Jangan Bersandar pada Amal

[Prawacana] Banyak artikel bagus beredar secara broadcast di media sosial. Mungkin telah Anda tandai pula sebagai starred message(s) di WhatsApp. Kami mengumpulkannya dalam satu kategori “Brodkes Sosmed” agar memudahkan saat ingin membaca kembali.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada 4 pria berbicara tentang amal ibadah mereka dan kesuksesan yang mereka dapat.

Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, sebentar lagi anak saya lulus SMU, rencananya akan sekolah di luar negeri.

Pria 2 : Bukan main, hebat sekali, sejak naik haji/umroh ibadahku semakin rajin, alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya berharga milyaran, aset bertambah, orang tua sangat bangga, dan itu semua berkat doa saya sebagai bapak.

Pria 3 : Masya Allah, sungguh nikmat tak terkira sejak rajin puasa dan bersedekah, rezeki saya bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah di luar negeri tapi langsung menjadi Staf Khusus Menteri.

Ketiga pria tsb kemudian melirik ke arah Pria ke-4 yg sejak tadi hanya terdiam. Salah satu dari mereka bertanya kepada Pria 4. “Bagaimana dgn Anda, kawan, mengapa diam saja?”

Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan bahkan saya tidak tahu apakah ibadah yang saya lakukan diterima oleh Allah Swt atau tidak. Saya baru akan tahu ibadah saya diterima dan sukses setelah saya meninggal nanti. Jadi saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah Swt berikan kepada saya.

# JANGAN BERSANDAR PADA. AMAL.

Ketertipuan bisa kita alami karena sikap kita yg bersandar pada amal secara berlebihan. Sikap ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kita kepada Allah Ta’ala.

Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiat mereka. Mereka juga tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak.

Oleh karena itu, mereka dianjurkan utk selalu meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda; “Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkan dia ke dalam surga.”

Mereka bertanya, “Tidak pula Anda, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab: “Tidak pula aku. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karena itu berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan kepada kita TAUFIQ untuk BERAMAL dan HIDAYAH untuk TAAT kepada-Nya.

Karena itu, kita wajib bersyukur kepada Allah Swt dan merendah kan diri kepada-Nya. Tidak layak sbg hamba kita bersandar pada amal kita. Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi bila punya perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Swt.

Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba2-Nya. Dia Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Wallahu Ta’ala A’lam.

Barakallah fiikum.

Astaghfirullahal azhiim…..

Ampunilah kami, ya ALLAH, jika di hati kami masih ada rasa bangga diri terhadap amal-amal kami….

Aamiin..


*Diteruskan kembali oleh Zainuddin Subagyo – Grup WA Kasmaji81 (11/08/2016) dari kamar sebelah (sumber dan nama penulis tidak disebutkan).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat