Membongkar Hati

fahmiOleh Fahmi Alkaf (eks 3 IPA 4)

Ucapan baik berupa pujian, syukur, keterkejutan sampai jeritan tauhid yang super murni seperti… “Alhamdulillah”… “syukur ya Allah”… “MasyaAllah”“Subhanallah”“Astaghfirullah” sampai “Allahu Akbar..!!” semua itu sesuai anjuran sangat baik serta mengandung makna yang dalam dan luas.

Bagi pengucapnya itu bisa menjadi bimbingan ke jenjang ruhani yang lebih tinggi, namun di sisi lain bisa saja merupakan kebiasaan tanpa makna yang pada kondisi tertentu bisa memupuk rasa ujub dan sombong yang sangat bertentangan dengan maksud isi ucapannya.

Alhamdulillah, misalnya. Ucapan tersebut mengembalikan dan mengingatkan pengucapnya bahwa pujian itu semuanya tak layak untuk siapa pun dan hanya Allah yang patut dipuji. Namun, kadang pengucapnya malah merasa setelah mengucap Alhamdulillah dia merasa paling dekat dengan Allah, merasa lebih agamis dibanding yang lain, lebih tawadhu, lebih dicintai Allah…dst. Penyakit ujub mulai menjangkitinya.

Contoh lain ucapan takbir –Allahu Akbar– yang pada maknanya menyadarkan si pengucapnya pada Kebesaran Allah dan yang lain adalah kecil sehingga tercerminlah sikap tawadhu merendah dan takut pada kebesaran Allah. Namun sering terjadi dengan mengucap takbir “Allahu Akbar” perasaan percaya diri bahwa yang saya lakukan benar, di jalan Allah, paling benar yang lain salah, kita harus istiqomah karena kita sedang berjuang di jalan Allah, kita penegak kebenaran, dst..dst.. sampai yg ekstreem perasaan bahwa saya sekarang sudah kuat dan besar karena dekat dengan Allah, memperjuangkan jalan Allah…..

Takbir… “Allahu Akbar..!!” dari penyadaran atas ke Mahabesaran Allah berubah menjadi ke maha-banggaan diri atas perasaan ada pada jalan kebenaran. Penyakit ujub hingga takabbur kembali menjangkiti lagi.

Begitu juga dengan perilaku perilaku yang menunjukan sikap tawadhu. Berjalan menunduk, selalu terlihat sedih, senyum-senyum tertahan campur sedih, cara berjalan sampai ucapan-ucapan… antumalfaqirsaya yang hina…dst., pada dasarnya semua itu merupakan perilaku kebaikan yang memang dianjurkan.

Namun hakekat manusia itu adalah hatinya… niatnya.. ruhnya… yang merupakan pengendali semua aktifitas dan perilakunya. Boleh jadi perilakunya sudah baik, tapi di tengah jalan dibelokkan oleh ujub atau kibr. Saat memulai niatnya baik namun di tengah terkena godaan yang mengubah niat 180 derajat. Atau sebaliknya, perilakunya tidak sedap namun hati dan niatnya harum baunya.

Yang terbaik adalah kedua-duanya tetap istiqomah di jalan kebaikan. Hanya dengan latihan setiap hari ruhani kita dapat tetap konsisten. Seperti senam dan olah raga rutin yang dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, begitu juga dengan kesehatan dan kebugaran ruhani perlu terus dilatih dan diolah secara rutin.

Sarananya sudah diajarkan oleh agama, hanya penghayatannya memerlukan niat dan kemauan yang teguh dari dalam diri sendiri. Yang penting mau dan usaha sungguh-sungguh Insya Allah ada yg membantu. Allah… MalaikatNya… Nabi…. Orang Suci…. dan Para pendahulu yang telah sampai di sana.

Salam terus saling mengingatkan..!!

Perjalanan Terjauh

Assalamu’alaikum wr.wb

Tahukah kau, perjalanan terberat dan terjauh bagi seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid.
Karena saat ini, banyak sekali orang yang kaya, tidak sanggup melakukannya.
Jangankan sehari lima waktu… bahkan banyak sekali yang seminggu sekali pun terlupa.
Tidak jarang pula ada orang yang sekali seumur hidup pun tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan perjalanan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya.
Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas di Eropa, Amerika..
mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia, Korea dengan semangat yang membara,
namun ke masjid tetap menjadi perjalanan yang tak mampu mereka tempuh
walaupun telah bertitel S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Karena para pemuda yang kuat dan bertubuh sehat yang mampu menakhlukkan puncak
Gunung Semeru dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid.
Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata “sebentar lagi”,
ada yang berucap “tidak nyaman di masjid”.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.
Maka berbahagialah dirimu.. bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid.
Karena sejauh apapun engkau melangkahkan kaki,
tidak ada perjalanan yang paling bisa dibanggakan
selain perjalananmu ke masjid.

Ku beri kau satu rahasia..
Sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan menjumpai Rabb-mu.
Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi… Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.
Itulah perjalanan yang akan membedakanmu dengan
orang-orang yang lupa akan Rabb-nya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke masjid.
Maka lakukanlah, walaupun engkau harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenang Rabb-mu.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik ialah sholat Isya’ dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang ada pada kedua sholat itu, mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” Muttafaq Alaihi.


Sumber: broadcast dari grup ke grup media sosial | Featured image diambil dari fimadani.com

Puasa meningkatkan derajat keimanan

Oleh Mustadihisyam

Assalamu’alaikum wwb.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya menjadi orang yang bertaqwa” (QS Al-Baqarah 183)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, apabila suatu ayat didahului dengan panggilan kepada orang yang beriman maka ayat itu mengandung perihal yang sangat penting. Sebab Tuhan Maha Tahu bahwa yang bersedia dipanggil menjalankan perintah itu hanya orang-orang yang beriman, termasuk ibadah puasa. Orang yang merasa ada iman akan bersedia menjalankan perintah Allah dengan segala konsekwensinya. Maka tak heran jika orang-orang yang menjalankan ibadah puasa dengan keimanan, Allah akan mengangkat derajatnya menjadi orang yang bertaqwa. Derajat orang bertaqwa adalah derajat keimanan yang tertinggi di hadapan Allah.

Ada lima tingkatan derajat keimanan dalam Islam:

Pertama adalah orang Islam (Muslim), yaitu orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjanji melaksanakan syariat Islam dengan baik, mendirikan sholat, melaksanakan ibadah puasa, membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu. Inilah tingkatan derajat ketaqwaan yang paling dasar.

Kedua adalah orang beriman (Mukmin), yaitu orang yang betul-betul beriman kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Sesuai dalam QS Al Anfal ayat 2-4: “Sesungguhnya orang Mukmin itu adalah apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambah keimanannya, dan mereka bertawakal kepada Allah. Dan mereka mendirikan sholat, serta menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka. Itulah orang yang sebenar-benarnya beriman, bagi mereka itu akan Kami  angkat derajatnya, Kami ampuni dosa-dosanya, dan Kami berikan kepadanya rizqi yang mulia ” .

Ketiga adalah orang yang selalu berbuat baik (Muhsin), yaitu orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, tidak mau menyakiti hati orang lain, tutur katanya santun – bicaranya selalu dipikir dulu sebelum diucapkan, tidak pernah mau ingkar janji, selalu menebar kasih sesama mahluk Tuhan, dan jauh dari keburukan.

Keempat adalah orang yang ikhlas dalam menjalankan agama (Mukhlis), yaitu orang yang mau merelakan jiwanya, hartanya, segala sesuatu yang mereka miliki semata-mata untuk berjuang untuk agama Allah dengan ikhlas dan hatinya ridha terhadap ketentuan Allah. Hidupnya senantiasa tak pernah ngresulo (mengeluh) kepasrahannya begitu tinggi. Untuk mencapai derajat ini tentu harus berusaha ibadah yang super keras.

Yang kelima adalah orang yang bertaqwa (Muttaqin), inilah derajat keimanan paling tinggi di sisi Allah dimana manusia telah menjadi insan kamil – orang yang disayang Allah baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kemana mata memandang, Allah selalu tampak mendampinginya, orang ini benar-benar tak mau menghianati hubungannya dengan Allah. Inilah derajat yang diharapkan manusia setelah melaksanakan ibadah puasa dibulan Ramadhan. Orang yang beribadah kepada Allah bukan karena pingin masuk surga dan takut ke neraka, tapi dia beribadah semata-mata karena cintanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Jadi output dari orang menjalankan ibadah puasa adalah insan Muttaqin, orang bertaqwa yang derajat keimanannya paling tinggi, super top.

Semoga Allah memberikan kekuatan iman dan kesehatan sehingga kita dpt melaksanakan ibadah puasa, mengangkat derajat kita menjadi insan Muttaqin.

Wassalamu’alaikum wwb.
Selamat pagi – salam sejahtera.

WhatsApp chat