah mengawali dengan tidak tamak terhadap pujian.

Wallahu a’lam

Comment (1)

  • Didiet Priatmadji| December 24, 2008

    setuju om, kebanyakan orang suka / mengharapkan pujian, padahal pujian cenderung melenakan, ujung2nya membuat orang lupa diri. Sebaliknya orang menghindari atau tidak suka terhadap kritikan, padahal bila suatu kritik dipandang dari sisi positif justru akan membuat kita tahu kekurangan kita dan kita akan belajar dari kekurangan itu untuk menjadi lebih baik. betuull?
    ada lagi yg namanya Syech Puji. tapi kayaknya gak ada hubungannya deh dgn artikel di atas… 🙂 kalo aku sih misalnya, ini cuma misalnya lho, sekali lagi cuma misalnya kuaya ruayaaaaa buangett, terus boleh kawin lagi, sekali lagi cuma misalnya lho, ya gak pilih yg tujuh tahun, atau sembilan tahun, tapi lebih tua-an dikit, tujuh belas atau sembilan belas tahun…bolehlah…… mohon maaf, ini sdh bener2 out of topic…

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *