Daya Cinta Empati

diah1

Oleh : Diah Karmiyati*

.

Jangan pernah membuka pintu untuk mengetahui bagi siapakah dering bel; dering bel itu untuk anda (Donne, dalam Goleman, 1996)

.

Kalimat di atas menunjukkan hubungan yang sangat erat antara empati dan kepedulian. Kepedihan orang lain merupakan kepedihan diri sendiri. Merasakan perasaan orang lain adalah menyayangi. Sikap empatik adalah keterlibatan yang terus menerus dalam pertimbangan moral, karena dilemma moral seringkali kita hadapi. Haruskah kita menepati janji untuk membantu para korban Tsunami, atau mengikuti ajakan teman liburan ke Bali?

Akar moralitas ada dalam empati, sebab berempati pada seseorang; misalnya seseorang yang dalam keadaan sakit, bahaya, bencana, atau kemiskinan; dan ikut merasakan kemalangan mereka, akan mendorong orang untuk bertindak memberi bantuan. Proses alamiah empati berkembang sejak bayi dan berlanjut pada masa-masa perkembangan berikutnya. Pada anak usia satu tahun, akan merasakan sakit pada dirinya apabila melihat anak lain jatuh dan menangis; perasaannya demikian kuat, sehingga ia membenamkan kepalanya di pangkuan ibunya, seolah-olah ia sendiri terluka. Pada usia remaja mereka sudah dapat merasakan kesengsaraan suatu kelompok masyarakat, misalnya kaum miskin, kaum tertindas, kaum yang tertimpa musibah, atau mereka yang terkucil dalam masyarakat.

Pemahaman itu dalam masa remaja dapat mendorong keyakinan moral yang berpusat pada kemauan untuk meringankan ketidak-untungan dan ketidak-adilan. Empati mendasari berbagai tindakan dan pertimbangan moral dalam berbagai bidang kehidupan. Empati akan tetap menjaga seseorang berbuat kebaikan, dan dapat menghindarkannya dari tindakan-tindakan buruk dan kejahatan. Empati memupuk cinta dan kasih sayang yang makin langka pada saat ini diantara sesama.

Merasakan keadaan subyektif orang lain merupakan tanda-tanda seseorang dapat berbagi cinta dan kasih sayang. Empati yang berkembang dan dikembangkan oleh seseorang akan membawanya ke tingkat martabat manusia yang paling luhur. Rasanya hidup menjadi penuh dengan kedamaian, apabila setiap orang mau dan mampu mengembangkan empatinya.

Sudahkah kita memiliki empati dan menerapkannya?

.

* Diah saat ini kandidat doktor psikologi Unpar Universitas Padjadjaran

One Reply to “Daya Cinta Empati”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat