Bagaimana hukumnya mendonorkan jasad?

Candra mengirim email dari koleganya yang berniat mewakafkan jasadnya manakala meninggal. Meskipun wacana semacam ini sudah cukup lama beredar, namun masih menjadi perdebatan di kalangan ulama apalagi masyarakat awam. Diskusi di milis ini cukup menarik untuk dikutip di blog.
===================
Assalamu’alaikum wr. wb,
Sebuah niat yang agung dari seorang sahabat, guru sekaligus kolega kerja.
.
Selamat berhikmah..
Wassalam, Joko Sumiyanto
.
.
Yth. Bapak dan Ibu,
Alhamdulilah, pada akhirnya niat saya kesampaian di bulan Ramadhan barusan untuk mewakafkan jasad saya (dan ternyata suami saya juga berminat) kelak jika meninggal (entah kapan, hanya Allah Swt yang tahu) sebagai “cadaver”.
.
Sesungguhnya ini belum pernah dilakukan oleh orang di luar FK sehingga tidak ada prosedur baku, maka saya sarankan kami buat “surat amanah” tentang maksud kami, diketahui saksi oleh suami/istri, anak, RT dan RW di mana kami tinggal, Kajur di kantor, dan Dekan FK UGM, kemudian dibuat AKTA NOTARIS. Dari 3 notaris, ternyata hanya seorang saja yang berani membuatkan akta, yang 2 orang tidak berani, mungkin khawatir dituntut anggota keluarga (padahal, anggota keluarga saya dan suami sudah tahu). Karenanya, ini menjadi bahan diskusi di forum FK. Dalam forum para dokter itu, ada yang kaget, dan ada yang tidak percaya atas niat kami itu sehingga PD I FK UGM menegaskan berulang kali bahwa di awal, beliau tidak percaya pada paparan saya via telpon. Katanya itu hanya ada dalam impian dan angannya selama lebih dari 20 tahun sebagai dokter, ternyata pada akhirnya beliau temukan juga kenyataan itu. Berikutnya beliau memfasilitasi niat wakaf kami tersebut.

Saya berharap keikhlasan kami bisa membuat mahasiswa FK UGM (khususnya) terinspirasi saat belajar dari tubuh kami. CV kami sertakan jika kelak kami masuk ke “rumah masa depan” kami agar mahasiswa FK tahu apa yg kami lakukan semasa hidup. Di rumah kami sekamar, kelak kami seruang lagi, di tempat berbeda, di rumah masa depan.

Beberapa teman saya kaget dan menanyakan bagaimana dengan ihwal ‘dari tanah kembali ke tanah’.  He..he.. silakan saja baca posting tulisan Cak Nun “Gusti Allah tidak Ndeso”. Tulisan Cak Nun itu membuat saya menyampaikan email ini.

Kini saya sedang menyiapkan artikel bersama PD I FK UGM dan akan diterbitkan sebagai booklet yg akan dibagikan saat talk show di FK suatu hari nanti. Jika mungkin naskah bisa di-online-kan di situs FK UGM. Ini agar mahasiswa FK tahu mengapa kami lakukan wakaf. Semua akan saya ungkap di situ. Selain itu, hal ini perlu saya sampaikan agar kelak jika pada saatnya kami dipanggil ke hadirat-Nya tidak akan ada pertanyaan “Dimakamkan di mana, kapan/jam berapa?”

Prosesi pelayat akan sampai di masjid di kampus UGM dan kampus saya bekerja, UNY, dilanjutkan ke FK UGM, diserahkan ke Dekan. Selesai. Tinggal siapa yg duluan dipanggil, saya atau suami saya. Manusia pasti mati, tinggal siapa yang duluan tercantum dalam antrian, cuma Gusti Allah yg tahu.

Ramadhan ini kami belajar “Ilmu ikhlas” seperti yang dibahas dalam dialog film KIAMAT MAKIN DEKAT. Bukan hanya untuk hal di atas, ada hal satu lagi yg teramat sulit -berurusan dengan keduniawian dan ketamakan- tetapi alhamdulilah bisa juga kami ikhlaskan. Saya jadi ingat tulisan Gde Prama tentang LAYU BAGAI BUNGA DI GUNUNG, berguguran setelah berbunga dengan ikhlas, tidak perlu dipajang di vas dan mengundang decak kagum yg melihat. Semuanya berjalan alami, berbunga dan berguguran, layu, dengan ikhlas.

Ramadhan telah berlalu, akan ada kerinduan sampai Ramadhan tahun depan. Semoga masih bisa kita nikmati bulan suci itu. Amien.

SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin akan semua kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja.

.

Salam damai 0-0,
Pangesti

Dua Peristiwa Satu Makna

Rekan semua,

Saya punya pengalaman dalam dua peristiwa, mungkin bermakna ganda, tetapi bagi saya hanya ada satu makna dasar….. kasih Ibu dan memaafkan. Pengalaman nyatanya begini.

Pada malam tahun baru 2008, saya bersepeda motor keliling kota Kupang untuk melihat berapa banyak lokasi orang berpesta  meskipun sumbernya dari BLT. Di satu pertigaan jalan  saya menjumpai seorang Ibu muda belia sedang menangis menggendong seorang bayi dan menggandeng seorang balita sedang kebingungan menanti angkutan kota yang memang sudah langka pada pkl 21.00 sebab semua orang sibuk untuk berpesta.

Continue reading “Dua Peristiwa Satu Makna”

Ahli Surga

mustadihisyam, 18/09/08

.
Saat Rasulullah saw bersama para sahabatnya, beliau berkata, ”Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang ahli surga.” Tidak lama setelah itu lewatlah seorang dari Anshar. Keesokan harinya Rasululah saw berkata seperti yang beliau katakan sehari sebelumnya, begitu pula di hari ketiga.

Pernyataan Rasulullah itu membuat penasaran Abdullah bin Amru. Ia ingin mengetahui amalan apa yang membuat orang dari Anshar itu menjadi ahli surga. Akhirnya ia mengikuti orang itu dan berkata kepadanya, ”Wahai saudaraku, ketahuilah antara aku dan ayahku terjadi perselisihan dan aku bersumpah tidak akan masuk rumahnya selama tiga hari. Bagaimana jika sementara tiga hari ini aku tinggal di rumahmu?” Orang itu pun menjawab, ”Mari, dengan senang hati.”

Selama tiga hari ia tinggal di sana. Namun, ia tidak menjumpai orang itu melaksanakan shalat tahajud, atau amalan istimewa lainnya. Amalannya sehari-hari seperti kebanyakan orang. Namun, ia tidak mendengar orang itu berbicara kecuali perkataan yang baik.

Setelah malam ketiga berlalu, Abdullah bin Amru semakin heran karena tidak menemui amalan istimewa dari orang itu. Sehingga, esok harinya, saat hendak permisi ia berkata kepadanya, ”Wahai hamba Allah, ketahuilah, sebenarnya antara aku dan ayahku tidak terjadi perselisihan dan aku pun tidak berjanji untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Aku ingin tinggal di rumahmu karena aku mendengar nabi saw pernah berkata selama tiga hari bahwa akan muncul di antara kami seorang ahli surga.

Dan selama itu pula yang muncul di hadapan kami adalah kamu. Karena itu aku ingin tahu lebih dekat apa amalan yang kamu lakukan sehingga aku bisa mengikutimu. Namun, terus terang, selama tiga hari aku bersamamu aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang istimewa. Sebenarnya apa rahasia amalanmu yang membuat Rasulullah mengatakan bahwa kau ahli surga?”

Orang itu berkata, ”Ya, benar, amalanku adalah seperti yang kamu saksikan.” Tetapi, ketika Abdullah bin Amru pamit untuk pergi, ia memanggilnya dan berkata, ”Amalanku adalah seperti yang kamu lihat, namun aku tidak merasa iri, dengki kepada seorang pun atas kebaikan atau kenikmatan yang didapatkannya dari Allah SWT.” Mendengar itu, Abdullah bin Amru berkata, ”Inilah yang dapat kau lakukan dan yang belum dapat kami realisasikan.”

Iri dan dengki adalah penyakit jiwa yang sering terjadi pada manusia, dimana manusia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu yang bersifat batiniah. Kenapa tidak bisa mengendalikan hawanafsu? Tidak lain karena Jiwa/nafs manusia kondisi lemah, sakit bahkan lumpuh, sebab tidak pernah menerima asupan makanan yang dipancarankan dari kesucian Ruhul Kudus yang bersemayam dalam kalbu manusia. Energi Ilahi yang dipancarkan oleh Ruh manusia tidak mampu menembus kalbu karena kalbu penuh dengan kotoran, sehingga cahaya Ilahi tidak sampai dalam Jiwa manusia.

Cara yang paling mudah adalah bersihkan Kalbu itu, supaya dapat di tembus oleh pancaran Ilahi yang ada dalam Ruh manusia. Dan cara yang paling mudah itu salah satunya adalah Puasa. Puasa dengan Imanah dan wahtisaban ( penuh keyakinan dan keichlasan ) akan membersihkan kerak-kerak yang menempel pada kalbu. Kalau Kalbu bersih maka Ruhul Kuddus akan memancarkan energi ke dalam jiwa, sehingga sehatlah jiwa itu. Kalau Jiwa sehat maka hawanafsu akan dapat terkendali, itulah yang di sebut jiwa yang Muttaqin.

Ayo mari kita sama-sama bangunkan Jiwa di bulan Ramadhan ini !

.

WhatsApp chat