Jaman Edan

jaman edan

Jaman edan
yen ra ngedan ra keduman
melu ngedan ora tahan

Wolak-walik ing jaman
kursi-kursi nggo rebutan
rakyat cilik dadi korban

Jare jaman reformasi
ning korupsi malah ndadi
nduwur subur
tengah makmur
ngisor dadi ajur mumur

Ngerti hukum jebule ngrusak tatanan
do dum-duman duwit sogok-sogokan

Jaman edan
sing ngedan lali Pangeran.

.

Untaian kata di atas sepertinya tepat untuk menggambarkan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Wong edan adalah orang yang hilang akal ora waras, tentu kita yang waras bisa maklumi kalau dia berbuat di luar norma kehidupan yang wajar. Tetapi kalau ngedan itu lain lagi. Dia sehat fisiknya, waras pikirannya bahkan kadang-kadang lebih moncer otaknya dari pada manusia normal biasa tetapi sayang jiwanya sakit, sehingga seringkali kepintarannya hanya buat minteri orang lain. Jiwanya sakit karena terselimuti hawa nafsu sehingga cahaya Ilahi tak mampu menembus dan menerangi kalbunya akhirnya layu dan sakit.

Keserakahan tumbuh subur mengubur sifat-sifat hakiki kejujuran dan kepercayaan dalam dirinya. Syhawat politiknya dipakai untuk berebut kursi jabatan dengan menghalalkan segala cara, sing penting iso linggih empuk, waton nganggo kupluk, gaweane mung mantuk-mantuk, bondone sak tumpuk, bojone sak umbruk, rakyate podo garuk-garuk, akhire negarane ambruk.

Mengapa negara kita yang terkenal bangsa yang beradab dan berbudidaya ini bisa menjadi bangsa yang amburadul seperti bangsa Bar-bar. Korupsi sudah menjadi hal yang lumrah, sogok menyogok terjadi dimana-mana, pungli ada di jalan-jalan sampai ke meja pejabat.

Ada empat pilar yang diajarkan oleh Rasulullah kepada manusia, tetapi saat ini banyak yang melupakan yaitu: Kejujuran (Sidiq), Kepercayaan (Amanah), Penegakan Hukum (Tabligh) dan Cerdas/Visioner (Fathonah).

Setiap tahun umat Islam hampir di seluruh Nusantara ini selalu merayakan Maulid Nabi besar Muhammad SAW, tapi sayang hanya sebatas ritual saja. Seharusnya dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad itu kita sebagai umatnya mau merenung dan belajar dari sejarah kehidupan Rasulullah untuk ditaati perintah-perintahnya, diambil suri tauladan tingkah lakunya untuk menghadapi dan mengatasi segala kesulitan dan tantangan hidup di dunia ini.

Akhlaq Rasulullah sebagai uswah hasanah bagi semua umat yang ingin dan menghendaki hidup bahagia sejahtera, adil makmur merata, dunia damai tentram tata raharjo. Beliau ditinggal ayahnya saat masih dalam kandungan, ketika masih kecil ditinggal ibunya pula dan dengan kesabaran dalam perjuangannya akhirnya beliau sukses dalam segalanya, sukses sebagai seorang pedagang, sukses dalam memperjuangkan hak-hak asasi manusia, sukses dalam menumbangkan rezim polytheisme menjadi monotheisme dan sukses sebagai pemimpin umat.

Beliau dan para sahabat menghadapi rintangan dan perlawanan orang-orang Quraisy yang terkenal sangat keras dihadapi dengan hati iman, taqwa, bekerja keras dengan sabar dan tawakal dengan berkeyakinan bahwa barang haq pasti menang dan unggul, barang bathil pasti hancur.

“Katakanlah: Barang Haq datang, barang bathil pasti hilang, sungguh barang yang bathil pasti hancur”. ( QS Al-‘Isra’: 81)

Semua kesuksesan program Rasulullah itu tak lain hasil dari iman dan taqwa diujudkan dalam perilakunya yang jujur (Sidiq), bisa dipercaya (Amanah), Penegakan Hukum (Tabligh) dan cerdik – visioner (Fathonah). Sejak umur 12 tahun Beliau sudah dikenal masyarakat sebagai anak yang jujur dan pada usia 20 tahun takala Nabi menjalankan tugas perang Fijar mendapatkan gelar Al Amin, orang yang bisa dipercaya, sungguh luar biasa. Maka tak heran di bawah kepemimpinan Beliau keamanan dan kesejahteraan umatnya terjamin.

Kejujuran dan kepercayaan merupakan dua hal yang mutlak harus diujudkan dalam tingkah laku dimanapun kita berada baik didalam rumah, dikantor maupun dalam pergaulan dimasyarakat. Tapi sayang, saat kejujuran menjadi barang langka di negeri ini.

Sebagai contoh saat ini banyak orang berlomba-lomba ikut Pilkada, Pemilu tetapi niatnya banyak yang tidak jujur, bukan untuk berjuang memakmurkan bangsanya tetapi hanya mengejar keuntungan materi belaka. Kursi jabatan seperti barang dagangan, berapa modal yang dikeluarkan dan berapa keuntungan yang akan didapatkan kembali setelah menang. Itulah gambaran para pejabat negeri ini, tak mau jujur maunya jujul.

Kalau kejujuran sudah tidak ada, bagaimana bisa dipercaya ! Padahal kepercayaan itu adalah fondasi mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia tak terkecuali para pejabat agar bangsa ini mantab dalam melangkah menuju kemakmuran yang dibarengi dengan penegakan hukum yang konsisten -Tabligh.

Tabligh adalah sikap istiqomah terhadap hukum yang berlaku, konsisten taat hukum dimana undang-undang, peraturan-peraturan dilaksanakan dan diujudkan, tidak dibelokkan, tidak disalahgunakan, tak dikurangi dan ditambah.

Bila sifat Tabligh ini diabaikan maka akan timbul penyelewngan-penyelewengan, kecurangan, main suap menyuap, pungli dll, karena dengan mengabaikan sifat Tabligh berarti tak lagi mengenal batas halal haram, menganggap semuanya halal. Inilah salah satu unsur yang menjadikan rakyat ini menjadi sengsara. Undang-undang dibuat berdasar transaksi yang hanya menguntungkan segelintir orang yang notabene adalah para pemesannya, hanya menguntungkan para pengusaha, hanya menguntungkan partai politiknya.

Peraturan hanya menjadi hiasan dinding, bahkan cenderung dilanggar sendiri oleh para pembuatnya, contoh paling gampang adalah terpasang spanduk disalah satu instansi ” Mohon tidak membeli/mengurus … lewat Calo” , ironisnya yang membuat peraturan itu yang menjadi calo. Ada lagi, banyak orang dengan penuh semangat mengatakan “Tidak pada Korupsi” ternyata hanya isapan jempol belaka karena akhirnya mereka tertangkap diduga melakukan korupsi.

Teriakannya itu bukan keluar dari suara hatinya, hanya lamis untuk menutupi keserakahannya. Lain lagi dengan para aparat penegak hukum, kariernya berakhir dijebloskan dalam penjara karena melanggar hukum, uang sogokan merusak tatanan hukum. Tak heran kalau saat ini disebut jaman edan sing edan lali pangeran. Inilah akibat bila sifat Tabligh tidak dimiliki dan diwujudkan oleh para pejabat dan petinggi negeri ini.

Faktor yang terakhir dalam membangun menuju bangsa yang adil makmur adalah sifat Fathonah, cerdik berwawasan jauh kedepan, mengerti keadaan yang terjadi atau akan terjadi dengan jelas dan terang dengan pengawasan dan wawasan yang tepat. Sifat inilah yang membawa masyarakat dan umat kepada arah yang sebaik-baiknya, membawa kemajuan, keunggulan dan kebahagiaan. Seorang pemimpin yang Fathonah selalu mempertimbangkan baik dan buruk bagi rakyatnya sebelum dia melangkah, bukan mempertimbangkan baik buruknya bagi diri dan kelompoknya.

Dengan kata lain pemimpin yang Fathonah menyakini benar akan kebenaran hukum Tuhan yaitu Sunnatullah berlaku untuk setiap mahluknya, apa yang dia lakukan saat ini akan berakibat dikemudian hari. Sangat tidak setuju ketika ada seorang istri yang sedang menengok suaminya ditahanan karena melakukan tindak korupsi, ia mengatakan bahwa: “Ini semua adalah ujian dari Tuhan dan kami terima dengan sabar”.

Harap diingat bahwa Tuhan hanya menguji kepada manusia yang taat kepadaNya supaya naik kelas dari derajat Muslim menjadi Mukmin, Muhsin, Mukhlis akhirnya menjadi hamba Muttaqin. Jadi kalau ada seorang koruptor tertangkap dan dijebloskan dalam tahanan itu bukanlah ujian dari Tuhan, tetapi karena kebodohan, keserakahan karena ulah para koruptor itu telah melawan Hukum Tuhan, Sunnatullah. Dipecat dari jabatannya dan meringkuk ditahanan karena hasil perbuatannya melanggar hukum, itulah hukum Sunnatullah berlaku. Sehebat apapun manusia itu kalau dia melawan Sunnatullah cepat atau lambat pasti akan merasakan akibatnya dan tak seorangpun bisa menghambatnya.

Sunnatullah adalah hukum Tuhan yang berlaku bagi setiap mahluk ciptaanNya, tak ada pengecualian, dan dunia ilmu pengetahuanpun mengakui kebenarannya, seperti dalam theory Hukum Gerak Newton 3: jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar F (yang arahnya berlawanan) kepada benda A. Hukum ini juga terkenal sebagai hukum aksi-reaksi. Itulah Al Hakim, keadilan yang sejati. Apa yang kita dapatkan merupakan buah dari perbuatan kita sendiri. Pemimpin yang Fathonah selalu berfikiran visioner, hari ini lebih baik dari kemarin dan esok hari harus lebih baik dari sekarang, itulah pola fikir yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Mengingat pentingnya empat sifat tersebut diatas seharusnyalah masyarakat Indonesia, terutama para pejabat dan pemimpin negeri yang kita cintai ini haruslah sepenuhnya memiliki sifat-sifat tersebut, jangan sampai ada kekosongan untuk menggalang kekuatan dalam berjuang membangun bangsa dan negara menuju masyarakat yang adil makmur, mewujudkan cita-cita para pahlawan dan pendiri bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Jiwa sifat empat itu juga harus kita tanamkan dalam dada dan sanubari anak-anak turun kita sebagai generasi penerus bangsa dengan penuh harapan mereka bangkit, bergerak berjuang membangun bangsa dan negara dengan ikhlas, jujur, bisa dipercaya, penuh kesadaran dan keberanian, cukup kewaspadaan jauh dari selingkuh, curang dan penyelewengan. Beriman yang teguh, bertaqwa yang kuat, Insya Allah segala cita-cita yang luhur dan mulia dengan Inayah dan Ridha Allah dapat tercapai menjadi Bangsa yang gemah ripah loh jinawe, baldatun toyyibatun warobbun ghofur, negeri yang tata tenrem karto raharjo dan diberkahi Allah SAW.

Saatnya kita berani mengucapkan “Selamat Tinggal Jaman Edan !”.

Wabillahi Taufik wal Hidayah, Wassalaamu’alaikum wwb.
Mustadi

2 Replies to “Jaman Edan”

  1. Mantep tenan mas Mustadi. Kita diingatkan bahwa Sunatullah berlaku pada siapapun, dimanapun, kapanpun, dan apapun yang ada di alam semesta – baik fisik maupun non fisik. Ini dulu sering diajarkan orang-orang tua kita. Sopo nandur bakal ngunduh. Pendidikan kita – baik di sekolah maupun di luar sekolah – lebih menekankan mendidik orang untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan, belum mengajarkan perilaku yang memiliki nilai-nilai luhur. Akibatnya ya seperti sekarang ini, jaman edan. Jauh dari nilai-nilai luhur yang dicontohkan Rasulullah. Banyak yang lupa bahwa hidup di dunia diibaratkan sekedar mampir minum.

    Trimakasih mas Mustadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *