Sudahkah selama ini kita berbuat baik?

Pernahkah Anda pergi kesuatu kota tujuan yang belum pernah Anda datangi?

Apakah yang Anda perlukan supaya sampai tujuan dengan selamat tanpa kesasar atau tersesat dulu? Tentu Anda perlu alat bantu petunjuk seperti peta dan rambu-rambu lalulintas. Dengan peta dan rambu rambu lalulintas Anda akan dituntun kemana arah yang harus dilalui, dimana harus belok ke kanan, dimana harus ke kiri, kapan Anda diperbolehkan memacu kendaraan dan kapan harus mengeremnya, kapan harus berhenti istirahat dan kapan diperbolehkan melanjutkan perjalanan kembali. Mungkin seperti itulah gambaran manusia hidup di dunia ini, dimana dunia ini belum pernah di datangi sebelumnya, belum pernah ada cerita orang mati setelah beberapa bulan kemudian bangun dan hidup lagi di dunia lagi.

Manusia hidup di dunia ini tidak lain adalah salah satu fase perjalanannya untuk kembali kepada Tuhan Allah. Innalilahi Wainna Ilaihi Ro’jiun. Bahwa sesungguhnya manusia itu berasal dari Allah dan suatu saat nanti akan kembali kepadaNya. Jadi, saya dan Anda semua saat ini sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju kepada Nya.

Masalahnya sekarang bagaimana kita dalam perjalanan ini bisa selamat sampai tujuan yaitu kembali kepada Allah? Kita perlu alat petunjuk jalan, rambu-rambu supaya tidak tersesat sampai tujuan. Allah Maha Rachman dan Rachim memberikan petunjuk yang berisi rambu rambu hidup yaitu Al Qur’an.

Dalam Surat Luqman ayat 2-3 disebutkan “Ini adalah ayat ayat al Kitab al Hakim. Petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan” .

Al Qur’an disebut juga al Kitab al Hakim yang di dalamnya berisikan kandungan hikmat belaka, yaitu rahasia kebesaran Allah. Juga sebagai petunjuk/bimbingan kepada manusia dalam perjalanan di dunia yang jauh dan baru sekali, dan hanya sekali ini kita tempuh.  Al Qur’an ibarat peta perjalanan kita didunia ini yang setiap hari harus kita bawa, dibaca, dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, agar perjalanan hidup ini tidak tersesat, sehingga selamat sampai ketujuan kembali kepada Allah.

Dalam perjalanan ini usia manusia semakin bertambah, lama kelamaan akan habis terpakai, dan kalau usia habis tidak akan bisa diisi ulang lagi. Hidup ini memang terlalu mahal harganya, maka harus disadari bahwa pemakaian pun harus dengan hati-hati, supaya tidak terbuang percuma begitu saja. DisuruhNya kita untuk berbuat kebaikan, berbuat yang ma’ruf dan dicegahnya yang mungkar, yang bermanfaat kita kerjakan dan yang merugikan kita tinggalkan.

Al Quran juga sebagai Rahmat, ini sebagai tanda kasih sayang Allah yang diberikan kepada semua manusia dan seluruh isi alam ini. Didalam Hadist disabdakan bahwa Rahmat itu ada 100 banyaknya, dan baru satu yang diberikan di dunia ini, sisanya akan diberikan di akhirat nanti. Salah satu Rahmat Allah adalah diturunkan Al Qur’an dan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. Tetapi Rahmat itu baru dapat dirasakan kalau manusia itu menyediakan dirinya untuk menjadi orang yang baik-baik, dan siapa orang yang berbuat baik itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus tahu ciri-ciri orang berbuat baik, yaitu :Orang-orang yang mendirikan sembahyang dan memberikan zakat mereka, dan dengan hari akhirat mereka yakin”. (Surat Luqman ayat 4).

Jelas bahwa orang yang melakukan kebaikan itu harus melakukan 3 persyaratan :

1. Orang yang mendirikan sembahyang : hubungan dengan Allah sebagai bukti keimanan kepada Tuhan, mesti percaya kepada Tuhan tetapi tidak mengerjakan sembahyang belumlah orang itu dikatakan berbuat kebaikan. Setelah yakin adanya Tuhan, kontakkan jiwa ini kepadaNya dengan sembahyang, sehingga melekat dalam jiwa.

2. Memberikan Zakat. Zakat artinya pembersihan/pensucian. Dengan kesanggupan mengeluarkan zakat berarti ada kesanggupan untuk membersihkan diri, dari apa?

  • Pertama, zakat membersihkan jiwa ini dari penyakit bakhil dan kikir, supaya menjadi jiwa dermawan yaitu orang yang jiwanya bersih;
  • Kedua, zakat membersihkan dari harta itu sendiri, karena ada sebagian dari harta itu yang bukan milik kita dan harus dikeluarkan untuk orang orang yang berhak menerimanya, kalau sebagian harta itu tidak dikeluarkan, berarti mengambil hak orang lain, dan itu yang dinamakan orang dzalim. Ibarat seperti makanan, apapun yang kita makan, setelah dicerna dalam perut tentunya ada sisa kotoran yang harus dikeluarkan kalau sampai kotoran ini tidak dikeluarkan, selain tidak ada manfaat bagi tubuh juga akan mendatangkan penyakit, cobalah kalau kita tidak ke belakang (BAB, red) selama tiga hari, bagaimana rasanya?
  • Ketiga; zakat membersihkan hubungan antara yang kaya dengan si miskin. Apabila tidak mau mengeluarkan zakat maka hatinya akan timbul penyakit bakhil dan kikir, sehingga akan terjadi kebencian dan dendam antara yang kaya dan si miskin, tidak ada rasa saling hormat menghormati, tolong menolong, timbul keretakan sosial. Bukankah manusia adalah mahluk sosial, yang bermasyarakat! Kalau sekiranya ada musibah sakit, kematian, kebakaran atau yang lain, siapa yang akan kita harapkan bisa membantu kalau tidak masyarakat sekitar? Dengan membayar zakat hubungan antara si kaya dan si miskin akan menjadi harmonis, si miskin merasa dibantu, diayomi dan si kaya pun terasa aman tentrem ayem.

3. Dengan hari akhirat mereka yakin : keyakinan akan hari pembalasan penting untuk mengikat, menguatkan dan menegakkan amal. Karena sering kali kita merasa sudah banyak berbuat baik untuk masyarakat, untuk perusahaan, untuk bangsa dan negara, tetapi tidak lah semua orang menghargai perbuatan baik kita itu, masih adaa saja yang benci, dengki atau tidak memandang berarti apa-apa. Maka kalau kita berbuat baik di dunia ini dengan mengharapkan pujian dari manusia, niscaya akan kecewa, karena apa yang kita lakukan baik belum tentu baik di mata orang lain. Jelasnya selama hidup di dunia ini, tidaklah akan mendapatkan penghargaan selengkapnya dari manusia. Jadi dengan keyakinan akan hari akhir, ada kehidupan yang lebih bahagia bagi orang yang berbuat baik, berjasa, dan hidup nelongso bagi yang berbuat dosa, akan menjadi motifasi orang untuk berbuat baik. Balasan hanya diharapkan dari Allah semata, dengan melakukan perintah dan meninggalkan laranganNya, itulah yang disebut orang-orang yang bahagia,

Surat Luqman ayat 5 : “Mereka itulah orang-orang yang di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah  orang yang bahagia.”

Apabila petunjuk Tuhan telah di kerjakannya, maka pastilah bahagia akan diperolehnya. Rasa bahagia itu adalah kepuasan yang dirasakan manusia karena kita telah melaksanakan tugas dari Allah sebagai seorang hidup. Rasa bahagia akan dirasakan ketika kita masih hidup di dunia dan di usia tua dapat menyaksikan amal yang kita lakukan di masa lalu. Rasa bahagia guru-guru kita adalah setelah di hari tua dapat  menyaksikan bahwa kita mantan murid-muridnya sekarang sudah menjadi orang. Rasa bahagia orang tua akan dirasakan ketika kelak sudah menyaksikan anak-anaknya jadi orang, berhasil cita-citanya dan dalam kehidupan beragama yang baik. Rasa bahagia seorang Presiden akan dirasakan bila nanti setelah turun dari jabatannya dapat menyaksikan rakyatnya hidup gemah ripah loh jinawi. Rasa bahagia sejati akan kita dapatkan  kelak dalam Syurga Jannatun Na’im.

Sudahkah selama ini kita berbuat baik?

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat