Makna Kurban

Oleh Mustadi Hisyam

Kurban berasal dari bahasa Al Quran – Qurban, dari kata Qurb yang berarti “dekat”, dengan akhiran an yang berarti “kesempurnaan”. Jadi kurban bisa diartikan sebagai bentuk aktivitas seseorang yang dibenarkan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Allah.

Dalam surat Al Maidah-27 diceritakan dua putra nabi Adam yaitu Habil dan Qabil mempersembahkan kurban dalam bentuk materi kepada Allah. Knon Habil mempersembahkan domba terbaiknya dan Qabil mempersembahkan tumbuh-tumbuhan yang tidak sempurna. Kurban Habil diterima oleh Allah, tetapi kurban Qabil ditolak oleh Allah. Boleh jadi ditolak ini karena keikhlasannya dan pengorbanan tidak sempurna. Dari sinilah timbul pemahaman bahwa kurban haruslah dilakukan dengan ikhlas dan dipilih dalam keadaan sempurna, tidak boleh cacat.

Anak cucu Adam kemudian memandang pentingnya melakukan kurban, sehingga tradisi ini berkembang bahwa yang dikorbankan itu bukan saja hewan tapi juga manusia, juga bukan hanya ditujukan kepada Allah tetapi kepada dewa-dewa yang dituhankan.

Al-Quran mengisahkan dalam surat Ash Shaafaat-102, bahwa Nabi Ibrahim melihat dalam mimpi menyembelih anaknya Ismail. Kemudian dia ceritakan kepada anaknya Ismail tentang mimpi itu, Ismail dengan sadar mengatakan itu adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan, karena salah satu cara Allah memberikan wahyu kepada manusia adalah lewat mimpi (As-Syura 51 ). Maka dengan penuh keyakinan dan keikhlasan Ismail menjawab : “Hai ayahku laksanakan apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk kelompok orang yang sabar “.

Ismail adalah satu-satu anak Ibrahim yang begitu lama didambakan. 86 tahun Nabi Ibrahim baru dikaruniahi anak Ismail dari perkawinan keduanya dengan Hajar, Ismail sangat disayanginya, tetapi mengapa Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelihnya, kemudian membatalkan dan menggantinya dengan seekor domba?

Ini semua bukan hanya sekedar ujian bagi keduanya dan bukan hanya untuk menunjukkan ketabahan keluarga Nabi Ibrahim as, tetapi untuk menunjukkan kepada manusia bahwa tidak ada sesuatu yang mahal untuk dikorbankan bila panggilan Tuhan telah datang.

Allah harus berada di atas segala-galanya, inilah bukti Iman yang sejati. Setelah nabi Ibrahim yakin bahwa mimpi itu adalah perintah Allah, maka Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu sesuai dengan keterbatasannya sebagai manusia, tetapi Allah dengan kekuasaannya menghalangi proses penyembelihan itu dan menggantinya dengan seekor domba, sebagai upaya untuk membatalkan tradisi pengurbanan manusia.

Ini bukan berarti terlalu mahal manusia untuk berkorban atau dikorbankan karena Allah, tetapi semata-mata bukti kecintaan Allah kepada manusia.

Kurban telah memberikan pelajaran bagi manusia bahwa jalan menuju kemenangan itu memerlukan pengorbanan, tidak bisa diraih dengan gratis, harus ditempuh dengan cucuran keringat, bahkan mungkin dengan berdarah-darah, istilah orang jawa “Jer basuki mowo bea”, semua kebaikan perlu pengorbanan, tapi itupun tidak cukup, harus disertai dengan ketaqwaan, keyakinan kepada Allah, juga keikhlasan.

Harus diingat yang dikorbankan bukan manusia atau nilai-nilai kemanusian, tetapi yang harus dikurbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia itu. Kalau ingin kemenangan tanggalkan sifat ketamakan, egoisme, kerakusan, dan sifat menghalalkan segala cara demi mencapai suatu tujuan, sehingga mengabaikan norma-norma hidup, kaidah hukum yang berlaku.

Kalau manusia masih melakukan hal-hal yang bersifat kebinatangan itu, berarti dia belum mengerti apa makna dari kurban itu sendiri. Kurban juga memberikan pelajaran bagi manusia bahwa kalau manusia melakukan sesuatu aktivitas dimanapun berada, boleh jadi di kantor, di rumah, mereka lakukan semua itu dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan semata-mata hanya untuk mengharapkan Ridha Allah, yakinlah sesulit apapun aktivitas itu Allah akan selalu memberikan jalan menuju kesuksessan, usaha dan pengabdian Nabi Ibrahim memberikan contoh kepada manusia akan ikut campurnya Allah dalam menghadapi cobaan hidup untuk memperoleh kesuksesan hidup.

Ketakwaan itu penting, keyakinan dan keikhlasan itu harus… karena hal tersebut yang menjadi parameter diterima tidaknya amal aktivitas manusia oleh Allah, bukan kuantitasnya, wujudnya, tapi kualitas dari aktivitas itu. Sebab, “Yang sampai kepada Allah bukan darah atau dagingnya, tapi ketaqwaan pelakunya” ( Al-Hajj 37 ).

Wallahua’lam bi ash shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat