Belajar dari Bintang Kejora

Oleh Mustadihisyam

Saat maghrib tiba tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan tipis musim kemarau ini tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora, menurut Ibnu Abas disebut bintang Musytari, bangsa Romawi dan Yunani yang mempertuhankan bintang, merupakan bintang yang paling agung.

Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur, menurut Qatadah disebut bintang Zuhrah. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bangsa Kaldani merupakan kaum Nabi Ibrahim yang menyembah bintang. Nabi Ibrahim mulai bertanya, apakah bintang yang bersinar ini Tuhanku yang layak aku sembah?

Mengamati langit, terasa nuasa semasa Nabi Ibrahim merenungi alam, mencari representasi Tuhan yang hakiki (Q. S. Al An’am, ayat 76-79).

Saat malam mulai gelap tampaklah sebuah bintang. “Inikah Tuhanku” kata Ibrahim. Tetapi bintang kejora tak lama tampak. Sekitar pukul 21.00 bintang kejora pun terbenam. Nabi Ibrahim pun berkata, “Aku tak menyukai yang tenggelam.”

Hatinya mulai tidak tertarik kepada bintang yang bercahaya itu, karena saat hati kesengsem, dia pun menghilang. Pantaslah ini disebut Tuhan!

Beberapa saat kemudian terbitlah bulan yang cemerlang pasca purnama. “Inilah Tuhanku” katanya. Namun saat pagi bulan pun memudar kemegahannya. Ibrahim pun berujar pada dirinya, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk kaum yang sesat.” (ayat 77).

Bulan menyinari bumi lebih luas dari pada bintang, sinarnya dapat membuat orang terpesona, berkhayal dan bisa jadi memujanya. Tapi begitu sinarnya meredup dan menghilang di saat fajar, Ibrahim semakin tambah insaf dari pada keinsafan saat bintang menghilang, kalau sekiranya Allah tidak menunjukinya, merasalah dia akan semakin tersesat oleh khayalannya sendiri. Cahaya bulan hanya remang-remang, tidak sanggup membedakan warna, maka cahaya bulan hanya mempesona khayalan, bukan menjelaskan kenyataan

Saat pagi dilihatnya matahari yang paling cemerlang yang mengalahkan segala sumber cahaya. “Inilah Tuhanku, ini paling besar”, ujar Ibrahim dalam pencarian kebenaran. Tetapi saat maghrib matahari pun menghilang. Tidak mungkin Tuhan yang Mahakuasa bisa lenyap. Maka diserulah kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari segala yang kamu persekutukan (dengan Tuhan) .” (ayat 78).

Saat fajar tiba cahaya matahari mampu memadamkan sinar bulan dan bintang, disambut kegembiraan margasatwa, ayam berkokok, burung berkicau,kehidupan mulai terjadi, sehingga ada yang percaya bahwa matahari sebagai tuhan pemberi hidup.

Tetapi begitu senja datang dan mataharipun tenggelam, Ibrahim semakin tidak yakin kalau Tuhan itu bisa tenggelam, pasti ada kekuasaan yang lebih besar dan mengatur alam ini, maka Ibrahim terlepas dari orang-orang yang menuhankan sang surya itu.

Kesimpulan pembuktian aqliyah tersebut tentang eksistensi Allah diabadikan di dalam QS. Al An’am, ayat 79 yang selalu kita baca dalam doa iftitah pada awal shalat: “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi, berpendirian lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kisah itu memberi pelajaran penting bagi manusia. Kemegahan dan keunggulan relatif adalah sifat makhluk yang berpotensi menipu manusia. Sejarah telah menunjukkan banyak kaum penyembah bintang atau matahari, mempertuhankan jabatan, atau minimal mengkultuskan seseorang. Untuk itu banyak juga yang mau berkorban demi mengagungkan sesuatu atau figur yang dipujanya.

Padahal kemegahan atau keunggulan itu bisa jadi bukan sifat yang intristik (mendasar ) pada objek itu. Bintang kejora adalah contohnya. Planet Venus itu tidak menghasilkan cahayanya sendiri. Planet yang dijuluki saudara kembar bumi yang jelita sekadar memantulkan cahaya bintang induknya, matahari. Kecemerlangannya diperoleh karena kedekatannya dengan matahari dan berada tidak jauh dari bumi.

Bintang kejora dipuji karena kecemerlangan relatifnya. Dijadikan lagu yang dinyanyikan anak-anak. Tetapi tak banyak orang tahu tentang hakikatnya, karena orang cukup kagum dengan kemegahan sinar pantulannya. Orang terlanjur menyebutnya bintang, padahal sekadar planet. bahkan lingkungan planetnya pun sesungguhnya tidak bersahabat bagi kehidupan. Luar biasa panasnya dengan efek rumah kaca karena kandungan karbon dioksida yang sangat tinggi.

Dalam dinamika hidup manusia fenomena bintang kejora mudah ditemukan. Nepotisme pun mudah tumbuh dari fenomena seperti itu. Karena masyarakat kehilangan daya kritis untuk menelaah secara seksama sifat intrinsiknya, bila yang ditonjolkan sekadar sinar pantulannya yang cemerlang. Banyak orang mengaku sebagai tokoh pembela rakyat, sehingga rakyat terpesona dengan ucapannya, padahal hanya sebatas kata, tidak ada kenyataannya.

Kenapa bisa? Karena dia besar bukan karena kebajikannya, bukan karena kedekatannya dengan rakyat, bukan karena kepandaiannya, dia besar karena pantulan sinar kebesaran dari orang tuanya, keluarga dan sahabatnya, laksana planet venus bersinar hanya sesaat setelah itu lenyap.

Satu-satunya cara menghindarkan diri dari tipuan fenomena bintang kejora adalah meresapi makna doa iftitah yang menyambung pernyataan Nabi Ibrahim tersebut: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat