Sumunar Indonesian Music & Dance of Minnesota

Oleh: Didiet Priatmadjie

Mendengar istilah Sumunar kita tahu bahwa ini bahasa Jawa, berarti suatu kelompok musik & tari Jawa, tapi kok Minnesota? Ya, mereka adalah kelompok gamelan & tari Jawa yang terdiri dari para pecinta gamelan yg bermarkas di Minneapolis, Minnesota, USA.  Kebanyakan anggotanya adalah orang bule, selain ada beberapa orang yang dari Asia.  Sumunar (yang berarti berkilau/bercahaya atau glowing) didirikan tahun 2005 dipandegani oleh Joko Sutrisno.

Joko Sutrisno adalah pengajar gamelan pada University of Minnesota.  Setelah lulus ASKI Solo, di thn 1987 Joko bergabung dengan Kedutaan RI di Wellington, New Zealand. Tahun 1995 Joko bergabung dengan University of Minesota sampai sekarang.  Kini Joko juga menjabat sebagai Direktur Friends of Gamelan (FROG) Ensemble di Chicago, dan sebagai konsultan program gamelan di University of South Dakota dan Minnesota State University di Moorhead.

Saya kenal Joko saat kami bersama-sama di KBRI Wellington, saya di Bidang Ekonomi, Joko di Bidang Penerangan, dimana dia juga bertugas untuk mengajar gamelan di Victoria Unviersity of Wellington. Sebagai sesama wong Solo dan pecinta gamelan, dulu saya juga kadang ikut ambil bagian dalam pementasan gamelan (saya harus berterima kasih pada pak Witoyo guru gamelan waktu SMP/SMA dulu).

Sumunar tampil di beberapa kota di Jawa dari tgl 5 s/d 19 Juli 2010 dalam rangka study & collaboration tour.  Selain di Jakarta (5-7 Juli), Sumunar juga akan manggung di Bandung (7-9 Juli), Solo (10-14 Juli), dan Jogja (15-19 Juli).

Saya dapat undangan pada pementasan di Gedung Dikti Jl. Jend Sudirman Senayan tgl 6 Juli yg lalu.  Acara dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Bp. Fasli Jalal, Dirjen Dikti Djoko Santoso, beberapa perwakilan dari Kedutaan di Jakarta, dan teman2 Joko & Tri (istri Joko) sesama ex Wellingtonian (sekalian jadi ajang reuni…).

Pagelaran dibuka dgn Pambuko Lancaran laras pelog pathet enem.  Sekali lagi sebagai orang Jawa sempat bergetar hati ini mendengar rampak gending pembuka yang dimainkan dengan serius oleh para bule ini. Dan mereka tidak hanya menabuh gamelan tetapi juga sambil menembang/ menyanyikan lagu.

Usai Gending Jolodoro, tampillah 3 penari Gambyong yg terdiri dari 2 wanita bule & 1 wanita Indonesia (anaknya Joko).  Di tarian lain Tri juga tampil bersama 3 penari tersebut. Gending-gending lainnya yang dimainkan antara lain Ladrang Purnomo Siddi, Lancaran Kaduk Manis dan Terbangan.

Sebelum pertunjukan saya & istri sempat ngobrol lama dengan mbak Tri, istri Joko, sekedar kangen2an kita dulu pernah sama2 merantau di negeri orang. Istri saya yg juga guru tari pernah diajak mbekso Gambyong oleh mbak Tri tampil di Victoria University, dulu. Saya sulit melupakan kata mbak Tri ke saya malam itu: “di Indonesia kami ora payu mas…..”

Bisa jadi, ya, dan menyedihkan, sementara di negara lain gamelan begitu diminati dan dikagumi keindahan musiknya.  Joko & Tri dengan cerdas menyiasati kondisi ini, dengan mendirikan kelompok gamelan di tempat dimana diminati orang.

Di dalam lift waktu pulang saya sempat ngobrol dengan bapak-bapak salah seorang tamu yg juga melihat pertunjukan, katanya: “Saya malu pak, orang-orang bule itu begitu serius dan piawai memainkan gamelan…. berapakah diantara kita yang mampu seperti itu…?”

Joko yang kini memilih menetap di Minnesota, rupanya mempunyai cara tersendiri dalam nguri-uri kabudayan Jawi yang katanya adi luhung itu.

Artikel terkait

One Reply to “Sumunar Indonesian Music & Dance of Minnesota”

  1. Ayooo jangan jadi ‘nglokro’.., tetap semangat nguri-uri kabudayan Jawi.. Trims Dit, posting yang ‘menggelitik’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *