Industri Kecil, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Pikiran Rakyat, June 10, 2008
Oleh Sapto Prajogo *
.

Energi merupakan kebutuhan pokok yang memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini, mulai dari kegiatan sehari-hari perseorangan sampai dengan operasional sistem produksi selalu tergantung pada energi. Untuk itu dalam kondisi krisis energi, mestinya sektor informal yang ternyata mampu menyerap 99,6% tenaga kerja Indonesia atau menjangkau lebih dari 136 juta jiwa, harus mendapatkan perhatian khusus.

Saat akan diluncurkan kebijakan konversi minyak tanah, penulis pernah menjadi relawan dalam kaitan bantuan teknis ke industri kecil. Dari pengalaman di lapangan tersebut, penulis mendapat kesan, bahwa sektor industri kecil hampir tidak terperhitungkan saat muncul kebijakan tersebut. Dengan berbagai pertimbangan pada waktu itu, mereka dicoba diarahkan untuk melakukan konversi ke bahan bakar gas, namun manakala upaya tersebut belum juga terealisasi, muncul lagi kebijakan baru yang tidak memihak ke industri kecil, di mana harga jual gas untuk tabung 50 kg naik.

Penilaian bahwa industri kecil menengah tidak diperhitungkan berkaitan dengan kebijakan konversi minyak tanah sangatlah beralasan. Hal tersebut terbukti, dari berbagai pembicaraan, konsentrasi penanggulangan dampak tertuju pada keluarga tidak mampu dengan membagi kompor gas beserta tabung elpiji 3 kg secara gratis. Sebuah upaya peredaman gejolak dengan pilihan penyelesaian yang gampang karena kompor gas yang dipakai menggunakan jenis yang standar dan umum dipakai masyarakat.

Selanjutnya, bagaimana dengan nasib industri kecil menengah dalam situasi krisis energi saat ini? Mudah ditebak, bahwa mereka pasti dalam kondisi kritis. Pada saat dihantam krisis moneter, mereka masih mampu menggeliat dalam menyelesaikan kesulitannya. Namun sekarang kasusnya berbeda karena permasalahan yang dihadapi adalah pasokan energi yang tentu saja sangat tergantung pada kebijakan pemerintah. Celakanya, dalam hal ini para pengambil keputusan demikian yakinnya, bahwa mereka pasti akan mampu menyelesaikan sendiri terhadap permasalahan ini.

Perlu dipahami, secara umum permasalahan yang sekarang dihadapi industri kecil menengah, selain kendala kontinuitas pasokan energi ternyata juga menghadapi kendala teknis. Secara umum kendala teknis yang dihadapi ternyata cukup serius, disebabkan pada umumnya alat konversi energi termal (kompor/tungku/tanur) adalah tidak umum seperti yang sering dipakai masyarakat dan tidak umum di pasaran. Sementara itu, varian dari industri kecil menengah tersebut juga sangat lebar, sehingga diperlukan desain maupun dimensi alat konversi energi termal yang juga sangat bervariasi. Lebih jelasnya mereka bingung dalam menyiasati adanya perubahan iklim energi. Hal yang wajar disebabkan ketidaktahuan akan “teknologi baru” yang harus dihadapi.

Dengan perjuangan ekstra, upaya “survive” untuk berpindah ke bentuk energi primer substitusi perlu dilakukan. Hal tersebut mungkin saja dapat dilalui dengan baik, namun bagaimana dengan jaminan kontinuitas pasokan energi primer substitusi? Sebagai contoh pada gas, sekarang pun pasokan gas juga kurang lancar.

Ada pihak yang menyarankan untuk beralih ke batu bara karena relatif murah, namun upaya ini pun tidak bisa dianggap sepele. Bila diasumsikan teknologi dan dimensi tungku/kompor/tanur telah terselesaikan. Lalu bagaimana dengan abu sisa pembakaran? Bagaimana dengan jaminan pasokan batu bara, sementara tata niaga batu bara cenderung dikuasai pengelola pertambangan?
Mencermati kondisi krisis energi ini dikhawatirkan akan memperluas krisis di berbagai bidang. Seharusnya pihak yang berkompeten memikirkannya secara tuntas. Tentunya pemerintah harus mau merelakan untuk berbagi kewajiban ke pihak peduli dan berkompeten yang mau mendukung penyelesaian masalah ini. Selain itu, untuk penyelesaian, tampaknya perlu dibuat posko-posko layanan yang memberikan konsultasi gratis seputar teknologi konversi dan konservasi energi.

Khusus pihak teknokrat, sebaiknya mau ikut membantu menyelesaikan permasalahan industri kecil menengah dan bukannya hanya peduli kepada industri besar yang berkarakter teknologi tinggi. Selain itu, perlu ada pergeseran paradigma dalam kaitannya dengan orientasi karya yang lebih membumi dalam menghadapi permasalahan riil di lapangan.

Prinsip kebijakan konversi minyak tanah seharusnya mampu menjamin ketersediaan energi substitusi. Pemerintah seharusnya tegas dan mau mewajibkan pemegang kuasa pertambangan dalam tanggung jawab pemenuhan pasokan energi dalam negeri. Selain itu, tatanan kebijakan sudah saatnya berubah untuk tidak lebih berorientasi pada jaminan pasokan energi ke luar negeri.

Selanjutnya, seiring dengan diumumkannya kenaikan harga BBM, kondisi industri kecil menengah saat ini bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Upaya survive akibat kebijakan konversi minyak tanah belum selesai, sudah datang lagi masalah, datang lagi masalah.***

.

* Penulis, pemerhati energi.
.

Customer Relationship Management

Kedaulatan Rakyat, 19/08/2008

.

PELANGGAN merupakan basis utama setiap usaha bisnis. Pada era persaingan seperti sekarang, pelanggan adalah ‘raja’ sehingga tidak hanya cukup untuk dikenali, tetapi perlu lebih jauh dipahami. Saat ini interaksi dengan pelanggan menjadi hal yang krusial dalam dunia bisnis. Demi meningkatkan pendapatan dan profitabilitas/keuntungan perusahaan, maka kegiatan ‘menyapa’ pelanggan harus dilakukan oleh setiap bagian dari perusahaan. Dengan demikian, sangat penting bagi manajemen bisnis untuk menerapkan model Manajemen Hubungan Pelanggan atau Customer Relationship Management (CRM).

CRM tidak sekadar sebagai call center yang hanya menerima pertanyaan ataupun keluhan pelanggan, dan juga bukan sekadar layanan purna jual yang prima. Namun lebih dari itu, CRM merupakan suatu strategi bisnis yang fokus pada pelanggan guna meningkatkan kepuasan pelanggan, pendapatan dan keuntungan perusahaan.

Sebagai gambaran proses CRM bermula dari pengumpulan data dari berbagai sumber yang kemudian diperkaya informasi umpan balik dari pelanggan untuk dijadikan master data pelanggan. Kemudian dilakukan analisis sehingga menghasilkan model serta informasi. Selanjutnya didistribusikan ke berbagai bagian di perusahaan untuk digunakan sebagai dasar menciptakan program-program interaksi dengan pelanggan. Semua ini pada akhirnya akan menghasilkan aksi berupa ‘titik-titik sentuh’ antara perusahaan dengan pelanggan secara terintegrasi.

Pada tahapan akhir, akan diambil umpan balik guna memperkaya data yang sudah ada. Demikian proses terus berulang sehingga hubungan dengan pelanggan akan terus membaik dari waktu ke waktu. Pada awalnya, penerapan CRM akan memberikan data-data terbaru dan akurat pada semua bagian di perusahaan, sehingga dapat untuk mengukur nilai yang sesungguhnya dari setiap pelanggan dan dapat untuk menentukan targeting pelanggan. CRM juga dapat digunakan untuk menentukan saluran-saluran pemasaran yang efektif, sehingga diperoleh penurunan biaya. Akhirnya, perusahaan dapat meningkatkan perolehan pendapatan maupun keuntungannya.

Strategi CRM dapat diterapkan pada hampir semua jenis usaha, antara lain pendidikan, kesehatan, perbankan, asuransi, transportasi, pariwisata, ritel ataupun usaha manufaktur lainnya. Hal yang lebih penting dalam rangka penerapan CRM yakni niat, arahan dan dorongan kuat dari pihak atasan/pimpinan serta dukungan budaya perusahaan untuk fokus pada pelanggan.

.

Dra. Budi Astuti, M.Si
Staf Pengajar Pascasarjana Ekonomi UII.

Asean butuh 5.000 ahli SAP

Kamis, 14/08/2008

.

JAKARTA: Sarjana bidang teknologi informasi (TI) di Indonesia berpotensi mengisi kebutuhan sedikitnya 5.000 tenaga ahli berkemampuan SAP di Asia Tenggara. Setiadji Sunarsan, Country Manager Field Service Dept. PT SAP Indonesia, menuturkan pihaknya memproyeksikan ada kebutuhan 60.000 hingga 80.000 tenaga ahli SAP di tingkat global. “Di Asean, kami perkirakan antara 5.000 dan 8.000,” ujarnya di sela-sela acara SAP Career Day 2008 kemarin.

Menurut dia, dengan lebih dari 350 perusahaan pelanggan di lintas industri saat ini dan sejalan dengan berkembangnya solusi serta basis pelanggan, akan banyak dibutuhkan tenaga SAP andal dalam ekosistem. “Kami membutuhkan tenaga yang ahli dalam konfigurasi dan mengelola sistem sesuai dengan kebutuhan pelanggan,” tegasnya.

Seorang sarjana TI yang telah memiliki pemahaman umum kurikulum SAP dapat menjadi tenaga ahli SAP bersertifikat dengan waktu sekitar 6 pekan melalui pelatihan intensif SAP Academy dengan biaya sekitar US$5.000 di ruang kelas dengan kapasitas yang terbatas. Adapun, jalur pendidikan lainnya adalah eAcademy melalui sistem belajar online yang biayanya 40% lebih murah.

Saat ini, tenaga ahli SAP yang telah berpengalaman dalam implementasi antara dua dan tiga tahun juga sangat dicari. Penghasilan rata-rata tenaga ahli SAP akan sesuai dengan pengalamannya. Sebagai contoh di AS, konsultan ahli SAP tingkat platinum bergaji US$2.500 per hari.

Banu Wimbadi, Eksekutif dari Perdana Consulting, menuturkan dalam dua tahun terakhir pihaknya kewalahan mencari tenaga ahli SAP. “Kami berharap SAP dapat menurunkan biaya pendidikannya,” tuturnya.

Man Mohan Kapur, Direktur SAP Education Service Asean menuturkan biaya pendidikan sertifikasi SAP di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia masing-masing sudah dua kali lipat dan satu setengah kali lipat lebih mahal daripada tingkat biaya di Indonesia.

“Bedanya, 60% peserta adalah orang yang dikirim melalui perusahaan dan sisanya dari biaya pribadi. Di Indonesia lebih dari 90% dikirim perusahaan atau konsultan,” katanya.
.
Oleh Roni Yunianto (Bisnis Indonesia)

WhatsApp chat