Arya Seta

mama iraOleh Ira Sumarah Hartati Kusumastuti 

Arya Seta menajamkan pendengarannya, sayup sayup terdengar jeritan seorang putri di kejauhan, dan gelak tertawa menakutkan para Yaksa, bergegas Arya Seta berlari menuju arah suara.

Di tengah padang ilalang, dilihatnya seorang putri yang kulitnya bersinar terang, tengah berlari dengan sebagian bajunya compang camping terkena semak belukar, dikejar sekawanan Yaksa yang mengejar sambil meneteskan liurnya menjijikkan.

Yaksa : “Ayolah manis…. berhentilah berlari, mari layani kami memasuki surga dunia…hwahahaha… dhenok dhubleng, sayang kau sia-siakan kecantikanmu…”

Arya Seta pangeran Wirata, tidak tahan mendengar perkataan yang kasar dari sang Yaksa, bagai kilat menyambar, sang Pangeran melompat dan membagikan tendangannya ke kerumunan Yaksa itu. Terjadilah pertempuran yang hebat. Para Yaksa itu mengerojok Raden Arya Seta. Namun ketangguhan dan keberanian Arya Seta memang bukan tandingan para Yaksa itu. Mereka dibuat lintang pukang, kocar kacir. Akhirnya para Yaksa itu melarikan diri, meninggalkan sang Putri yang kerepotan merapikan pakaiannya.

Kanekaputri : “Duh Satria…siapakah Jengandika?”

aryaseta

Arya Seta (bergetar hatinya mendengar suara merdu sang Dewi yang mendesah bagaikan berlagu, diliriknya wajah sang Dewi.. Duhai, wajah cantik itu bersinar cemerlang, pasti bukan manusia biasa…bidadarikah putri ini? batin Arya Seta bergolak, hasrat kejantanannya menggeliat bersama nalar keingin tahuannya) : “Sang Dewi, namaku Arya Seta, putra Prabu Matsyapati dari kerajaan Wirata, ibuku dewi Rekatawati putri resi Palasara dan Dewi Durgandini…”

Kanekaputri : “Ah..jengandika pangeran Wirata cucu Resi Palasara yang terkenal itu. pPntas saja kesaktian paduka demikian hebat… “(Sang Dewi mulai mendekat, menghantarkan bau harum yang makin menggoncangkan iman Arya Seta).

Arya Seta : “Duhai Dewi Jelita, siapakah jengandika dan darimana asalmu hingga diganggu para Yaksa di tengah hutan ini?”

Kanekaputri : “Namaku Dewi Kanekaputri putra Sanghyang Narada tinggal di kahyangan Siddi Udaludal atau Sudukpangudaludal. Saat Fajar tadi, aku mengikuti mimpiku, bahwa aku akan bertemu jodohku di tepi telaga hutan ini, beningnya telaga menggodaku untuk mandi sejenak, belum sampai kuloloskan semua busanaku, tiba-tiba serombongan yaksa hendak merudapaksa aku Raden. Akhirnya aku lari menyelamatkan diri… dan andikalah yang menyelamatkan aku.”

(semakin Kanekaputri mendekat, raga Aryaseta makin bergetar, bibir lembut itu mengisahkan keinginannya mandi di telaga… Aah, angan Aryaseta mengembara nakal menelusuri mulusnya kulit sang Dewi, hingga kalimat berikutnya dari Sang Dewi menyentakkan rasanya)

Kanekaputri : “Raden…tampaknya mimpiku sudah sampai pada kenyataan, padukalah ksatria jodohku, yang dituntun Hyang Maha Agung sendiri bertemu aku disini, terimalah bhakti dan kepasrahanku padamu, Raden.” (Kaneka Putri sujud dihadapan Arya Seta, tangannya yang halus lembut, memeluk kaki sang Teruna, bibirnya menyentuh atas dengkul Arya Seta..yang membuat sang pangeran terserang sengatan birahi sampai ke ujung ubun-2nya)

Arya Seta : “Duh sang Dewi… paduka bidadari putri Hyang Narada, bagaimana mungkin aku yang manusia biasa bisa merengkuh ketinggian derajadmu…”
(Bibir Arya Seta berucap sangsi, namun tangannya menyambut pelukan sang Dewi….akhirnya jagad menjadi saksi, bersatunya dua mahkluk berbeda derajad)

Arya Seta akhirnya menikah dengan Dewi Kanekaputri putri Sanghyang Narada dari kahyangan Siddi Udaludal. Untuk menambah kesaktiannya sebagai calon senopati Pandawa saat perang Barathayudha kelak, Hyang Narada membekalinya dengan ilmu sakti Aji Narantaka, yang akan membuat musuhnya hancur lebur ketika terkena ajian itu.

Di masa tuanya Arya Seta menyerahkan kerajaan pada adik-adiknya Raden Wratsangka dan Raden Utara, sedangkan dia memilih memasuki kehidupan Brahmana bersama istri bidadarinya menjadi pertapa dengan gelar Resi Seta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat