ASI = Air Susu sapI?

Posted on mailing list by Mustadihisyam, Oct. 31, 2008

.

Mustadihisyam

Keistimewaan dan manfaat ASI bagi dunia kedokteran sudah tidak diragukan lagi khasiatnya. Kemarin –di milis– Candra sudah menjelaskan secara rinci, ternyata ASI adalah cairan hidup yang mengandung sel-sel darah putih, imunoglobulin, enzim dan hormon, serta protein spesifik yang pasti cocok untuk bayi. ASI mengandung AA dan DHA dengan proporsi yang sesuai kebutuhan bayi, asam lemak esensial (Omega 3 dan 6), protein, multivitamin dan mineral lengkap.

Wah…, pokoknya komplit-plit kandungan zat yang berguna untuk pertumbuhan bayi. Dijelaskan pula ASI juga bisa mengembalikan berat ibu seperti saat sebelum hamil, dan juga sebagai alat kontrasepsi secara ilmiah. Tepat sekali doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim “Allah yang menjadikan manusia, yang memberikan petunjuk kepada manusia, yang memberikan makan dan minum kepada manusia, dan jikalau sakit, Allah lah yang menyembuhkannya”. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang sempurna, diberikan akal untuk berfikir mengikuti petunjuk yang telah diberikan yaitu Agama.

Tidak cukup hanya itu, jaminan makan dan minum diberikan supaya dapat hidup yaitu digelarnya bumi dan seisinya, ada air, ada tanaman, sinar matahari dll. Bahkan sejak si cabang bayi dalam kandungan pun sudah dijamin asupan makanannya, lewat tali pusar ibu nya memberikan makanan untuk si bayi.

Setelah lahir si bayi, Allah menyediakan makanan melalui ibunya yaitu ASI. Begitu pentingnya peranan ASI ini untuk perkembangan anak, sampai di dalam Alquran disebukan dalam suart Al Baqarah, pangkal ayat 233 ” Dan ibu-ibu itu, hendaklah menyusukan anak-anak mereka dalam dua tahun penuh, (yaitu) bagi siapa yang ingin menyempurnakan penyusuan. “

Ayat ini memberikan petunjuk kepada seorang ibu tentang kewajiban dan tanggungjawabnya kepada anaknya yang masih bayi. Bukan manusia saja ibu menyusukan kepada anaknya, tetapi binatang pun selalu membesarkan anak-anaknya dengan memberikan air susunya sendiri, tidak ada cerita induk sapi betina menyerahkan anaknya kepada induk sapi yang lain untuk disusukan. Oleh karena itu alangkah sayangnya kalau seorang ibu dalam membesarkan anaknya tidak memberikan ASI nya, tanpa alasan yang jelas. Kalau sampai menyusui anak disia-siakan, maka berdosalah ibu kepada Allah, karena telah lupa mensyukuri (dalam arti memanfaatkan sesuai dengan fungsinya) nikmat yang telah dianugrahkan kepada bayi lewat ASI ibu. Begitu pentingnya ASI untukanak sampai ada kalangan ulama yang sangat hati-hati menjaga kesucian darah anaknya, dengan tidak mau menyerahkan anaknya untuk disusukan kepada perempuan lain yang tidak diketahui keutamaan budipekerti nya.

Saya jadi teringat cerita seorang ulama mazhab Syafi’i yang masyhur yaitu Imam Alharamain. Ayahnya bernama Abu Muhammad al-Juwaini, beliau seorang alim besar, pekerjaannya penyalin kitab-kitab ilmu pengetahuan. Dari hasil kerjanya itu, Abu Muhammad mengumpulkan uang dan membelinya seorang budak perempuan alim sholekah untuk dijadikan istrinya. Beliau memilih istri bukan karena kecantikan lahirnya, tetapi kecantikan jiwanya, tidak memandang golongan sebagai seorang budak. Dari pernikahan itulah lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik. Setelah anaknya lahir Abu Muhammad memesan kepada istrinya agar anaknya jangan disusukan kepada perempuan lain. Pesan suaminya itu sangat diperhatikan oleh sang istri.

Pada suatu hari istri Abu Muhammad jatuh sakit panas, sehingga air susunya kering, maka nangislah anak itu karena kehausan. Tiba-tiba masuklah ke rumah seorang perempuan – tetangga yang kasihan mendengar anak menangis, diambilnya anak itu kemudian disusuinya sedikit. Saat itu masuklah Abu Muhammad kedalam rumah, dilihatnya anaknya sedang disusui oleh perempuan lain. Abu Muhammad melihat dengan wajah tidak suka, dan perempuan itu segera meletakkan bayi itu, lalu pergi. Oleh Abu Muhammad diambilnya anaknya itu, dimasukkanlah tangannya kedalam mulut bayi supaya susu yang diminum dari perempuan itu dapat dimuntahkan keluar. Beliau berkata : “Bagiku tidak keberatan anak ini meninggal di waktu kecil, dari pada rusak perangainya karena minum susu dari perempuan lain yang tidak aku kenal perangai ketaatannya kepada Allah “.

Anak itu kemudian tumbuh besar dan dikenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik Al Juwaini, beliau adalah guru dari Imam Ghazali, yang kemudian menjadi ulama besar pula. Suatu saat ketika sedang mengajar kepada murid-muridnya beliau pernah marah-marah, setelah sadar beliau mengatakan bahwa mungkin sifat marah ini adalah sisa susu dari perempuan lain, yang dulu tidak sempat aku muntahkan.

Sebab itulah maka susu ibulah yang utama, Ratu Elisabeth II ratu besar besar dari kerajaan Inggris selalu munyusui anak-anaknya sendiri, tidak pernah memberinya susu sapi, kecuali kalau beliau sakit.

Seorang sarjana kenamaan dalam pediatric di rumah sakit Philadelpia – Dr. Paul Gyorgy, mengatakan bahwa “Air susu ibu manusia hanya untuk bayi manusia dan air susu sapi untuk sapi”. Dikatakan oleh Dr Paul, penggunaan susu untuk bayi yang bukan dari susu ibunya mempunyai kemungkinan membahayakan bagi kesehatan si anak bayi.

Di zaman modern yang serba instan ini kebanyakan wanita enggan menyusui dengan beberapa alasan karena takut keelokan tubuhnya akan pudar, karena kesibukannya, takut dikatakan nggak modern, nyatalah jalan pikiran wanita itu tidak dalam lingkungan agama yang benar.

Jadi tidaklah heran kalau banyak anak-anak sekarang yang membuat pusing orang tua, tidak nurut pada orang tua, dipanggil diam saja, di sekolah kerjanya hanya tawuran, egois dlsb. Janganlah disalahkan anaknya, mungkin orang tua perlu bertanya kepada dirinya sendiri kenapa anaknya bisa bertingkah seperti, apakah sudah benar cara proses membesarkannya, sesuai dengan petunjuk agama. Jangan-jangan watak dan kepribadiannya menurun dari susu yang di minumnya saat dia masih bayi, mungkin susu sapi ?

Wallahu a’lam bish-shawab

2 Replies to “ASI = Air Susu sapI?”

  1. Subhanallah,

    Pak Kyai kita sudah memasuki ranah yang lebih canggih : soal ASI ! tapi bagaimanapun saya husnudhon – dan kenyataannya begitu – bahwa yg keluar dari pak Kyai pasti isinya yang baik-baik.

    Cuma saya ada sedikit komentar nih pak Kyai, mohon maaf sebelumnya ya (takut kualat juga nih..). Saya kutip dari tulisan pak Kyai : “…..bukan manusia saja ibu menyusukan kepada anaknya, tetapi binatangpun selalu membesarkan anak-anaknya dengan memberikan air susunya sendiri, tidak ada cerita induk sapi betina menyerahkan anaknya kepada induk sapi yang lain untuk disusukan. Oleh karena itu alangkah sayangnya kalau seorang ibu dalam membesarkan anaknya tidak memberikan ASI nya, tanpa alasan yang jelas….”

    Tapi mengapa Rasulullah sendiri tidak disusui sendiri oleh ibundanya Siti Aminah r.a.? konon kebiasaan bangsa Arab waktu itu, setiap anak2 bangsawan yang dilahirkan di kota (Mekkah) maka akan disusukan kepada ibu2 yang tinggal di desa/pegunungan. Mungkin untuk mendapatkan lingkungan/udara yang bersih bagi pertumbuhan anak2 tersebut. Bayangkan pada jaman itu sudah terpikirkan bahwa masa bayi hingga anak2 sangat membutuhkan untuk tumbuh di lingkungan yang sehat, bukan di kota yang penuh polusi.

    Jadi maksud saya penjelasan pak Kyai sepertinya kotradiktif dgn apa yang terjadi pada jaman Rasulullah. Lebih ngeri lagi cerita tentang ayah dari Imamul Haramain Abdulmalik Al Juwaini, yang mengorek susu di mulut beliau sewaktu baliau masih bayi hanya karena disusui oleh wanita yang dia tidak tau bagaimana asal-usul & akhlaknya. Padahal Rasulullah sendiri disusui oleh orang lain (selain ibu kandungnya).

    Mohon pencerahan pak Kyai..

    Wassalam,

  2. Lik Majey,

    Yo ibune kanjeng Nabi ‘kan Insya Alloh “kenal apik” karo ibu sepersususan Rosul…. la nek ngono yo ra masalah to? Mungkin Ibu Aminah ASInya gak keluar… ayo do sinau maneh… piye critane sing lengkap…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *