Saya berharap keikhlasan kami bisa membuat mahasiswa FK UGM (khususnya) terinspirasi saat belajar dari tubuh kami. CV kami sertakan jika kelak kami masuk ke “rumah masa depan” kami agar mahasiswa FK tahu apa yg kami lakukan semasa hidup. Di rumah kami sekamar, kelak kami seruang lagi, di tempat berbeda, di rumah masa depan.
Beberapa teman saya kaget dan menanyakan bagaimana dengan ihwal ‘dari tanah kembali ke tanah’. He..he.. silakan saja baca posting tulisan Cak Nun “Gusti Allah tidak Ndeso”. Tulisan Cak Nun itu membuat saya menyampaikan email ini.
Kini saya sedang menyiapkan artikel bersama PD I FK UGM dan akan diterbitkan sebagai booklet yg akan dibagikan saat talk show di FK suatu hari nanti. Jika mungkin naskah bisa di-online-kan di situs FK UGM. Ini agar mahasiswa FK tahu mengapa kami lakukan wakaf. Semua akan saya ungkap di situ. Selain itu, hal ini perlu saya sampaikan agar kelak jika pada saatnya kami dipanggil ke hadirat-Nya tidak akan ada pertanyaan “Dimakamkan di mana, kapan/jam berapa?”
Ramadhan ini kami belajar “Ilmu ikhlas” seperti yang dibahas dalam dialog film KIAMAT MAKIN DEKAT. Bukan hanya untuk hal di atas, ada hal satu lagi yg teramat sulit -berurusan dengan keduniawian dan ketamakan- tetapi alhamdulilah bisa juga kami ikhlaskan. Saya jadi ingat tulisan Gde Prama tentang LAYU BAGAI BUNGA DI GUNUNG, berguguran setelah berbunga dengan ikhlas, tidak perlu dipajang di vas dan mengundang decak kagum yg melihat. Semuanya berjalan alami, berbunga dan berguguran, layu, dengan ikhlas.
Ramadhan telah berlalu, akan ada kerinduan sampai Ramadhan tahun depan. Semoga masih bisa kita nikmati bulan suci itu. Amien.
SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin akan semua kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja.
.
Salam damai 0-0,
Pangesti

