Bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan…

mustadiSaudaraku hari ini Rabu adalah hari Arafah, dimana saudara kita seiman sedang melaksanakan wuquf di Arafah, semalam mungkin ada yang menginap di Mina untuk menjalankan sunah Rasul. Saat wukuf ini kita merenung, memutar video cassete perbuatan perbuatan kita sejak saat masih remaja sampai dewasa, dosa apa, kesalahan apa, kebathilan apa, keserakahan apa, pengkhianatan apa yang kita lakukan selama ini, dan masih banyak pertanyaan apa dan apa yang pernah kita lakukan selama ini. Di saat manusia tidak berdaya, di padang Arafah yang luas itu, kita seolah-olah berbincang kepadaNya, tidak ada daya, tidak ada manusia yang luput dari auditNya.

Kita hanya bisa  menangis, hanya bisa menjerit sepuas-puasnya…. “Ya Allah ampunilah dosa hambamu yang hina ini… yang dholim ini…. yang sering lupa diri ini… yang sering mengumbar hawa nasfu angkara murka ini…. kami bertaubat Gusti, kami menyadari  semua kesalahan yang pernah kami lakukan selama ini, tidak ada jalan lain duh Gusti kecuali taubat kepadaMu,  dan kami percaya, haqqul yakin Engkau La Ghofuur rurrochim, Maha Pengampun dan Penyayang. AmpunananMu tidak memilih kasih, kasih sayangMu tulus tanpa basabasi, tanpa embel-embel dan topeng kepalsuan, tak terbatas dimensi ruang dan waktu. CintaMu tak lekang dimakan waktu, abadi selalu, tumbuh subur halam hati sanubari hambamu. Karena itu Gusti… di padang Arafah ini, kami berjanji kepadaMu “shalat kami, ibadah kami, hidup dan mati kami karena cinta kami kepadaMu”.

Janji ini menyadarkan kami bahwa bandha (harta) itu hanya titipan, pangkat (kedudukan) itu hanya sampiran dan nyawa hanyalah pinjaman.

Di dalam tenda putih di padang Arafah yang menjadi saksi bisu ini, hambamu memohon kepadaMu semoga orang-orang yang pernah menyakiti hati, yang pernah berbuat dholim kepada hambaMu ini jangan Engkau jauhi, jangan Engkau sakiti, tapi ampunilah mereka, maafkan mereka, kasihanilah mereka dan sayangilah mereka, tuntunlah mereka dan bukalah pintu hatinya agar kembali menghadapkan wajahnya kepadaMu.

arafah

Dan di padang Arafah ini hambamu rinduuu sekali akan kasih sayang kedua orang tua, saat digendong, saat dipeluk, saat dicium keduanya membekas dalam hati dan ingatan ini. Kasih sayangnya tak akan pudar, tidak akan hilang ditelan kegelapan malam, abadi dan sungguh tidak ternoda.

Terimakasih Ibu… terimakasih Bapak.. yang telah membesarkan, mengasuh dan menjaga kami sehingga anakmu bisa menjadi seperti ini. Anakmu belum bisa berbuat apa-apa kepadamu, belum bisa membalas kelezatan air susumu, satu-satunya yang bisa kami sembahkan kepadamu adalah berusaha menjadi anak yang sholeh- sholehah, meneruskan cita-citamu, menyambung tali silaturahim dengan para sahabatmu dan mendoakanmu,

robighfirli waliwalidayya

“Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami, sayangilah beliau berdua sebagaimana beliau menyayangi kami di waktu kecil”.

Di bawah pohon di padang Arafah yang semilir ini, hambaMu bermunajad kepadaMu, semoga pendamping hidup kami dan anak-anak kami ini menjadi permata hati kami, yang mampu menyejukkan hati kami. Dan semoga hambaMu ini mampu dan mau mengemban amanahMu membawa kehidupan keluarga yang penuh dengan Kasih dan Sayang. Harapan kami kepadaMu adalah “Menjadikan Istri dan anak-anak kami adalah Surga untuk kami “

Tanpa terasa tengah hari sudah berangsur sore, rasanya perjumpaan kami denganMu ini begitu singkat, tapi kami puas bisa bercengkerama denganMu di atas bumiMu di Padang Arafah ini. Menjelang Maqrib hambamu bersiap diri menuju tempat yang telah Engkau tetapkan yaitu Musdhalifah, diiringi suara Labbaik Allahhumma labbaik, labbaik laa syarikalaka labbaik, Innalhamda, wanikmata, walmulka laa syarikalaka” menelusuri jalan yang penuh sesak.

Ketika sampai di Musdhalifah terbayang padang pasir yang sangat luas tak terbatas, lautan manusia yang serba putih bagaikan terbungkus kain kaffan bergelimpangan di atas butiran pasir, tidak ada sofa, tidak ada keluh kesah, tidak ada emosi, semua nya diam merenung akan kebesaran Tuhan, merenung akan Yaumil ahkir – hari perhitungan – di padang Maqshar nanti. Tidak ada daya dan kekuatan saat badan ini tergeletak di atas padang pasir, semuanya menengadah ke atas langit yang begitu luas, bintang-bintang kelap kelip seolah-olah ingin mengucapkan selamat tidur di bumi Musdhalifah, selamat bermimpi yang indah, inilah kehidupan sejati dan sejatinya kehidupan. Senang.. haru…sedih… dan lucu menjadi satu!

Subuh pun tiba, berusaha khusuk sholat berjamaah di hamparan padang pasir, suara takbir menggema di mana-mana. Persiapan jalan kaki menuju Mina yang berjarak kurang lebih 10 km dimulai, dengan tekad semangat bulat kami berdoa semoga perjalanan kaki menuju Mina ini diberikan kemudahan, karena bis-bis yang menuju Mina sudah tidak ada lagi. Ketika bersiap-siap berjalan kaki berangkat menuju Mina, ternyata janji Allah adalah benar, yaitu akan menyambut tamuNya dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang tak diduga-duga. Tiba-tiba dengan tak terduga, di luar nalar manusia, terdengar suara gemuruh, ternyata datang dua bus kosong menghampiri kami dan mengantar ke Mina, terimakasih Gusti… Engkau Maha mendengar doa kami, Engkau mengerti kekuatan hambamu yang sudah lelah ini, yang semalam begadang bersama denganMu.

Semoga ya… Allah, pengalaman ini, renungan ini menjadi oleh-oleh untuk para saudara tercinta kami, dan bermanfaat bagi pribadi kami, selalu menjadi kenangan manis dalam perjalanan hidup ini.

Terakhir doa kami kepada Mu yaa Allah, semoga para sahabat kami, saudara dan keluarga kami yang tahun ini belum sempat Engkau undang untuk datang ke Baitullah rumahMu, mudah-mudahan Engkau izinkan untuk datang memenuhi rukun Mu, ibadah Haji, semoga Mabbrurah !

Wallahua’lam bi ash shawab.
Salam, Mustadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat