Dua raga dalam satu jiwa

Oleh Mustadihisyam

!mantenSepasang suami istri sedang makan malam di rumahnya. Saat tengah makan bersama, sang istri membuka pembicaraan.

Istri: ”Suamiku sayang, tak terasa kita sudah berumah tangga hampir 25 tahun, suka duka telah kita jalani bersama, tentu kita telah mengetahui kekurangan pasangan kita masing-masing, bolehkah aku mengutarakan usul?”

Suami: ”Boleh istriku sayang, ayo silahkan!”

Istri: ”Saya ingin kita menulis kekurangan pasangan kita masing2 di kertas kosong agar kita bisa saling introspeksi diri, tapi janji lho…tidak ada yang boleh tersinggung dan marah, bagaimana sayang, setuju!”

Suami: ”Baik istriku, Insya Allah”sambil tersenyum manis.

Sang istri kemudian pergi mengambil dua lembar kertas kosong dan pulpen.

Beberapa saat kemudian…

Isri:”sayang, saya sudah selesai menulisnya, apakah engkau juga sudah selesai?”

Suami: ”Iya sayang.. saya juga sudah selesai”

Istri: ”Baiklah, sekarang tukar kertas kita masing-masing. Jangan ada yang dibuka dulu ya. Nanti dibaca secara terpisah setelah saya membereskan makan malam ini!!”

Suami: ”Ok, sayang!” sambil mengecup kening istri.

Si istri mulai membereskan makan malamnya dan suami segera pergi ke kamar tidur.

Beberapa saat kemudian si istri kirim sms kepada suami :  “Suamiku sayang, sekarang saya sudah selesai membereskan makanan, silahkan buka kertasnya dan baca tulisannya di kamar, saya juga akan membacanya di dapur”.

Sang suami langsung membuka kertas dan membacanya. Setiap membaca tulisan istrinya tentang kekurangannya, tak terasa air matanya mengalir disetiap sudut matanya, karena ternyata begitu banyak kekurangan pada dirinya. Sementara di dapur si istri juga membuka kertas dari suaminya.

Istri kemudian menghampiri suami ke kamar tidur.

Istri: ”Bagaimana suamiku, apakah engkau sudah membaca tulisanku?”

Suami: ”sudah istriku, maafkan aku yang tidak bisa sempurna mendamingimu … maafkan aku”, air matanya terus menetes membasahi wajahnya.

Istri: ”iya suamiku, walaupun engkau tak sempurna tapi cukup membuatku bahagia dan berarti lebih dari siapapun. Tapi mengapa engkau tak menulis apapun di kertas itu? Padahal aku sudah menulis panjang lebar segala kekuranganmu”.

Suami:”istriku sayangku, tahukah kamu, aku mencintai mu apa adanya…sehingga aku melihat kekuranganmu adalah kelebihanmu dan aku tahu Allah menciptakan setiap manusia dengan berbagai kekurangannya, oleh karena itu aku sebagai suamimu akan menjadi pelengkap untuk menutupi segala kekurangan istriku.. aku mencintai mu karena Allah wahai istriku, bukan karena nafsu untuk memiliki dirimu. Engkau garwoku, belahan jiwaku, saling menutupi, saling melengkapi. Kita adalah dua raga yang berbeda tetapi dalam satu jiwa”sambil memeluk, menangis dan berbisik lirik di telinga istrinya.

Si istri pun terharu meneteskan air mata mendengar ketulusan, kejujuran pengakuan suaminya yang begitu sangat dalam mencintai dirinya.

“Suamiku, jika aku diizinkan untuk mengulang hidupku, aku akan memilihmu sebagai pendampingku, aku bangga memilikimu”guman istrinya.

Saudaraku, banyak pertengkaran di dalam rumahtangga yang sebab utamanya adalah EGOIS, hanya memikirkan kesenangan sesaat tak mau berpikir panjang, saling menyalahkan, saling menuntut, saling minta diperhatikan, saling minta disayang, gengsi meminta maaf jika melakukan kesalahan, tak mau berlomba memberi yang terbaik, bukannya saling mengingatkan tetapi saling membalas jika salah satu berbuat salah, semuanya itu berakibat hilangnya rasa syukur dan qonaah, menerima apa adanya.

robbana hablana min azwaajina.png

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, dari istri kami dan anak turun kami yang menjadikan permata hati kami dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa kepada Mu”.

 Wabillahi taufik wal hidayah, wassalaamu’alaikum wwb

Mustadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat