Mother is not only a house wife

Oleh Mustadihisyam

.

Hari ini tanggal 22 Desember 2009, kita kenal dengan hari Ibu. Barangkali kita bertanya-tanya mengapa sebegitu pentingnya peran ibu, sehingga ada hari yang sangat spesial, yaitu Hari Ibu. Sepertinya belum pernah kita dengar ada hari bapak. Ibu memang memegang peranan penting dalam keluarga, beliau melahirkan, membesarkan, mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anaknya.

“Ibu” dalam bahasa Al Quran sering disebut dengan Umm, dari akar kata yang sama dibentuk kata imam (pemimpin) dan ummat, semuanya ini bermuara pada makna “yang dituju” atau “yang diteladani”, dalam arti pandangan harus tertuju kepada umat, pemimpin, dan ibu untuk diteladani. Ibu melalui perhatiannya dan keteladanannya kepada anak, juga perhatian anak kepada ibunya, dapat menciptakan pemimpin-pemimpin yang tangguh yang dapat membina umat. Sebaliknya jika seorang ibu yang melahirkan seorang anak tidak berfungsi sebagai umm, maka tidak akan tercipta umat yang baik dalam tatanan masyarakat ini, dan Imam – pemimpin yang pantas diteladani pun tidak akan pernah lahir.

Di dalam Al Quran, surah Lukman ayat 14, Allah mewasiatkan kepada anak untuk berbuat baik kepada kedua orangtua.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Jelas sekali menempatkan kewajiban anak berbuat baik kepada ibu dan bapaknya pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah. Lihatlah kata dalam surah Lukman ayat 14, pertama perintah berbuat baik kepada orang tua itu merupakan wasiat dari Allah, kedua yang disebut dulu adalah Ibunya, bukan bapaknya. Ini semata-mata bukan ibu memikul beban berat dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui anak, tetapi ibu juga dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat.

Fungsi dan peran inilah yang menjadikan ibu sebagai “Umm”. Karena misi yang diberikan kepada ibu tidak ringan, maka demi suksesnya tugas mulia itulah Allah menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak. Peran ibu tidaklah mudah dan tidak boleh dikesampingkan. Namun demikian peran ibu tidak berarti harus terus menerus di dalam rumah dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Tetapi juga pada saat yang sama, Ibu tidak berarti harus menelusuri jalan dari pagi sampai malam seperti apa yang dilakukan oleh kaum bapak.

Apa jadinya anak dan suami nanti kalau ibu tidak pernah menampakkan dirinya di rumah, bukankah kita selalu mengharapkan keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang? Maurice Bardeche tokoh dari Perancis terkenal sebagai pelopor yang mengumandangkan semboyan “kebebasan dan persamaan” dalam bukunya Histoire des Fermes memperingatkan. “Janganlah hendaknya kaum ibu meniru kaum bapak, karena jika demikian akan lahir-bahkan telah lahir- jenis ketiga dari manusia”.

Sekali lagi, apa yang dimaksud di atas bukan berarti peran ibu harus terus menerus di dalam rumah – menyiapkan makanan, menunggu kedatangan suami, beres-beres rumah – karena bukan itu yang menjadi tugas pokok seorang ibu. Kita simak pendapat ulama besar kenamaan (walaupun tidak semuanya sependapat) Ibnu Hazm : “Baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri melayani suami, membersihkan dan mengatur rumah tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Makanan dan pakaian yang telah siap dan terjahit untuknya justru menjadi kewajiban bapak untuk menyediakannya.”

Rupanya pendapat ulama besar Ibnu Hazm yang dikemukakan seribu tahun lalu, dan yang dicita-citakan oleh tokoh emansipasi, beliau ingin menekankan kewajiban seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya. Oleh karena itu, di Hari Ibu yang jatuh pada hari ini, kita sebagai anak patut merenung kembali akan jasa-jasa ibu yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita bisa menjadi orang seperti ini.

Seteguk air susu yang pernah kita minum, cerita dongeng yang selalu menemani kita pada saat akan tidur, belaian tangannya, tetesan keringat yang pernah dicurahkannya, untaian kata-kata nasihat yang pernah diucapkannya, semuanya itu tak mungkin kita membalasnya.

Kita hanya bisa berdoa “Ya Allah ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana beliau memelihara kami di waktu kecil. Berikanlah kesempatan kepada kami untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepada kami dan kepada kedua orang tua kami, supaya kami dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai”.

Wallahu alam bi ash shawab

Comment (1)

  • Diah| December 23, 2009

    Mustadi, makasih telah menyegarkan kembali ttg peran dan makna ibu yg sesungguhnya.
    Salam

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *