Belajar dari Bintang Kejora

Oleh Mustadihisyam

Saat maghrib tiba tengoklah langit barat. Walaupun langit belum terlalu gelap, sebuah bintang cemerlang tampak cukup tinggi di langit. Awan tipis musim kemarau ini tak mampu membendung sinarnya. Itulah bintang kejora, menurut Ibnu Abas disebut bintang Musytari, bangsa Romawi dan Yunani yang mempertuhankan bintang, merupakan bintang yang paling agung.

Bila muncul saat shubuh di langit timur bintang cemerlang itu disebut bintang timur, menurut Qatadah disebut bintang Zuhrah. Sebenarnya itu bukan bintang, melainkan planet Venus. Bangsa Kaldani merupakan kaum Nabi Ibrahim yang menyembah bintang. Nabi Ibrahim mulai bertanya, apakah bintang yang bersinar ini Tuhanku yang layak aku sembah?

Continue reading “Belajar dari Bintang Kejora”

Isra’ Mi’raj

Oleh Mustadihisyam

Salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup Rasulullah SAW adalah peristiwa diperjalankannya beliau (isra) dari Masjid al Haram di Makkah menuju Masjid al Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah (terletak sekitar 150 meter dari Masjid al Aqsa) menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di S. Al Isra ayat pertama:

Continue reading “Isra’ Mi’raj”

Fudhail bin Ayyadh

Oleh Mustadihisyam

Seorang anak muda yang dikenal sangat nakal, tak mengenal jalan kepada Tuhan, bahkan lupa kepada Tuhan sehingga Tuhan pun melupakan dirinya. Pada suatu malam dari sebuah rumah tingkat terdengar suara merdu dari seorang perempuan. Dipanjatnya dinding rumah oleh anak muda itu, didengarkan suaranya dan diintipnya wajah perempuan itu, sungguh cantik wajahnya!

Tetapi saat anak muda tertegun melihat wajah cantik itu, dia tafakur mendengar suaranya, bukan bernyanyi, tetapi perempuan itu membaca Al-Qur’an surat Al Hadid ayat 16 :

alam ya’ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuhum lidzikri allaahi wamaa nazala mina alhaqqi walaayakuunuu kaalladziina uutuu alkitaaba min qablu fathaala ‘alayhimu al-amadu faqasat quluubuhum wakatsiirun minhum faasiquuna

“Belumkah datang masanya bagi orang-orang yang beriman, bahwa akan khusyu’ hati mereka karena mengingat Allah dan mengingat kebenaran yang diturunkan, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Luluhlah hati anak muda itu lantaran merdengar ayat itu, luluh hatinya bukan lagi wajah cantik rupawan yang mempesona itu dan bukan pula suaranya yang merdu, melainkan isi ayat itu sendiri.

Pemuda itu lalu pelan-pelan melangkahkan kakinya turun dari rumah si gadis itu, trenyuh hatinya, seketika itu timbul perubahan perasaan dalam jiwanya, sikap yang galak menjadi tertunduk.

Mulai saat itulah anak muda itu mengubah jalan hidupnya yang awal mulanya tak mau mengenal jalan kepada Tuhan, lupa kepada Tuhan, lupa diri, menjadi seorang anak muda yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan secara total dan akhirnya menjadi salah seorang pelopor dari keteguhan Iman di zaman Daulat Abbasiyah. Dialah Fudhail bin Ayyadh, seorang ahli Shufi dan Zuhud yang terkenal.

innamaa almu/minuuna alladziina idzaa dzukira allaahu wajilat quluubuhum wa-idzaa tuliyat ‘alayhimaayaatuhu zaadat-hum iimaanan wa’alaa rabbihim yatawakkaluuna

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal “. (QS Al Anfal, ayat 2).

WhatsApp chat