Dua Peristiwa Satu Makna

Rekan semua,

Saya punya pengalaman dalam dua peristiwa, mungkin bermakna ganda, tetapi bagi saya hanya ada satu makna dasar….. kasih Ibu dan memaafkan. Pengalaman nyatanya begini.

Pada malam tahun baru 2008, saya bersepeda motor keliling kota Kupang untuk melihat berapa banyak lokasi orang berpesta  meskipun sumbernya dari BLT. Di satu pertigaan jalan  saya menjumpai seorang Ibu muda belia sedang menangis menggendong seorang bayi dan menggandeng seorang balita sedang kebingungan menanti angkutan kota yang memang sudah langka pada pkl 21.00 sebab semua orang sibuk untuk berpesta.

Ibu itu menyetop saya dan berkata, “Ojek, tolong antar kami dulu”. Saya berhenti dan bertanya, kemana mereka akan diantar, dan Ibu itu menyebut alamat tertentu. Saya mempersilakan mereka naik sepeda motor bebek saya tanpa negosiasi ongkos. Di atas sepeda motor saya, sambil sayup-sayup saya dengar penyesalan dan tangisan Ibu itu sambil menasehatkan anak-anaknya agar jangan mengulangi kesalahan Ibunya. Hati saya luluh, mengenang bagaimana Ibu saya sendiri dan mengingat beberapa perempuan berhati mulia yang saya jumpai dalam hidup saya.

Ibu itu juga bilang kepada saya katanya “Nyong (panggilan untuk anak laki-laki), saya diusir orangtua saya karena perkawinan kami tidak disetujui dan suami saya sekarang kabur.  Saya mendengarnya tanpa reaksi. Setelah berbelok beberapa kali Ibu itu bilang “Berhenti di rumah yang lampunya agar redup itu, dan tunggu dulu, saya minta uang Ibuku dulu”. Saya mengiyakan, sambil lebih menarik topiku ke arah hidung agar tidak dikenal.

Setelah pintu diketuk, seorang perempuan paruh baya muncul di pintu, berteriak keras menyebut nama Ibu itu katanya “Nona, kenapa kau jadi begini, kurus sudah seperti kere,” sambil keduanya hanyut dalam pelukan kedua anak yang dibawa Ibu itu membisu. Sekali lagi saya terharu. Segala ungkapan maaf dan penyesalan dilontarkan Ibu muda itu dalam tangisan yang memilukan.

Tak lama muncul seorang lelaki paruh baya penuh wibawa di pintu. Mulanya Ia bernada tinggi katanya “Makanya cari laki jangan sembarang, ikut nasehat orangtua”. Ibu muda itu bersimpuh di kaki ayahnya dan minta ampun atas semua kesalahannya… dan ayah itupun tak kuat menahan tangis. Saya kenal betul siapa lelaki itu. Dia mantan mahasiwaku duapuluh tahun lalu, yang perkaranya pernah saya urus, juga karena perkawinan serupa. Setelah mereka puas meluapkan rasa rindunya, sang Ibu bilang, “Ambil minum untuk tukang ojek itu, bayar uangnya supaya dia cari uang lagi.”

Ibu muda itu mengambil air es segelas, mengacungkan uang sepuluh ribu rupiah dan saya menyisipkannya di saku anaknya yang besar dan segera meninggalkan tempat itu.

Malam idul Fitri kemarin saya mengalami hal serupa. Seorang Ibu yang mengaku telah menyebabkan ayahnya sakit dan meiniggal karena perbuatannya menyetop saya ketika saya berkeliling kota bersepeda motor untuk  melihat-lihat. Kali ini si Ibu membawa seorang anak lelaki sekitar 2 tahun usianya. Menurutnya, dia mingat dari rumah karena pernikahan beda etnis dan beda agama yang tidak disetujui orangtuanya, dan tak lama kemudian ayahnya sakit dan meninggal.

Sekitar lima menit dia mengitari rumah memberanikan diri mengetuk pintu, toh tidak berani. Akhirnya Ia minta tolong “tukang ojek” mengetuk pintu. Ketika Ibu tua membuka pintu dan melihat anak dan cucunya, Ia langsung menjerit dan bilang, “Saya sudah menunggumu di depan jalan besar, karena saya yakin kau akan datang dengan cucuku. Karena sejak sore kau tidak juga datang, saya menangis dan pulang, sebab mereka di sebelah semuanya berkumpul lengkap. Jangan ingat kepergian ayahmu, semuanya kehendak Allah. Mulai sekarang jangan pergi lagi tinggal di rumah, jaga ibu yah…” Saya lagi-lagi terharu dan tenggelam dan kemuliaan hati Ibu tua itu.

Tanpa menunggu pemberian uang jasa-karena memang saya bukan tukang ojek dan tidak ingin dibayar, saya cepat kabur dengan sejuta kesan akan mulianya hati seorang Ibu-dan mereka tentu perempuan. Betapa para memiliki hati yang mulia, penuh maaf tidak dalam kata tapi dalam perbuatan. Dua peristiwa, satu makna: Kasih Ibu dan Maaf.

.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

.
Yan Koli Bau-Kupang

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat