Ahli Surga

mustadihisyam, 18/09/08

.
Saat Rasulullah saw bersama para sahabatnya, beliau berkata, ”Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang ahli surga.” Tidak lama setelah itu lewatlah seorang dari Anshar. Keesokan harinya Rasululah saw berkata seperti yang beliau katakan sehari sebelumnya, begitu pula di hari ketiga.

Pernyataan Rasulullah itu membuat penasaran Abdullah bin Amru. Ia ingin mengetahui amalan apa yang membuat orang dari Anshar itu menjadi ahli surga. Akhirnya ia mengikuti orang itu dan berkata kepadanya, ”Wahai saudaraku, ketahuilah antara aku dan ayahku terjadi perselisihan dan aku bersumpah tidak akan masuk rumahnya selama tiga hari. Bagaimana jika sementara tiga hari ini aku tinggal di rumahmu?” Orang itu pun menjawab, ”Mari, dengan senang hati.”

Selama tiga hari ia tinggal di sana. Namun, ia tidak menjumpai orang itu melaksanakan shalat tahajud, atau amalan istimewa lainnya. Amalannya sehari-hari seperti kebanyakan orang. Namun, ia tidak mendengar orang itu berbicara kecuali perkataan yang baik.

Setelah malam ketiga berlalu, Abdullah bin Amru semakin heran karena tidak menemui amalan istimewa dari orang itu. Sehingga, esok harinya, saat hendak permisi ia berkata kepadanya, ”Wahai hamba Allah, ketahuilah, sebenarnya antara aku dan ayahku tidak terjadi perselisihan dan aku pun tidak berjanji untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Aku ingin tinggal di rumahmu karena aku mendengar nabi saw pernah berkata selama tiga hari bahwa akan muncul di antara kami seorang ahli surga.

Dan selama itu pula yang muncul di hadapan kami adalah kamu. Karena itu aku ingin tahu lebih dekat apa amalan yang kamu lakukan sehingga aku bisa mengikutimu. Namun, terus terang, selama tiga hari aku bersamamu aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang istimewa. Sebenarnya apa rahasia amalanmu yang membuat Rasulullah mengatakan bahwa kau ahli surga?”

Orang itu berkata, ”Ya, benar, amalanku adalah seperti yang kamu saksikan.” Tetapi, ketika Abdullah bin Amru pamit untuk pergi, ia memanggilnya dan berkata, ”Amalanku adalah seperti yang kamu lihat, namun aku tidak merasa iri, dengki kepada seorang pun atas kebaikan atau kenikmatan yang didapatkannya dari Allah SWT.” Mendengar itu, Abdullah bin Amru berkata, ”Inilah yang dapat kau lakukan dan yang belum dapat kami realisasikan.”

Iri dan dengki adalah penyakit jiwa yang sering terjadi pada manusia, dimana manusia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu yang bersifat batiniah. Kenapa tidak bisa mengendalikan hawanafsu? Tidak lain karena Jiwa/nafs manusia kondisi lemah, sakit bahkan lumpuh, sebab tidak pernah menerima asupan makanan yang dipancarankan dari kesucian Ruhul Kudus yang bersemayam dalam kalbu manusia. Energi Ilahi yang dipancarkan oleh Ruh manusia tidak mampu menembus kalbu karena kalbu penuh dengan kotoran, sehingga cahaya Ilahi tidak sampai dalam Jiwa manusia.

Cara yang paling mudah adalah bersihkan Kalbu itu, supaya dapat di tembus oleh pancaran Ilahi yang ada dalam Ruh manusia. Dan cara yang paling mudah itu salah satunya adalah Puasa. Puasa dengan Imanah dan wahtisaban ( penuh keyakinan dan keichlasan ) akan membersihkan kerak-kerak yang menempel pada kalbu. Kalau Kalbu bersih maka Ruhul Kuddus akan memancarkan energi ke dalam jiwa, sehingga sehatlah jiwa itu. Kalau Jiwa sehat maka hawanafsu akan dapat terkendali, itulah yang di sebut jiwa yang Muttaqin.

Ayo mari kita sama-sama bangunkan Jiwa di bulan Ramadhan ini !

.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat