Amar Ma’ruf nahi Mungkar

mustadi“Meningkatkan Derajat Ketaqwaan dg Amar Ma’ruf nahi Mungkar”.
Oleh Mustadihisyam

Setelah kita berusia lebih dari lima puluh tahun ini mungkin sejenak kita merenung apakah kita sudah berada pada jalur hidup yang diridhoi Allah atau masih nafsi-nafsi? Sholat dan puasa sudah dilakoni, haji pernah, bayar zakat ga pernah telat, sudah cukupkah itu sebagai parameter ketaqwaan kita kepada Allah? Bagaimana kita dalam bertingkah laku selama ini, sudahkan mulut kita berkata yang baik dan benar, sudahkah mata kita berhenti bermaksiat, sudahkah telinga kita berhenti menengarkan kata tak senonoh, sudahkan tangan kita digunakan hanya untuk yang hak dan kaki kita hanya melangkah berjuang mencari bekal didunia untuk akhirat nanti? Sepertinya semuanya masih tanda tanya. Seberapa tingkat derajat ketaqwaan kita kepada Tuhan Sing Nggawe Urip, Sing Ngecet Godong sak ndonya ini?

Untuk menjawab ini selayaknya perlu perfikir secara proporsional antara kuantitas dan kualitas ibadah kita selama ini. Saya yakin secara kuantitas ibadah kita tak perlu dikhawatirkan. Bagaimana secara kualitas? Kadang-kadang setelah kita sholat, kita puasa begitu selesai semuanya tinggal kenangan. Artinya ibadah yang kita lakukan tak mampu diperdayakan dalam tingkahlaku perbuatan sehari-hari. Akhlaq tidak berbicara lagi, padahal agama itu akhlaqul karimah. Ini berarti secara kualitas ibadah kita masih perlu ditingkatkan lagi derajat ketaqwaannya.

Tidak bisa dipungkiri memang derajat ketaqwaan manusia terbagi dalam beberapa tingkatan yaitu Muslim, Mukmin, Muhsin, Mukhlis dan Muttaqin. Tingkatan ini bukan berarti Islam mengkastakan umatnya secara parsial, tetapi membagi berdasarkan derajat ketaqwaannya kepada Allah. Dan derajat itu bisa dicapai oleh siapapun tanpa emban cinde emban siladan – tanpa membeda-bedakan.  Ada lima tingkatan dalam Islam.

Pertama adalah orang Islam (muslim), yaitu orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji melaksanakan syariat Islam dengan baik, mendirikan sholat, melaksanakan ibadah puasa, membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Inilah tingkatan derajat ketaqwaan yang paling dasar.

Kedua adalah orang beriman (mukmin), yaitu orang yang betul-betul beriman kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Sesuai dalam QS Al Anfal ayat 2-4 “Sesungguhnya orang Mukmin itu adalah apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah keimanannya, dan mereka bertawakal kepada Allah. Dan mereka mendirikan sholat, serta menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka. Itulah orang yang sebenar-benarnya beriman, bagi mereka itu akan Kami angkat derajatnya, Kami ampuni dosa-dosanya, dan Kami berikan kepadanya rizqi yang mulia”.

Ketiga adalah orang yang selalu berbuat baik (muhsin), yaitu orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tidak mau menyakiti hati orang lain, tutur katanya santun – bicaranya selalu dipikir dulu sebelum diucapkan, tidak pernah mau ingkar janji, selalu menebar kasih sesama mahluk Tuhan, dan jauh dari keburukan.

Keempat adalah orang yang ikhlas dalam menjalankan agama (mukhlis), yaitu orang yang mau merelakan jiwanya, hartanya, segala sesuatu yang mereka miliki semata-mata untuk berjuang untuk agama Allah dengan ikhlas dan hatinya ridha terhadap ketentuan Allah. Hidupnya senantiasa tak pernah nggresulo, kepasrahannya begitu tinggi. Untuk mencapai derajat ini tentu harus berusaha ibadah yang super keras.

Yang kelima adalah orang yang bertaqwa (muttaqin), inilah derajat paling tinggi di sisi Allah dimana manusia telah menjadi insan kamil – orang yang disayang Allah baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kemana mata memandang, Allah selalu tampak mendampinginya, orang ini benar-benar tak mau menghianati hubungannya dengan Allah. Inilah derajat yang diharapkan manusia setelah melaksanakan ibadah puasa dibulan Ramadhan.

Orang yang beribadah kepada Allah bukan karena pingin masuk surga dan takut ke neraka, tapi dia beribadah semata-mata karena cintanya kepada Allah.

Seperti kata seorang wanita sufi Siti Rabiah Adawiya, 105 H – 185 H

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu
maka bakarlah aku di dalamnya. 
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu 
maka haramkanlah aku daripadanya. 
Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu 
maka berikanlah aku balasan yang besar, 
berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Sekarang bisa mengira-ira pada posisi dimana derajat ketaqwaan kita selama ini.

Semoga dengan bertambahnya umur ini kita senantiasa selalu bisa meningkatkan derajat ketaqwaan kita, dengan jalan ber Amar Ma’ruf Nahi Mungkar – saling mengajak berbuat yang baik dan mengingatkan apabila diantara kita ada yang tidak benar dalam berucap ataupun bertingkah laku. Perbaiki ucapan kita, jaga mata kita dari pandangan yang tak pantas, hargai orang lain dengan cara menjaga perasaannya.

Yuuk… jadikan komunitas kita ini sebagai ajang ber Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, jangan sampai ada yang ber Amar Ma’ruf Nyambi Mungkar.

Wassalamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.

Mustadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat