Ciri seorang Ibadur Rahman

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Saudaraku, umur kita sudah di atas 50 tahun, apalagi yang harus dicari kalau bukan ketenangan, kedamaian dan kebersamaan? Izinkan saya reposting tulisan saya beberapa hari lalu. Saya berharap mudah-mudahan tulisan ini bisa mengingatkan khususnya kepada diri saya pribadi dalam menjaga silaturahmi di komunitas Kasmaji 81 ini.

Seorang Ibadur Rahman – Hamba Alllah adalah orang yang berjalan di atas bumi Allah dengan santun, tidak sombong dan sikapnya tenang. Laksana padi yang berisi, sebab itu dia tunduk kepada Allah karena insaf akan kebesaranNya dan rendah hati sesama manusia karena dia insaf bahwa dia tak akan bisa hidup sendiri di dunia ini. Dan bila dia berhadapan bertegur sapa dengan orang bodoh yang dangkal pikirannya, tidaklah dia lekas marah, tetapi disambutnya dengan baik dan ramah, yang salah dituntunnya dan diingatkannya sehingga kembali ke jalan yang benar. Seorang Ibadur Rahman – kawulaning Gusti  pandai benar menahan hati, berlapang dada.


wa’ibaadu alrrahmaani alladziina yamsyuuna ‘alaa al-ardhi hawnan wa-idzaa khaathabahumualjaahiluuna qaaluu salaamaan
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al-Furqan:63).

Gemi, Setiti, Ngati-ati

Salah satu ciri seorang Ibadur Rahman adalah bila menafkahkan harta bendanya tidak berlebihan (royal) tapi tidak pula kikir (bakhil). Tidak konsumtif dan salah langkah dalam memilih dan mengatur skala prioritas kebutuhan yang bermanfaat. Berperilaku gemi, setiti lan ngati-ati. Dia mencari harta benda sebagai pemagar maruah, untuk penjaga kehormatan diri, bukan untuk diperbudak oleh harta itu. Timbullah hidup yg “qawaaman“, yang seimbang antara royal dan bakhil. Ibadur Rahman memandang harta benda semata-mata pemberian Tuhan yang harus dirasai nikmat pemakaiannya dan dijaga jangan sampai digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat.

waalladziina idzaa anfaquu lam yusrifuu walam yaqturuu wakaana bayna dzaalika qawaamaan
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al-Furqon: 67)

Menjadi Umat Tauhid

Ciri seorang Ibadur Rahman yang berikutnya adalah amat menjauhi tiga hal yaitu: tidak mempersekutukan Tuhan dengan yang lain, tidak membunuh nyawa yang diharamkan Tuhan kecuali menurut hak-hak tertentu, dan tidak berbuat zina. Kepercayaan akan keesaan Tuhan, menjadi umat tauhid yang sejati membentuk satu pandangan luas bahwa seluruh makhluk Allah ini, terutama sesama manusia diberi hak hidup di dunia ini oleh Tuhan. Kita tidak berhak mencabut nyawa manusia, baik membunuh orang lain atau membunuh diri sendiri. Karena membunuh adalah merampas hak hidup satu nyawa. Seseorang hanya boleh dibunuh atas keputusan hakim. Hamba Allah sejati juga pantang melakukan zina, karena akan mengacaubalaukan masyarakat. Dan tentu dosa besar akan diterimanya. Agama mengatur hubungan perkawinan dengan nikah. Betapa keras hukuman Tuhan, namun pintu taubat selalu dibukakan, karena Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pengasih.

(QS Al-Furqan: 68-70)

Hindari Omdo

Ciri Ibadur Rahman selanjutnya adalah, [Pertama] mereka tak suka memberikan kesaksian palsu, mengarang cerita dusta untuk menjahanamkan orang lain. Karena kesaksian dusta, seorang jujur tak bersalah bisa teraniaya, atau bisa pula membebaskan orang yang jahat dari ancaman hukuman. Kesaksian dusta adalah dosa besar, susah dimaafkan. [Kedua] apabila mereka berjalan di hadapan orang-orang yang sedang bercakap omong kosong atau ngobrol yang tak tentu ujung pangkalnya, dia menghindar berlalu saja dengan sikap yang baik. Dia keluar dari tempat obrolan itu dengan sikap yang mulia dan tahu harga diri, sehingga sikapnya itu menimbulkan kesan yang baik mendidik orang-orang yang beromong kosong itu. Seorang hamba Allah sangat menjaga agar dirinya tidak masuk dlm suasana obrolan yang tidak bermanfaat. Lebih baik berdiam diri daripada bicara yang tak ada gunanya. Dia sangat pandai menjaga omongannya, memilih kata-kata mana yang pantas dan mana yang tak pantas diucapkan, karena sebagai kawulaning Gusti menyadari tak mau menyakiti hati orang lain.

waalladziina laa yasyhaduuna alzzuura wa-idzaa marruu biallaghwi marruu kiraamaan
Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (QS Al-Furqan: 72)

Sami’na wa atho’na

Ciri Ibadur Rahman yang lain adalah, apabila mendengar orang menyebut ayat-ayat Tuhan, tidaklah bersikap acuh tak acuh seakan-akan tuli ataupun buta. Kebenaran adalah ayat Allah. Kalau ada orang menyebut kebenaran, meskipun dia tak hafal ayat Al-Qurannya dan hadistnya, maka seorang hamba Allah akan mendengarkan dengan penuh minat, dia tak akan menulikan telinganya dan tak membutakan matanya. Dia akan mempertimbangkan nilai kata yg benar dan mentaatinya karena kebenaran adalah suara Tuhan. Hidupnya telah ditentukan buat menjunjung tinggi kalimat Ilahi.

waalladziina idzaa dzukkiruu bi-aayaati rabbihim lam yakhirruu ‘alayhaa shumman wa’umyaanaan
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

Keluarga Samawa

Seorang hamba Allah tidak hanya memikirkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Dia senantiasa memohon kepada Tuhan agar istri dan anak-anaknya dijadikan buah hatinya, penawar segala kekecewaan hatinya. Keseimbangan kemudi dalam rumahtangga adalah kesatuan dan tujuan. Berjuta-juta uang, mobil mewah, rumah gedung, takkan ada artinya kalau istri/suami tidak setia, akhirnya menjadi neraka kehidupan sampai menutup mata. Demikian juga anak yang berbakti, yang berhasil dalam hidupnya adalah dambaan setiap orang tua. Anak-anak adalah inti kekayaan yang tak ternilai. Anak yang berbakti adalah pelipur lara di waktu tenaga ibu bapaknya telah lemah dan orang tua pun akan tenang menutup mata jika ajal sampai. Sebagai penutup doa, seorang hamba Allah juga memohon kepada Tuhan agar menjadi Imam, pemimpin istri dan anak-anaknya menuju jalan Allah.

waalladziina yaquuluuna rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waij’alnaa lilmuttaqiina imaamaan
“Dan orang orang yang berkata:Ya Tuhan kami, anugerahi kami istri dan anak turun kami yg menjadikan permata hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yg bertaqwa kepadaMu” (QS Al-Furqan:74).

Apabila ingat dan syukur telah tumbuh dalam hati, terasalah bahwa kehidupan ini tak lepas kasih sayang kemurahan Allah. Kemana saja mata memandang Rahman Ilahi nampak jelas. Terasa kecil kita di hadapanNya, dan bersedialah kita dengan kerelaan hati unt mengabdi menjadi hamba Alllah. Itulah orang  yang disebut Ibadur Rahman, kawulaning Gusti.

Semoga kita termasuk tokoh-tokoh Ibadur Rahman.

Wassalaamu’laikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

 

 

 

Dermawan

3_92

lan tanaaluu albirra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna wamaa tunfiquu min syay-in fa-inna allaaha bihi ‘aliimun

“Sekali-kali tidaklah kamu akan mencapai kebaikan, sebelum kamu mendermakan sebagian dari harta yang kamu sayangi. Dan apa juapun yang kamu dermakan itu semua Allah Maha Mengetahui” (QS. Ali Imran, 92)

Abdullah bin Ja’far adalah seorang dermawan yang terkenal. Di masa itu. siapa orang yang tidak mengenal kedermawanan beliau? Beliau adalah anak dari Ja’far bin Abu Tholib seorang pahlawan yang tewas dalam perang Mu’ tah.

Continue reading “Dermawan”

Glopa-glape

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh
Salam dan sejahtera untuk kita semua.

 

 

“Glopa-glape, glopa-glape
Gajahe kepengin menek 
Ulane kepengin mabur 
Manuke kepengin nglangi
Kodhoke kepengin nyembur
Elok temen  elok iki”.

Glopa-glape adalah tembang Jawa karya Ki Narto Sabdo  yang mengandung pesan moral agar kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Tindakan orang yang tidak bersyukur akan anugerah Tuhan atau disebut “klewa-klewa”  sering terjadi pada pejabat negeri ini. Cita-cita dan ambisi memang penting, tetapi ambisi harus didampingi dengan rasa MALU.

Barangkali hanya manusia di antara mahluk Allah di bumi ini, yang memiliki perasaan malu. Tetapi tampaknya tidak seluruhnya manusia memiliki perasaan malu itu. Lihatlah pejabat kita, dengan jabatannya, mereka tak merasa sungkan mengambil harta yang bukan haknya, mereka tak malu malu lagi meminta jatah yang seharusnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat yang memilihnya. Mereka tega memperkosa hak rakyat dan dengan santai mempertontonkan aibnya. Mereka yang seharusnya menjadi contoh justru menjadi cengkre tabiatnya.

Kita mengenal paling sedikit tiga malu: malu kepada orang lain, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada Tuhan. Kalau malu kepada orang lain sudah tidak dipunyai, malu kepada diri sendiri dan Tuhan apalagi. Sebab bagi kita, orang yang tidak begitu mempertimbangkan pandangan diri dan pandangan Tuhan, umumnya masih suka mempertimbangkan pandangan orang lain. Bahkan pandangan orang lain inilah yang justru sering menjadi motor utama gerak-gerik dan perilaku. Manusia berbuat mulia atau menyembunyikan borok sendiri karena dipandang orang, kadang-kadang sopan di depan orang dan liar dalam kesendirian.

Mereka yang selingkuh kepada rakyatnya, minta suap dan korupsi, mungkin masih sedikit punya perasaan malu terhadap orang lain. Oleh karena itu dia lakukan secara sembunyi-sembunyi, supaya tak ingin perbuatannya diketahui banyak orang. Namun jelas, semua itu sudah tidak lagi mempunyai rasa malu kepada diri sendiri maupun Tuhan.

Nabi Muhammad swa yang mengatakan  “Apabila kamu tidak malu, berbuatlah sekehendak hatimu!” , artinya tentu saja tidak malu kepada orang, diri sendiri dan Tuhan.  Malu sebenarnya merupakan bagian dari iman, kalau tidak ya iman itu sendiri. Maka jangan mengatakan kita orang yang beriman kalau kita tak lagi punya rasa malu.

Sekuat tenaga apapun tekad dan kehendak manusia yang berusaha untuk mengejar ambisi pribadi dengan menghalalkan segala cara, akhirnya mereka akan jatuh karena ulah dan perbuatannya sendiri.

“Si Gajah pepes tlalene
Si Ulo aber upase
Si Manuk putung swiwine
Si Kodhok bedhah wetenge”.

waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqaan

[17:81] Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isra’: 81)

Semoga ibadah kita, disamping kemuliaan-kemuliaan lainnya mampu mendidik kita menjadi manusia-manusia sejati yang memiliki perasaan malu.

Wassalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh

Aamiin YRA.
Salam, Mustadi.

WhatsApp chat