Memaknai Tobat 

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum wwb

Tobat berasal dari kata taaba yang artinya kembali. Jadi tobat artinya kembali ke jalan Allah setelah melakukan perbuatan dosa. Tobat melibatkan perasaan, perkataan dan perbuatan. Melibatkan perasaan artinya menyesali perbuatan dosa dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Melibatkan perkataan artinya mengungkapkan permohonan ampun kepada Allah dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Dengan perbuatan artinya meninggalkan perbuatan dosa tersebut.

Imam Nawawi membagi tobat ke dalam dua bagian, yaitu tobat dari dosa yang berhubungan dengan Allah dan tobat dari dosa terhadap sesama manusia.

Untuk yang pertama ada tiga syarat agar tobatnya diterima, yaitu berhenti dari maksiat, menyesal, dan bertekad tidak akan mengulanginya.

Untuk yang kedua, ketiga syarat tadi, ditambah dengan mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi. Caranya bisa dengan minta maaf atau mengembalikan haknya.

Ada tiga cara untuk memaknai tobat.

Pertama, tobat adalah bukti cinta Allah kepada manusia. Allah mencipta dan memelihara manusia dengan landasan rasa kasih sayang.

Salah satu bukti kasih sayang Allah terhadap manusia adalah menganugerahi berbagai macam nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, terhadap orang yang berlumur berdosa sekalipun. Allah SWT pun terus menerus membukakan pintu ampunan bagi mereka asal ia bertobat.

Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, sekiranya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa seisi bumi kemudian kamu bertemu Aku dengan dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa ampunan seisi bumi pula” (HR Tirmidzi).

Kedua, tobat adalah sarana relaksasi (penenangan jiwa) dan perenungan. Setiap orang membutuhkan istirahat. Perjalanan hidup sering membuat jiwa sesak dan penat. Tobat adalah sarana yang tepat untuk berhenti sejenak dari berbagai aktivitas, menjernihkan pikiran, mengevaluasi perjalanan yang telah ditempuh dan mengingat-ingat kembali cita-cita, misi atau tugasnya di muka bumi ini.

Ketiga, tobat sebagai sarana penyucian jiwa. Jiwa manusia memiliki dua kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat jahat. Keduanya silih berganti menguasai jiwa. Ketika ia berbuat baik, tercerahkanlah jiwanya. Hati pun menjadi sehat dan bersih. Tapi ketika berbuat jelek, kotorlah jiwanya. Menurut Rasul, ketika seseorang berbuat jelek, hatinya ternoda dengan satu titik hitam. Saat berulang kali melakukan perbuatan jelek, semakin banyak pula titik hitam itu, sehingga hitamlah jiwa.

Tobat adalah sarana terbaik untuk mensucikannya kembali.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat