Marhaban ya Ramadhan!

.

Ramadhan adalah bulan tempat kita menempa dan melatih diri. Prioritas amal apa yang akan kita latih di bulan ini? Di antaranya adalah pertama, manajemen waktu, waktu harus semakin bisa kita kendalikan dengan baik.

Waktu di bulan ini terlalu berharga, hingga tak layak kita melakukan sesuatu, berucap, bergerak, berpikir, mendengar atau melakukan apapun kecuali menghasilkan sesuatu yang terbaik. Pantang bagi kita di bulan Ramadhan ini perpindahan detik demi detik tak menjadi amal apa pun.

Di bulan ini Allah mendidik kita agar setiap perpindahan waktu kita kelola sedemikian rupa. Diam, bergerak, berpikir, berbicara, mendengar, dan lintasan hatipun harus bermanfaat semuanya.

Ramadhan hari kemarin tak akan pernah kembali lagi. Karenanya saat-saat di bulan yang penuh berkah ini jangan disia-siakan, tiap saat yang kita lalui harus efektif.

Continue reading “Marhaban ya Ramadhan!”

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

[Penulis asli] : Herry Mardian [Dikutip ke milis oleh] : Udi Maadi, [diedit dikit untuk blog oleh] : Yudi

.

Saat ini lagi Ramadhan. Di bulan puasa ini, sering kita dengar kalimat `Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan `yang manis-manis’ ? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate) . Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) .

Continue reading “Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis”

Merenungkan masa depan

Apabila hati manusia masih punya ruang untuk merenungkan dunia ini dan meneliti realita alam, manusia dan kehidupan, akan tergambarlah di hadapannya suatu kenyataan yang tidak bisa ditolak, realita yang memaksa dirinya untuk berfikir lebih jauh tentang amal perbuatannya. Apabila diamati dengan seksama, roda kehidupan ini bagai kurva normal.

Bermula dari tiada, Segala makhluk hidup itu kemudian diciptakan Allah. Setelah itu, dia memulai hidupnya dalam ketakberdayaan, semakin lama semakin meningkat kekuatannya dan akhirnya mencapai puncak. Segera setelah itu, ia mulai menurun sampai akhirnya kembali kepada Pencipta.

Demikian juga kekuasaan, siapa pun yang pernah duduk di singgasana kekuasaan tidak ada yang abadi. Segera setelah itu, dia mencapai puncak kejayaan, pada saat itu awal kemundurannya. Karena, dunia ini hanya jembatan tempat lewat, bukan keabadian. Firaun adalah contoh legendaris. Ia berkuasa dan kekuasaannya bukan hanya sekadar menjadi raja yang segala kata-katanya mutlak harus ditaati, tetapi lebih dari itu, Firaun telah memerintahkan manusia untuk menyembah dia. Dengan kekuasaannya, dia telah menyatakan diri sebagai tuhan yang punya hak memerintah dan melarang. Tetapi, waktu jualah yang membuktikan bahwa kemudian dia pun runtuh. Siapa yang bisa melawan waktu dan mengundurkan kematian? Kita pasti akan menemuinya. Kullu nafsin zaaiqatul mauut. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian’.

Oleh karena itu, setiap manusia, siapa pun dia, apa pun jabatannya, hendaknya selalu mengingat hari di mana pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak. Hari itu akan tiba bahwa tidak seorangpun bisa menghindarinya. Maka benarlah hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa, ”Orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat akhirat.”

Orang yang selalu menghitung segala perbuatannya dengan mizan (timbangan) yang amat teliti, berpikir sebelum berbuat. Orang yang selalu menjauhi segala yang akan mengurangi kesempatannya untuk mengecap kesenangan di alam yang abadi kelak. Dia mengetahui bahwa apalah artinya dunia ini, hanya setetes air di samudera, bagai sebutir pasir di pantai. Dalam keadaan seperti itu, tentu langkahnya akan menjadi ringan dalam mengikuti segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Jadilah dia hamba yang taat yang hanya menginginkan rida Allah. Hanya itu, tiada lain.

Wassalam !

WhatsApp chat