Timbangan Amal

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum wr.wb

Apabila hati manusia masih punya ruang untuk merenungkan dunia ini dan meneliti realita alam, manusia dan kehidupan, akan tergambarlah di hadapannya suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak, realita yang memaksa dirinya untuk berfikir lebih jauh tentang amal perbuatannya. Apabila diamati dengan seksama, roda kehidupan ini bagai kurva normal. Bermula dari tiada, segala makhluk hidup itu kemudian diciptakan Allah. Setelah itu, dia memulai hidupnya dalam ketakberdayaan, mulai merangkak, berdiri dan berjalan, semakin lama semakin meningkat kekuatannya dan akhirnya mencapai puncak. Segera setelah itu, ia mulai menurun sampai akhirnya kembali kepada Pencipta.

Demikian juga kekuasaan, siapa pun yang pernah duduk di singgasana kekuasaan tidak ada yang abadi. Segera setelah itu, dia mencapai puncak kejayaan, tapi sering kali orang lupa bahwa pada saat mencapai puncak kejayaan itulah sebenarnya awal dari kemundurannya. Karena, dunia ini hanya jembatan tempat lewat, bukan keabadian. Dan yang perlu direnungkan, dipahami,. adalah bagaimana pertanggungjawaban perbuatan, sepak terjang kita sewaktu hidup di dunia ini di akhirat kelak. Berani atau tidak, mampu atau tidak, dia pahami bahwa  semua perbuatannya, sepak terjangnya, kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki sewaktu hidup akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Pengadilan Tuhan. Pada saat itulah manusia tidak ada daya untuk  mengelak akan semua dosa dan kesalahannya.

Oleh karena itu, setiap manusia, siapa pun dia, apa pun jabatannya, hendaknya selalu mengingat hari di mana pada hari itu tidak berguna lagi, pangkat, jabatan, harta, anak dan sanak saudara . Hari itu akan tiba bahwa tidak seorangpun bisa menghindarinya. Seperti lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” karya Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh Chrisye. Lirik lagu ini diilhami QS Yaasin, ayat 65: “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.”

Maka benarlah hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa, orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat akhirat. Orang yang selalu menghitung segala perbuatannya dengan mizan (timbangan) yang amat teliti, berpikir sebelum berbuat. Orang yang selalu menjauhi segala yang akan mengurangi kesempatannya untuk mengecap kesenangan dialam yang abadi kelak. Dia mengetahui bahwa apalah artinya dunia ini, hanya setetes air di samudera, bagai sebutir pasir di pantai. Dalam keadaan seperti itu, tentu langkahnya akan menjadi ringan dalam mengikuti segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Jadilah dia hamba yang taat yang hanya menginginkan ridha Allah. Hanya itu, tiada lain.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

featured image diambil dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

WhatsApp chat