Menjadi manusia yang baik

mustadiOleh Mustadihisyam

Di dunia yang makin modern ini terdapat banyak orang yang hidup secara egois-individualistis. Apalagi di zaman kapitalisme seperti saat ini. Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Orang kaya memperkaya dirinya dengan berbagai macam cara, halal ataupun haram, yang efek sampingnya membuat yang miskin pun semakin miskin.

Apakah mereka pikir dengan menumpuk harta bisa hidup bahagia? Tentu saja salah besar. Banyak sekali kita mendengar kabar orang-orang kaya tak bisa menikmati kekayaannya entah itu karena dia harus tinggal di hotel prodeo alias dipenjara atau sakit. Apa itu yang disebut bahagia? Lalu, dengan apa orang dapat hidup bahagia?

Kebahagiaan hidup itu ada 3 tingkatan.

Pertama, pleasant life.

Orang mencapai kebahagiaan tingkat pertama ini ketika seluruh kebutuhan primernya tercukupi. Pangan, sandang, papan. Dengan tercukupi segala kebutuhan primernya orang sudah dapat dikatakan bahagia, tapi kebahagiaannya masih bersifat sementara. Orang seperti ini masih kurang bahagia.

Kedua, good life.

Orang akan mencapai kebahagiaan good life ketika sudah meraih kebutuhan sekunder maupun primernya. Pada tingkatan ini orang sudah mulai mencoba mencari pengakuan dari masyarakat—kedudukan yang tinggi, wibawa yang besar, dan mungkin ketenaran sehingga ia dapat merasakan kebahagiaan. Ironisnya, ketika banyak orang sudah mencapai tingkatan ini, mereka justru hidup dalam kekhawatiran. Khawatir kedudukannya diduduki orang lain, khawatir hartanya dirampok orang, khawatir dengan segala apa yang dimiliki. Yang artinya, kebahagiaan tak dapat hanya diperoleh dengan hal tersebut.

Tingkat ketiga adalah meaningful life.

Artinya, hidup yang berarti atau hidup yang bermanfaat. Ketika sese­orang mencoba menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain dia akan merasakan indahnya kehidupan. Ironis­nya, kebanyakan manusia tidak sadar hal ini. Mereka lebih mengejar pleasant life dan good life daripada meaningful life, padahal puncak kebahagiaan itu ketika seseorang dapat bermanfaat bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya.

Stress-Free-Guy-798x350

Ada seorang pejabat bersedih hati karena persoalan yang ia hadapi. Ia kemudian mendatangi seorang ulama dan mulailah ia bercerita tentang permasalahannya.  Setelah pejabat bercerita,ulama itu bertanya, “Apa yang kurang dari saudara? Saudara mempunyai keluarga yang lengkap, pekerjaan yang berharga, rumah, mobil, harta yang ber­limpah yang tidak semua orang memiliki apa yang saudara miliki. Lantas apa yang membuat saudara bersedih?” lanjut ulama itu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak dapat merasakan kebahagiaan padahal saya sudah mendapatkan segalanya,” jawab pejabat itu.

“Saudara tidak akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mencari kebahagiaan, tetapi saudara akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara membagi kebahagiaan itu,” nasehat ulama  tersebut.

“Maksudnya?” tanya pejabat tidak paham.

“Saudara mencari harta agar saudara bahagia, mencari pangkat agar bahagia, mendapatkan istri cantik agar bahagia, melakukan hal yang menyenangkan agar bahagia, tapi apakah saudara mendapatkan kebahagiaan? Cobalah bagi harta saudara dengan orang-orang yang lebih membutuhkan, dengan mereka yang hidup di pinggir sungai, dengan tetangga- famili dan sahabat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya atau sakit tak mampu berobat, yang kesulitan mencari sesuap nasi, untuk anak jalanan yang seharusnya mempunyai hak sekolah, untuk anak-anak cacat yang membutuhkan penghidupan yang layak. Ketika saudara melakukan hal itu, Insya Allah saudara akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa” tutur ulama itu.

Seminggu kemudian raut wajah pejabat itu berubah. Ia merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia rasakan. Ia melakukan semua apa yang telah diberitahukan oleh ulama  itu. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh ulama itu: Saudara tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mencari kebahagiaan, tapi saudara akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mau membagi kebahagiaan tersebut.

Dari cerita di atas kita bisa mengerti bahwa ke­ba­hagiaan dapat dicapai ketika kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Kebahagiaan bukan diukur dari harta yang dihasilkan, pangkat yang diduduki, atau prestasi yang diraih, tapi diukur dari seberapa besar kita mau mem­bagi kebahagiaan itu kepada orang lain yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, juga terpenting kepada sahabat dan sanak famili yang kurang beruntung dan tidak mampu.

Sebaik-baik manusia ialah yang paling baik budi pekertinya dan paling bermanfaat bagi orang lain.  Budi pekerti adalah nilai yang sangat dijunjung dalam masyarakat. Karena itu, untuk menjadi sebaik-baik manusia tidaklah cukup menjadi orang yang paling baik budi pekertinya, tetapi ia juga harus bermanfaat untuk kehidupan orang lain dan alam sekitar.

Salam, mustadi

Gambar ilustrasi ambil dari sini

One Reply to “Menjadi manusia yang baik”

Leave a Reply to boedi martoyo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *