Mental Karun

mustadiOleh: Mustadihisyam

Pada mulanya, Karun merupakan pengikut yang taat terhadap ajaran yang disampaikan Nabi Musa dan Nabi Harun. Bahkan, setelah kedua nabi itu, ia merupakan orang yang paling menguasai Kitab Taurat. Dengan ilmu yang diberikan Allah, ia dapat memiliki banyak harta hingga menjadi orang terkaya di Mesir.

Namun, akhirnya Karun menentang firman-firman Allah dalam Taurat. Ia mengatakan harta kekayaannya bukan pemberian Allah, melainkan diperoleh dengan ilmu yang dimilikinya. Ia pun semakin congkak, berbuat aniaya terhadap kaum Nabi Musa.

Karena itu, kaum Nabi Musa as mengingatkannya. Hai Karun! Janganlah engkau congkak! Sesungguhnya Allah tidak mengasihi orang-orang yang congkak. Dan carilah dengan rezeki yang Allah berikan kepadamu kebahagiaan di kampung akhirat. Dan jangan kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat binasa. Namun Karun berkata, Kekayaan yang diberikan kepadaku [aku peroleh] karena ilmu pengetahuanku. Allah berfirman, “Apakah ia tidak mengetahui bahwa Allah telah menghancurkan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dan lebih banyak harta bendanya dari pada dia?” (QS Al-Qashash: 76-78).

Meskipun diingatkan berkali-kali, Karun tidak merubah sikapnya. Bahkan ia semakin congkak, dengan memamerkan kekayaannya di hadapan Nabi Musa dan kaumnya. Akhirnya kesabaran Nabi Musa pun habis. Beliau memohon kepada Allah, agar Karun dan semua harta kekayaan dilenyapkan. Allah pun mengabulkan doa Nabi Musa (QS Al-Qashash: 81).

Peristiwa dahsyat itu terus diingat hingga sekarang. Sejak itu benda berharga yang ditemukan dari perut bumi disebut ”harta karun”, meskipun benda-benda yang ditemukan ini belum tentu milik Karun.

Karena itu, kita tidak perlu mencari harta karun yang belum tentu keberadaannya. Bahkan, boleh jadi harta peninggalan Karun, sejak dahulu sudah tidak ada lagi. Saat ini yang harus kita lakukan adalah mencari “mental Karun”. Namun, mental Karun ini bukan untuk kita miliki, melainkan justru harus kita hilangkan. Mental Karun merupakan suatu sikap yang menganggap harta dan tahta diperoleh karena ilmu pengetahuan semata.

Untuk menemukan mental Karun, kita tidak perlu mencarinya ke berbagai tempat atau pedalaman. Sebab, mental Karun ini, boleh jadi berada dalam diri kita sendiri. Mari kita hilangkan. Dan mari kita cari harta lainnya dengan jalan yang benar,dalam arti yang halal dan toyyib (baik) dan jangan lupa di dalam harta itu ada bagian orang lain yang harus dikeluarkan, supaya harta itu menjadi barokah.

Wallahu a’lam bisshawab.

One Reply to “Mental Karun”

  1. Acc, Ust Mus – memang sudah seharusnya kita menghindari ‘mental karun’ . Selain itu alangkah lebih baik kalau setiap pendapatan yang kita peroleh selalu kita sisihkan 2,5% untuk kerabat kita yang kurang beruntung.

    salam
    2T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *