Cah Angon

mustadiRenungan Jumat oleh Mustadihisyam

Rasulullah bersabda, ”Pemimpin itu laksana penggembala, dan dialah penanggungjawab rakyat yang digembalakannya.” Konsep kepemimpinan yang ditawarkan rasulullah cukup sederhana, yakni laksana cah angon,  penggembala. Pada galibnya penggembala bertanggungjawab agar hewan-hewan yang digembalakannya terpelihara dengan baik,  cukup makan minum, sehat, gemuk, serta terjaga dari binatang-binatang buas.

Tak terbersit dalam benak kita adanya penggembala yang cuek dengan hewan-hewan piaraannya. Apalagi menargetkan agar hewan-hewan yang menjadi tanggungjawabnya itu haus, lapar, cedera, bahkan mati. Sebab dia bakal ditanya oleh tuannya tentang hewan-hewan yang digembalakannya itu. Kalau hewan yang digembala itu sehat, gemuk bisa dibayangkan pasti sang majikan akan memberikan senyuman, pujian, bahkan hadiah sebagai ucapan terimakasih atas kepercayaan dalam mengemban amanat itu.

Sebaiknya kalau hewan yang digembalakan itu kurus, sakit-sakitan bahkan ada yang mati, pasti si penggembala itu bisa ditebak perasaannya, gundah, takut dan terbayang sang majikan akan memarahinya, kalau sudah begitu tidur tidak nyenyak, makan pun tidak nikmat lagi, dan yang paling fatal kepercayaan simajikan kepada pengembala itu bablas… hilang sudah.

Kepemimpinan, menurut sabda nabi saw di atas, adalah konsep pemeliharaan urusan rakyat yang tidak hanya berdimensi dunia, tetapi juga akhirat. Amanat yang bakal dipertanggungjawabkan di hari pembalasan, yang kalau tidak dilaksanakan dengan baik, sesuai petunjuk Alquran dan Sunnah, bakal menjadi kehinaan dan penyesalan.

Islam memandang pemimpin bukanlah orang yang sibuk menghitung dan menikmati berbagai fasilitas yang diterima dari uang rakyat lantaran kedudukannya. Bukan pula orang yang menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri dan keluarganya. Dia pun tidak menjadikan jabatan sebagai sarana untuk mengokohkan kekuasaan diri dan kelompoknya serta mengeksploitasi rakyatnya. Ketika Khalifah Umar menemui anaknya di dalam ruang kerjanya dia mematikan lampunya, katanya “lampu ini dibayar oleh rakyat untuk dipakai urusan pemerintahan, bukan urusan pribadi.” Bukan main!

Seringkali orang lupa bahwa fasilitas yang diberikan kepadanya tidak dipakai sebagaimana mestinya. Sebagai contoh ketika seseorang diberikan fasilitas mobil plat merah, kenyataannya banyak yang dipakai untuk urusan pribadinya, belanja kepasar dengan istrinya, jalan-jalan bersama keluarga, bahkan ada yang di pakai pulang kampung berhari-hari, padahal orang tahu kalau mobil itu dibeli dengan uang rakyat, bensinnya juga dibayar rakyat. Harusnya orang itu malu, bukannya bangga nongkrong di atas mobil rakyat. Dari segi hak atas kekayaan, pemimpin sama saja dengan rakyat, tidak memiliki kelebihan apa pun. Dia hanya mendapatkan kompensasi yang layak sebagai ganti atas seluruh waktu dan perhatian yang dia curahkan untuk rakyat.

Pernah suatu ketika Khalifah Umar bin Khatab ditanya oleh seorang rakyatnya tentang baju yang dikenakannya yang berasal dari pembagian kain dari Yaman untuk seluruh rakyat. Maka amirul mukminin itu menyuruh anaknya, Abdullah bin Umar memberikan klarifikasi. Abdullah pun menjelaskan, ”Sungguh ayahku (khalifah Umar) mendapatkan bagian yang sama dengan kita semua, namun karena tubuhnya yang begitu besar, maka bagianku kuberikan padanya, agar dia bisa memakainya.”

Dengan merujuk pada hadis tersebut di atas, pemimpin justru sibuk berfikir dan bertindak agar rakyatnya dapat hidup cukup sandang, pangan, papan, serta terjamin kesehatan, pendidikan dan keamanannya. Suatu ketika Khalifah Umar berkata, ”Kalau sekiranya ada seekor keledai jatuh tergelincir di suatu jalan di Irak, aku khawatir nanti Allah akan menanyaiku, mengapa aku tidak menyediakan jalan yang rata di sana.” Kita tentu butuh pemimpin seperti ini.

Wallahu a’lam bisshawab.

Comment (3)

  • Diah| February 6, 2009

    Boleh dibilang Khalifah Umar memang sosok pemimpin ideal, dan mestinya dibutuhkan sepanjang masa…entah di masa krisis, di masa perang, di masa damai…masa apapun, seharusnya pemimpin ya seperti itu ya…(kalo di teori mungkin beliau ini termasuk perpaduan berbagai tipe pemimpin ya, ..integrated leader-lah,… ono to?)
    InsyaAllah kita semua berusaha meneladani beliau.

    Ning sok2 rodo angel ki yen mengenai mobil dinas..hehehe…, aku dadi rodo isin ki…, soale anak2ku yen mangkat sekolah isih nunut bapake mbutge..dan tentunya yo nganggo kendaraan plat merah…hehehe…
    Nuwun sewu pak Must…,ditunggu fatwanya (lo..kok kayak minta pembenaran yo …?)

    Salam

  • Didiet Priatmadji| February 6, 2009

    Podho Yu, aku yo isin (isin kok jamaah), maune aku arep ora komentar tapi gandheng wis ini sing ndhisiki bloko aku yo melu.. mbiyen ki aku pirang2 taun oleh mobil kantor, meski fisiknya plat item (kantor swasta) tapi tetap hakekatnya plat merah (dinas), lha tak nggo nang ngendi2, yo urusan kantor, keluarga, sembarang kalir lah. Wis pokoke wis ora koyo barang silihan… Sakjane dalam hati aku yo khawatir mengko yen kenopo2 (tabrakan, ilang, dsb) iso urusan karo kantor.

    Kok ndilalah aturane diganti, mobil kantor ditariki kabeh, Alhamdulillah diwenehi kesempatan nyicil mobil dhewe (pancene bakat pecicilan : omah nyicil, motor nyicil, dsb). InsyaAllah saiki status mobil bukan pinjaman dari kantor tapi pinjaman dari Allah, sebagaimana semua yang ada pada kita, bahkan diri kita, hanyalah “pinjaman” sementara dari Allah, dan pasti suatu saat akan diambil olehNya…

  • Diah| February 7, 2009

    Sing penting wis menyadari yo Dit.., pancen kabeh mau berproses. Soale anak2ku sing loro durung iso numpak pit montor dhewe, arep numpak angkot kesusu, wong setengah pitu wis mlebu..,trus diambil praktise wae..nunut bapake tindak kantor (hehehe pembelaan diri nih ye..)
    InsyaA untuk urusan yang lain2..wis ora ngrusuhi darbeke negoro kok….. (yo pdho Dit hasile ‘pecicilan’…hi hi hi..!)

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *