Selamat datang Ramadhan

Oleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum…

Al Hajjaj bin Yusuf adalah seorang pemimpin perang kenamaan dari Dinasti Umayyah, dialah yang melempar ka’bah dengan meriam batu. Suatu hari di bulan Ramadhan, dia meminta kepada pengawalnya agar mengajak orang-orang untuk makan siang bersama. Seorang pengembala yang tinggal didesa menjadi tamunya, dan terjadilah dialog sebagai berikut.

” Ayolah kita makan siang bersama !” ajak Al Hajjah.

” Aku telah diundang oleh yang lebih mulia dari tuan dan sekarang aku sedang memenuhi undangan itu ” kata si pengembala.

” Siapakah gerangan yang mengundangmu? “

” Tuhan Allah penguasa alam semesta ini, dan hari ini aku sedang berpuasa “

” Apakah Anda berpuasa dihari yang panas terik menyengat ini? “

” Ya, aku bahkan berpuasa pada hari yang lebih terik “

” Ayolah hari ini kita makan siang bersama, dan besok Anda masih bisa berpuasa “

” Apabila aku batal berpuasa hari ini, apakah tuan bisa menjamin kalau usiaku berlanjut sampai besok sehingga aku bisa melakukan ibadah puasa? ” kata si penggembala sambil tersenyum pahit.

” Tentu saja saya tidak bisa menjamin apakah usia Anda masih berlanjut hingga besok “

” Kalau demikian mengapa hari ini tuan meminta sesuatu kepada saya dan menjanjikan untuk memberikan sesuatau kepada saya esok hari, sedang hari esok tak pernah ada di tangan tuan”

Setelah berfikir sebentar Al Hajjaj mencoba mengajak lagi :

” Ayolah saudaraku, kita makan siang bersama, makanan saya hidangkan sangat istimewa dan sungguh lezattt… bukan main enaknya “

Sambil berdiri untuk meninggalkan Al Hajjaj, si penggembala itu menolak lagi tawaran permintaan pemimpin perang kenamaan Dinasti Umayyah itu, ” Demi Allah, yang melezatkan makanan itu bukan juru masak tuan, bukan pula jenis makanannya yang istimewa, yang melezatkan adalah afiat, kesehatan ruhani dan jasmani. Dan Puasa membawa saya kenikmatan dan kelezatan yang luar biasa saat berbuka nanti”.

Dialog di atas menggambarkan sebagian hasil dari seseorang yang sedang berpuasa yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri, menahan rayuan dan kesadaran akan kehadiran Tuhan pada setiap saat dimanapun dia berada, itulah makna dzikrullah. Jadi ketika seseorang sedang berpuasa, pada hakekat dia sedang berdzikir mendekatkan diri kepada Tuhan. Laksana dua buah titik semakin dekat maka garis yang menghubungkan dua titik itu semakin lurus. Semakin manusia dekat dengan Tuhan jalan hidup semakin lurus. Itulah Result dari manusia yang menjalankan ibadah puasa, menjadi insan yang bertaqwa (Muttaqin), inilah derajat paling tinggi disisi Allah dimana manusia telah menjadi insan kamil – orang yang disayang Allah baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa ” (QS Al-Baqarah: 183).

Sahabat dan juga Saudaraku….

Sebelum memasuki bulan yang penuh berkah dan ampunan ini, sekiranya dalam bertutur kata dan tindak tanduk saya selama ini ada yang tidak berkenan dihati Anda semua, izinkanlah saya mohon dimaafkan.

Semoga kita semua Allah berikan kekuatan lahir bathin, sehat wal’fiat sehingga dapat menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan dan syaiat Nya, dan mendapatkan  derajat MUTTAQIN. Aamiin…

SELAMAT DATANG RAMADHAN !

Wassalamu’alaikum wwb.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat