The Art of Forgiving

Forward dari milis readers digest indonesia, semoga bermanfaat.

MEMAAFKAN adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam dunia yang tidak ramah ini, padahal sebagian besar umat manusia di dunia ini adalah –atau setidak2nya mengaku– religius. Lihat saja dalam liputan berbagai media, jika ada perayaan2 besar yg menyangkut ibadat agama, luar biasa sekali antusias umat manusia merayakannya, namun ironisnya di dunia ini masih saja ada perang karena perbedaan tersebut.
Gampang diucapkan tapi sulit dipraktekan, Forgiveness, menurut Leonard Horwitz, seorang ahli psikoanalisa itu mengandung 3 unsur penting : 1). Memaafkan orang lain 2). Menerima permintaan maaf orang lain dan 3). Memaafkan diri sendiri. Tetapi hal ini bukannya tidak mungkin dilakukan, perlu upaya dan sangat mungkin, jika memang Anda ingin mendapatkan  kedamaian pikiran, salah satu caranya  adalah  :  “Forgiveness”

The Art of Forgiving

Sikap sulit memaafkan akan menyebabkan berbagai gangguan psikologis

Anda mungkin masih belum dapat memaafkan seseorang yang pernah sangat dekat dengan Anda. Padahal, kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Namun, Anda juga masih belum bisa melupakan orang tersebut beserta kenangan-kenanganny a. Pertanyaannya: Apakah kita sebaiknya perlu melupakan (forget) terlebih dahulu untuk bisa akhirnya memaafkan (forgive)? Ataukah justru sebaliknya?

Sebenarnya, berbicara soal memaafkan tidak bisa lepas dari konsep “forgiveness” itu sendiri. Forgiveness dapat berarti dua hal: meminta maaf dan memaafkan. Untuk melakukan dua tindakan tersebut, ada beberapa elemen yang dilibatkan, seperti korban, pelaku, dan berbagai jenis serta tingkat trauma, luka, atau ketidakadilan.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Leonard Horwitz, seorang ahli psikoanalisa dari Greater Kansas City Psychoanalitic Institute. Sedangkan Enright and Human Development Study Group (1996) menyebutkan bahwa tindakan forgiveness selalu berkaitan dengan tiga aspek. Yang pertama memaafkan orang lain, lalu menerima permintaan maaf dari orang lain, dan terakhir memaafkan diri sendiri. Untuk mencapai tataran forgiveness seutuhnya, ketiga aspek tersebut harus tercapai semua. Sayangnya, kita tidak dapat selalu mendapatkan ketiga aspek tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

Forgiveness memiliki berbagai manfaat, baik secara psikologis maupun kesehatan. Di antaranya adalah memperbaiki hubungan yang renggang antarindividu, menyembuhkan luka batin yang dalam, pemulihan bagi korban maupun pelaku, serta sebagai sarana untuk pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Orang yang sulit untuk memaafkan atau meminta maaf ternyata lebih rentan terhadap berbagai gangguan psikologis. Selain itu, mereka juga sulit untuk bisa mempertahankan tingkat kesehatan mental di hari tuanya.

Jangan pelit memaafkan
Mengampuni seseorang tidak langsung terjadi saat kita telah mengucapkan, “Ya, saya maafkan.” Setidaknya, forgiveness bekerja melalui dua cara:

  1. Kurangi stres yang muncul akibat dari keputusan untuk tidak memaafkan yang selalu diliputi oleh berbagai emosi, seperti sakit hati, kemarahan, agresivitas, kebencian, penolakan, dan ketakutan akan disakiti atau dipermalukan kembali. Jika emosi-emosi tersebut tidak diredakan, akan muncul gangguan-gangguan yang bersifat fisiologis. Misalnya meningkatnya tekanan darah dan perubahan struktur hormonal yang berhubungan erat dengan gangguan fungsi jantung, gangguan kekebalan tubuh, dan gangguan fungsi saraf dan ingatan.
  2. Mencoba memaafkan. Di sinilah kita mungkin akan mengalami masalah, jika kita tipe orang yang sulit memaafkan orang lain. Seseorang yang pendendam dan pelit memaafkan biasanya sulit untuk membina hubungan jangka panjang dengan orang lain. Sebab hubungan yang telah terbina dapat rusak akibat kesalahan kecil. Setelahnya, orang lain pun akan sulit untuk mendekati dirinya karena telah melihat betapa buruknya caranya berelasi dengan orang lain. Lebih lanjut, orang yang sulit memaafkan atau meminta maaf, dan memiliki kebiasaan gemar mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, berpeluang lebih besar mengalami masalah kesehatan fisik dan juga mental.

Memaafkan butuh proses

Ahli teologi bernama Doris Deonneley mengatakan bahwa proses forgiveness membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menerima dan menyadari dampak menyeluruh dari peristiwa yang menyakitkan.
  2. Memutuskan untuk memaafkan.
  3. Menyadari bahwa memaafkan itu sulit untuk dilakukan dan selalu melibatkan suatu proses yang tidak menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya
  4. Memaafkan diri sendiri. Kebanyakan orang mampu memaafkan orang lain tetapi sulit untuk memaafkan diri sendiri untuk perbuatan yang sama.
  5. Mempertimbangkan akibat-akibat yang mungkin muncul jika kita belum dapat atau tidak mau memaafkan.

Hal terpenting yang perlu diingat: forgiveness bukanlah kejadian sesaat, melainkan sebuah proses. Forgiveness adalah suatu proses yang harus ditumbuhkan dan dipelihara karena berlawanan dengan kecenderungan alamiah manusia untuk membalas dendam dan menentang ketidakadilan. Memaafkan secara tulus memang sulit, namun kita semua pasti bisa melakukannya.

Sumber : Prevention | Senin, 9 Maret 2009 | 17:54 WIB

Forward dari milis readers digest indonesia, semoga bermanfaat.
Maaf kalau dobel karena cross posting.
MEMAAFKAN adalah hal yang paling sulit dilakukan dalam dunia yang tidak ramah ini, padahal sebagian besar umat manusia di dunia ini adalah –atau setidak2nya mengaku– religius. Lihat saja dalam liputan berbagai media, jika ada perayaan2 besar yg menyangkut ibadat agama, luar biasa sekali antusias umat manusia merayakannya, namun ironisnya di dunia ini masih saja ada perang karena perbedaan tersebut.

Gampang diucapkan tapi sulit dipraktekan, Forgiveness, menurut Leonard Horwitz, seorang ahli psikoanalisa itu mengandung 3 unsur penting : 1). Memaafkan orang lain 2). Menerima permintaan maaf orang lain dan 3). Memaafkan diri sendiri. Tetapi hal ini bukannya tidak mungkin dilakukan, perlu upaya dan sangat mungkin, jika memang Anda ingin mndapatkan  kedamaian pikiran, salah satu caranya  adalah  :  “Forgiveness”


The Art of Forgiving
Sikap sulit memaafkan akan menyebabkan berbagai gangguan psikologis
Senin, 9 Maret 2009 | 17:54 WIB

Anda mungkin masih belum dapat memaafkan seseorang yang pernah sangat dekat dengan Anda. Padahal, kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Namun, Anda juga masih belum bisa melupakan orang tersebut beserta kenangan-kenanganny a. Pertanyaannya: Apakah kita sebaiknya perlu melupakan (forget) terlebih dahulu untuk bisa akhirnya memaafkan (forgive)? Ataukah justru sebaliknya?

Sebenarnya, berbicara soal memaafkan tidak bisa lepas dari konsep “forgiveness” itu sendiri. Forgiveness dapat berarti dua hal: meminta maaf dan memaafkan. Untuk melakukan dua tindakan tersebut, ada beberapa elemen yang dilibatkan, seperti korban, pelaku, dan berbagai jenis serta tingkat trauma, luka, atau ketidakadilan.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Leonard Horwitz, seorang ahli psikoanalisa dari Greater Kansas City Psychoanalitic Institute. Sedangkan Enright and Human Development Study Group (1996) menyebutkan bahwa tindakan forgiveness selalu berkaitan dengan tiga aspek. Yang pertama memaafkan orang lain, lalu menerima permintaan maaf dari orang lain, dan terakhir memaafkan diri sendiri. Untuk mencapai tataran forgiveness seutuhnya, ketiga aspek tersebut harus tercapai semua. Sayangnya, kita tidak dapat selalu mendapatkan ketiga aspek tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

Forgiveness memiliki berbagai manfaat, baik secara psikologis maupun kesehatan. Di antaranya adalah memperbaiki hubungan yang renggang antarindividu, menyembuhkan luka batin yang dalam, pemulihan bagi korban maupun pelaku, serta sebagai sarana untuk pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Orang yang sulit untuk memaafkan atau meminta maaf ternyata lebih rentan terhadap berbagai gangguan psikologis. Selain itu, mereka juga sulit untuk bisa mempertahankan tingkat kesehatan mental di hari tuanya.

Jangan pelit memaafkan
Mengampuni seseorang tidak langsung terjadi saat kita telah mengucapkan, “Ya, saya maafkan.” Setidaknya, forgiveness bekerja melalui dua cara:

  1. Kurangi stres yang muncul akibat dari keputusan untuk tidak memaafkan yang selalu diliputi oleh berbagai emosi, seperti sakit hati, kemarahan, agresivitas, kebencian, penolakan, dan ketakutan akan disakiti atau dipermalukan kembali. Jika emosi-emosi tersebut tidak diredakan, akan muncul gangguan-gangguan yang bersifat fisiologis. Misalnya meningkatnya tekanan darah dan perubahan struktur hormonal yang berhubungan erat dengan gangguan fungsi jantung, gangguan kekebalan tubuh, dan gangguan fungsi saraf dan ingatan.
  2. Mencoba memaafkan. Di sinilah kita mungkin akan mengalami masalah, jika kita tipe orang yang sulit memaafkan orang lain. Seseorang yang pendendam dan pelit memaafkan biasanya sulit untuk membina hubungan jangka panjang dengan orang lain. Sebab hubungan yang telah terbina dapat rusak akibat kesalahan kecil. Setelahnya, orang lain pun akan sulit untuk mendekati dirinya karena telah melihat betapa buruknya caranya berelasi dengan orang lain. Lebih lanjut, orang yang sulit memaafkan atau meminta maaf, dan memiliki kebiasaan gemar mengungkit-ungkit kesalahan orang lain, berpeluang lebih besar mengalami masalah kesehatan fisik dan juga mental.
Memaafkan butuh proses
Ahli teologi bernama Doris Deonneley mengatakan bahwa proses forgiveness membutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Menerima dan menyadari dampak menyeluruh dari peristiwa yang menyakitkan.
  2. Memutuskan untuk memaafkan.
  3. Menyadari bahwa memaafkan itu sulit untuk dilakukan dan selalu melibatkan suatu proses yang tidak menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.
  4. Memaafkan diri sendiri. Kebanyakan orang mampu memaafkan orang lain tetapi sulit untuk memaafkan diri sendiri untuk perbuatan yang sama.
  5. Mempertimbangkan akibat-akibat yang mungkin muncul jika kita belum dapat atau tidak mau memaafkan.
Hal terpenting yang perlu diingat: forgiveness bukanlah kejadian sesaat, melainkan sebuah proses. Forgiveness adalah suatu proses yang harus ditumbuhkan dan dipelihara karena berlawanan dengan kecenderungan alamiah manusia untuk membalas dendam dan menentang ketidakadilan. Memaafkan secara tulus memang sulit, namun kita semua pasti bisa melakukannya.

Sumber : Prevention

One Reply to “The Art of Forgiving”

  1. Yud dan temen2 Kasmaji 81,

    Mengapa “forgiveness” tidak mudah/sulit dilakukan? Memang ada sesuatu yg kurang pas dalam melakukan hal itu bahkan bagi orang2 yang ngakunya religius.

    Untuk itu marilah kita tengok dahulu diri kita. Apa sebenarnya yg ada didalam diri kita ini? Bahwa ada yg namanya:
    1.Yang asalnya dari Tuhan dan nantinya kembali ke Tuhan YME sebut saja Jiwa (sumangga apapun anda menyebutnya). Si jiwa spy bisa hidup di dunia yang nyata ini diberi…
    2. Wadah/jasad/badan wadhag, bisa berujud laki2 atau wanita. Pada wadah tsb dilengkapi juga dengan…
    3. Pancaindera,
    4. Akal pikir,
    5. Hati/kalbu,
    6. Nafsu-nafsu dan juga..
    7. Daya-daya hidup, seperti daya hidup kebendaan/material, daya hidup tumbuh2an, daya hidup hewani, daya hidup jasmani (orang) dan masih ada lagi daya2 hidup yg sdh tdk bisa terjangkau dg akal pikiran maupun hati manusia.

    Pada nomer 7 (daya2 hidup) disertakan oleh Tuhan YM Kuasa pada manusia agar supaya manusia bisa hidup dan dapat mencukupi kebutuhannya hidup di dunia, mis: membikin rumah, pakaian, mobil, duwit dsb yg kesemuanya adalah karena adanya daya kebendaan, bahkan di dalam diri manusia juga ada benda yaitu tulang (bgmn kalau manusia tanpa benda/tulang?).

    Untuk merawat tubuhnya manusia harus makan baik dari tumbuh2an maupun hewani (bagaimana kalau tdk makan),

    Untuk supaya menjadi beranak pinak manusia hrs kumpul dg manusia (daya jasmani) atau misalkan kalau sesudah bayi lahir tapi kumpulnya terus sama binatang apa jadinya nanti.

    Selanjutnya perlu kita ketahui dan insyafi bahwa mekanisme di dalam diri kita tentang ke-7 hal tersebut di atas adalah sebagai berikut: Daya2 hidup memperdayai/menguasai Nafsu. Nafsu bersarangnya di hati, akal pikir dan pancaindera kita. Dari hati/kalbu maupun akal pikir lewat pancaindera dan badan wadag kita terwujudlah/keluar suatu action/tindakan yg nyata (berbuat baik, menolong sesama, mencuri, marah, selingkuh dsb)

    Bagaimana peran si Jiwa? Jiwa adalah isi dari pada manusia hidup yg seharusnya menjadi JURAGAN sedangkan no: 2,3,4,5,6 dan 7 adalah PEMBANTU2-nya. Karena kesalahan si manusia, Juragan tersebut dikuasai/tertutupi/ oleh pembantu2nya tsb.

    Mau forgiveness atau tidak awalnya dari apa yg di dalam hati dan pikiran kita. Melakukan “Forgiving” yang sebenar-benarnya idealnya dilakukan oleh “Juragan yang sudah bisa menguasai Pembantu2nya” bukan dg cara “Pembantu menguasai/mengendalikan Pembantu lainnya” !!

    Tetapi bukan berarti itu tidak dilakukan, tetap harus dilakukan tetapi si manusia juga harus berusaha bagaimana agar Juragan menguasai Pembantunya (dpt disebut usaha lahir dan bathin).

    Bagaimana Juragan spy bisa menguasai Pembantunya?
    Bagi kalangan religius, para leluhur, para utusan maupun para Nabi, SALAH SATUNYA ialah dg sering melakukan apa yg disebut PUASA, yg pada intinya adalah menenteramkan hati dan akal pikirnya dari pengaruh nafsu2 dg cara mengurangi suplai makanan yg akan menjadikan no: 2,3,4,5,6 dan 7 lemah/dilemahkan supaya tdk mendominasi, sehingga diharapkan kalau mendapat kemurahanNYA si Juragan akan makarti/eksis dan terbimbing olehNYA untuk menguasai pembantu2 tsb.

    Dengan terkuasainya sipembantu oleh jiwa maka pembantu2 tersebut tdk akan bertindak seenaknya sendiri kalau tdk diperintah sang juragan (Jiwa).

    Kita tahu bhw manusia diciptakan sebagai mahluk paling mulia oleh karena itu para pembantu tsb berusaha saling berebut untuk menikmati kemuliaan yg diberikan oleh Tuhan YMKuasa kepada manusia.

    Dan juga tidak kalah pentingnya bahwa hal tersebut di atas, seyogyanya dilakukan atas dasar kebaktian manusia kepada Tuhan YME dg selalu sabar, tawakal dan ikhlas dan dengan tujuan untuk menjadi manusia YG BAIK SESUAI KEHENDAKNYA. Amien.

    Nwn,
    Ady S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *