Punokawan

[Prawacana] Banyak artikel bagus beredar secara broadcast di media sosial. Mungkin telah Anda tandai pula sebagai starred message(s) di WhatsApp. Kami mengumpulkannya dalam satu kategori “Brodkes Sosmed” agar memudahkan saat ingin membaca kembali.

Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-. Contohnya seperti Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai adviser dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh/pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Nala Gareng, juga diadaptasi dari kata arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa, kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Petruk, diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwalLaahi, yang artinya: tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa, setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.

Bagong, berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan. Si “Bayangan Semar” ini karakternya lancang dan suka berlagak bodoh. Secara umum, Panakawan melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Para tokoh panakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada dasarnya setiap manusia umumnya memerlukan pamomong, mengingat lemahnya manusia, hidupnya perlu orang lain (makhluk sosial) yang dapat membantunya mengarahkan atau memberikan saran/pertimbangan.

Pamomong dapat diartikan pula sebagai guru/mursyid terhadap salik yang dalam upaya pencerahan jati diri. Karakter Panakawan sebenarnya muncul berdasarkan penuturan Puntadewa/Dharmakusuma (satu-satunya dari Pandawa yang memeluk Islam) kepada Sunan Kalijaga dalam komunikasi ghaib sesama aulia. Dijelaskan juga bahwa selain Semar, para panakawan yang dinyatakan sebagai anaknya (Gareng, Petruk dan Bagong) sebenarnya adalah dari bangsa Jin.

Tokoh Panakawan dimainkan dalam sesi goro-goro. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan kekerasan antara tokoh-tokohnya hingga lakon goro-goro dimainkan. Artinya adalah bahwa jalan kekerasan adalah alternatif terakhir. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang sama.

Lakon goro-goro pun menggambarkan atau membuka semua kesalahan, dari yang samar-samar menjadi kelihatan jelas sebagaimana sebuah doa: Allahuma arinal haqa-haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba, artinya: Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukillah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya.


Dari FaceBook Umar Habsyi. *Diteruskan kembali oleh Fahmi Alkaf – Grup WA Kasmaji81 (21/01/2017) 

2 Replies to “Punokawan”

  1. Sementara itu, di sisi lain ada nama tokoh “Togog” yg asal katanya dari thoghuut, yang biasa membisikkan kumungkaran dibungkus dengan daya tarik yang tinggi sehingga yg kena bisikan tidak merasa salah melakukan kekufuran serta selalu membisiki kecurigaan kepada kelompok tertentu.

    Togog ini dalam konteks telur yang menjadi putra Sanghyang Wenang berasal dari kulit telurnya. Putih telurnya adalah Ismaya Semar dan kuning telurnya Manikmaya atau Bethara Guru.

    Wah kepancing ndongeng aku Mi ???

  2. Siapakah cakil menurut para Wali ??

    Buto cakil iku pikirane menungso (pikiran sing ora gelem leren). Buto papat (kancane cakil) werno abang – ireng – kuning lan putih … iku nafsu-ne manungso.

    Wayang sekothak itu satemene watake wong SIJI. Saben uwong duwe sifat Punto Dewo, nanging yo duwe sifat Rahwono lan Duryudono. Saben wong duwe sifat Pendowo sejaligus duwe sifat Kurowo. Badan setiap manusia adalah “medan kurusetro” tempat berlangsungnya perang baratayuda antara Pendawa dan Kurawa.

    Sadarkah kalian? Musuhmu itu bukan siapa2, musuhmu adalah egomu atau hawa nafsumu sendiri yang dipimpin oleh setan (pikiranmu sendiri).

    ?? mekaten murih saged nambahi postinganipun mas Fahmi. Kupat ngagem santen menawi lepat nyuwun ngapunten. ??☺?

Leave a Reply to Ira Sumarah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *