Ayah dan Bunda

Oleh Mustadihisyam

Di hari jum’at yang sejuk ini, mari kita meluangkan sedikit waktu untuk melakukan kontemplasi agar rasa  cinta dan kasih sayang yang Anda miliki kian meningkat.

Mulailah rasakan dengan sepenuh hati detak jantung Anda, rasakan bahwa setiap detaknya ada rasa syukur kepada Allah yang kadang sering terlupakan. Rasakan detaknya…. dan ternyata jantung Anda sejak mulai ditiupkankan ruhNya pada usia empat bulan Anda berada di dalam rahim ibunda tercinta sampai detik ini berdetak atas kekuasaanNya.

Rasakan jantung yang berdetak itu, yang membuat darah Anda mengalir ke kepala Anda, ke jari-jari Anda, ke ujung rambut Anda, ke seluruh tubuh Anda membawa oksigen otak sehingga Anda menjadi cerdas, bisa menulis, bisa berjalan, bisa bekerja, bisa tersenyum seperti saat ini. Rasakan semua itu adalah kebesaaran Tuhan.

Kemudian hadirkan saat-saat bahagia yang pernah Anda rasakan bersama orang-orang yang Anda sayangi, orang-orang yang ingin Anda bahagiakan karena Anda begitu menyayanginya.

Hadirkan saat-saat yang indah ketika Anda masih kecil, bercengkerama dengan ibu bapak di tempat tamasya yang begitu indah, bersilaturahmi berpetualang di tempat kakek nenek . Hadirkan saat Anda bercekerama bersama kakak, adik, sahabat Anda kecil yang kini entah dimana mereka berada dan mungkin tak seberuntung Anda saat ini.

Hadirkan rasa syukur Anda ketika Anda bertemu dengan sahabat yang begitu peduli dengan Anda saat Anda dalam kesedihan, sehingga dunia menjadi indah kembali karena wasilahnya, Allah Maha Pengasih.

Saatnya menghadirkan di dalam fikiran Anda seorang wanita yang luar biasa, ibu Anda. Seorang ibu yang mengandung Anda selama 9 bulan lamanya dan menyusui Anda tanpa mengenal letih, tanpa mengeluh ditelan rasa bahagia karena Anda akan lahir di muka bumi. Seorang ibu yang bertaruh nyawa ketika melahirkan Anda, dimana salah satu kakinya sudah berada di akhirat dan mengerang kesakitan untuk mengeluarkan Anda dari perutnya. Hadirkan terus menerus ibu dalam fikiran Anda, yang tidak rela anaknya kehausan sehingga dia rela meninggalkan aktifitasnya untuk menyusui.

Tataplah matanya dalam-dalam, tataplah kulitnya yang sudah mengerut, tataplah rambutnya yang memutih laksana perak, tidakkah engkau lihat dirinya sudah mulai renta ditelan usia !Itulah ibunda, ibu yang mengajari Anda berjalan, yang menunggumu saat Anda sakit, ibu yang menyelimutimu saat Anda kedinginan, ibu yang mengajari Anda berempati, ibu yang mengajari Anda mengaji, ibu yang membelikan baju dan memakaikannya kepada Anda supaya Anda tidak kedinginan dan berpakaian indah, ibu yang selalu menunggu kapan pun saat Anda pulang rumah dengan wajah ceria, ibu yang selalu mendoakan dan memotivasi  saat Anda dalam kesulitan, seorang ibu yang selalu menyayangi Anda walaupun Anda sering berfikir  negatif kepadanya. Luar biasa ibunda.

Bayangkan ibunda berjalan pelan mendekati Anda sambil tersenyum penuh kasih sayang, rasakan ketika tangan yang sudah lemah itu memegang pundak Anda, dan Anda pun tak tahan untuk memeluknya. Rasakan kehangatan pelukannya, rasakan basahnya air mata yang menetes dipundak Anda, dengarkan bisikannya, “Anakku, ibu sangat menyayangimu, engkau anak harapanku, jadilah anak yang terbaik untuk bangsamu ya nak, jangan menghianati negerimu, jadilah anak shalih, jadilah anak shalihah ya nak…”.

Sekarang hadirkan ayah dalam fikiran Anda,  yang bercucuran  keringat mencari nafkahdari sejak fajar matahari hingga pulang petang, bahkan sampai larut malam, bahkan sampai menginap karena pekerjaannya, demi untuk Anda dan keluarga. Seorang ayah yang sangat bangga akan prestasi anaknya, tataplah senyumnya yang penuh wibawa, tataplah wajahnya yang semakin renta, tataplah jalannya yang semakin gontai dimakan usia.

Hadirkan ayahanda saat beliau berjalan mendekati Anda dengan tertatih-tatih dan memegang pundak Anda seraya berkata ” Anakku … ayah bangga kepadamu, belajarlah, berjuanglah nak… hidup tidaklah mudah, tapi yakinlah dengan berjuang didasari rasa keadilan, kejujuran Insyaallah  semua akan menjadi mudah dan indah, tetap semangat untuk berprestasi nak, majulah… berjuanglah….. bukankan bintang itu bersinar cemerlang indah karena berani keluar menantang gelapnya malam?”

Suatu saat nanti ibu bapak pasti akan kembali menghadap penciptaNya, entah kapan, tapi itu bukanlah suatu tragedi bagi Anda. Tetapi sejauh mana Anda telah membahagiakan ibu bapak Anda sebelum beliau berdua kembali kepada Tuhan. Ingatlah, ketika Anda  belum sempat memenuhi beberapa harapan kebahagiannya padahal Anda mampu melakukannya, dan beliaupun secara tiba-tiba pergi meninggalkan Anda selama-lamanya dan Anda belum sempat meminta maaf kepadanya, itulah TRAGEDI yang sesungguhnya.

Sahabat, saatnya Anda bangkit!

Bahagiakan keduanya dengan sekuat tenaga , dengan usaha Anda yang terbaik. Ketika  Anda berkeinginan  menjadi orang baik,  maka hal yang pertama Anda lakukan adalah berbakti  dengan tulus ikhlas kepada ibu dan bapak. Mereka tidak meminta banyak kepada Anda, mereka hanya meminta Anda untuk menjadi anak yang sukses dunia dan akhirat, mereka hanya ingin Anda menjadi anak investasi akhirat mereka, anak shalih-shalihah, sehingga doanya dikabulkan oleh Allah Subhanallaah.

Bangkitlah sahabat, mulai saat ini tidak ada malas, yang ada adalah antusias. Mulai saat ini tidak ada lagi bekerja karena ingin dipuji, tidak dengan egois dan sombong merasa benar sendiri, yang ada adalah perjuangan suci dengan mengkhlaskan diri. Salam sejahtera, semoga kasih dan sayang tercurah kepadamu sahabat!

Wallahu alam bi ash shawab.

Comment (1)

  • Twotie Budi| March 4, 2011

    Terima kasih Om Mus, mudah-mudahan komtemplasi ‘catatan kecil’ ini menjadi bermakna untuk keluarga besar Kasmaji 81, amin

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *