Merenungkan masa depan

Apabila hati manusia masih punya ruang untuk merenungkan dunia ini dan meneliti realita alam, manusia dan kehidupan, akan tergambarlah di hadapannya suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak, realita yang memaksa dirinya untuk berfikir lebih jauh tentang amal perbuatannya. Apabila diamati dengan seksama, roda kehidupan ini bagai kurva normal.

Bermula dari tiada, Segala makhluk hidup itu kemudian diciptakan Allah. Setelah itu, dia memulai hidupnya dalam ketakberdayaan, semakin lama semakin meningkat kekuatannya dan akhirnya mencapai puncak. Segera setelah itu, ia mulai menurun sampai akhirnya kembali kepada Pencipta.

Demikian juga kekuasaan, siapa pun yang pernah duduk di singgasana kekuasaan tidak ada yang abadi. Segera setelah itu, dia mencapai puncak kejayaan, pada saat itu awal kemundurannya. Karena, dunia ini hanya jembatan tempat lewat, bukan keabadian. Firaun adalah contoh legendaris. Ia berkuasa dan kekuasaannya bukan hanya sekadar menjadi raja yang segala kata-katanya mutlak harus ditaati, tetapi lebih dari itu, Firaun telah memerintahkan manusia untuk menyembah dia. Dengan kekuasaannya, dia telah menyatakan diri sebagai tuhan yang punya hak memerintah dan melarang. Tetapi, waktu jualah yang membuktikan bahwa kemudian dia pun runtuh. Siapa yang bisa melawan waktu dan mengundurkan kematian? Kita pasti akan menemuinya. Kullu nafsin zaaiqatul mauut. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian’.

Oleh karena itu, setiap manusia, siapa pun dia, apa pun jabatannya, hendaknya selalu mengingat hari di mana pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak. Hari itu akan tiba bahwa tidak seorangpun bisa menghindarinya. Maka benarlah hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa, ”Orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat akhirat.”

Orang yang selalu menghitung segala perbuatannya dengan mizan (timbangan) yang amat teliti, berpikir sebelum berbuat. Orang yang selalu menjauhi segala yang akan mengurangi kesempatannya untuk mengecap kesenangan di alam yang abadi kelak. Dia mengetahui bahwa apalah artinya dunia ini, hanya setetes air di samudera, bagai sebutir pasir di pantai. Dalam keadaan seperti itu, tentu langkahnya akan menjadi ringan dalam mengikuti segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Jadilah dia hamba yang taat yang hanya menginginkan rida Allah. Hanya itu, tiada lain.

Wassalam !