Wang Sinawang

didietOleh Didiet Priatmadji

Istilah itu saya dapat dari suami sepupu saya yang sekarang sudah meninggal.  Dulu dia pernah kerja di Astra, dengan karier yang melejit cepat dan -seperti biasanya- diiringi dengan keadaan ekonomi yang ikut meningkat.  Sampai kemudian krisis moneter mendera negeri kita waktu itu, diapun ikut mengambil pensiun dini.

Kami suka ketemu secara berkala di acara arisan keluarga. Seperti biasa kita sering saling bicara, “Wah si A enak sekarang ya, sudah jadi kepala bagian, wah si B hebat sudah jadi begini begitu.”  Dia bilang : “Anda sendiri juga sudah mapan benar karier mantap, rumah ada, mobil ada, dsb…” Saya bilang, “Ah nggak juga, Situ dong yang sekarang lagi banyak duit….”

Akhirnya dia bilang inilah yang disebut wang sinawang, bahasa Jawa yang artinya “saling memandang”.  Maksudnya kita biasa memandang orang lain lebih hebat atau lebih enak hidupnya daripada kita.  Saya jadi ingat cerita tentang orang yang lagi naik Mercy dan tukang becak.  Si tukang becak melihat orang kaya yang sedang duduk di dalam mobil Mercy berpikir pasti orang itu bahagia dan enak benar hidupnya, mau kemana-mana tinggal duduk di mobil mewah, duit pasti banyak, kalau ingin apa-apa tinggal beli, rumahnya pasti bagus, dsb.  Tidak seperti saya yang harus menggenjot becak tiap hari supaya tetap hidup. Cari uang 10 ribu saja susahnya setengah mati, tapi begitu dapat seolah tidak ada harganya karena harga-harga sudah keterlaluan mahalnya, dsb.

sawangBagaimana dengan si kaya di dalam mobil Mercy? Rupanya karena tukang becak asyik melamun maka dia ketiduran di dalam becaknya.  Si orang kaya tersebut berpikir, wah enak betul itu tukang becak, cuma sambil melonjor di dalam becak sudah bisa tidur pules.  Saya meskipun di kasur empuk tiap malam susah benar memejamkan mata, kalau tidak minum beberapa pil hampir pasti tidak bisa tidur.  Apalagi ditambah beban masalah-masalah sekarang, masalah dengan KPK telah membuat saya tiba-tiba terlonjak bangun meski sedang tidur pulas, belum masalah anak saya, gara-gara ketagihan narkoba sudah tidak terhitung barang-barang di rumah yang lenyap dijual olehnya untuk beli narkoba.  Paling parah kemarin laptop saya yang berisi data-data bisnis dan kerjaan sempat dilego, untung saya berhasil mendapatkan kembali dari penadahnya, meski harus menebus lumayan mahal.  Selama anak saya itu di rumah hati tidak pernah tenang, apa lagi ya, yang akan diambil dan dijual sama dia…. Tukang becak itu pasti tidak punya masalah seperti saya, pantesan bisa menikmati hidup dengan enak benar…

Kita biasanya mempunyai kecenderungan untuk berprasangka bahwa orang lain lebih enak hidupnya daripada kita. Padahal kenyataannya belum tentu, seperti cerita di atas. Bisa jadi orang yang kita sangka hidupnya serba enak dan serba “hebat” ternyata merasa paling menderita di dunia..  Karena setiap manusia hidup pasti punya masalah, yang antara satu dan lain orang tentunya berbeda-beda, dari yang paling ringan sampai yang paling berat.

Tapi disamping masalah, kita juga mendapatkan kenikmatan atau kemudahan yang seringkali tidak kita sadari, dari hal yang kecil atau tidak terasa sampai hal yang luar biasa terasa bagi kita.  Jadi yang penting kita harus pandai mensyukuri nikmat, artinya kita jangan hanya berpikir tentang kekurangan-kekurangan atau masalah-masalah kita saja, tetapi juga harus mencari “sisi baik” dari setiap kondisi yang ada pada kita.  Kalau kita melihat saudara kita kelihatannya lagi “hidup enak”, maka kita ikut senang dan bersyukur semoga   saudara kita itu benar-benar mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.  Tapi jangan juga minder, karena tidak semua orang itu “hebat”, meski juga tidak semua “menyedihkan”, mungkin yang paling banyak ya “yang sedang-sedang saja” barangkali saya seperti kita ini.  Itulah wang sinawang.

Betul nggak?

4 Replies to “Wang Sinawang”

  1. Iyo yo Dit, nek nuruti karepe wong kan gak ono enteke…..
    Yang penting qta hrs menyadari bahwa qta dilahirkan di dunia ini sebagai kafilah-kafilah yang berguna di dunia n besok qta akan mempertanggungjawabkan apa yg telah qta perbuat…..ya toch?

  2. Bener banget Zur, kita harus pandai bersyukur dengan apa yang sudah kita dapat. Semoga dengan bersyukur ALLAH SWT akan melimpahkan rahmat dan rizqi bagi kita sekalian. Amin.

Leave a Reply to Arifah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *