Dermawan

3_92

lan tanaaluu albirra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna wamaa tunfiquu min syay-in fa-inna allaaha bihi ‘aliimun

“Sekali-kali tidaklah kamu akan mencapai kebaikan, sebelum kamu mendermakan sebagian dari harta yang kamu sayangi. Dan apa juapun yang kamu dermakan itu semua Allah Maha Mengetahui” (QS. Ali Imran, 92)

Abdullah bin Ja’far adalah seorang dermawan yang terkenal. Di masa itu. siapa orang yang tidak mengenal kedermawanan beliau? Beliau adalah anak dari Ja’far bin Abu Tholib seorang pahlawan yang tewas dalam perang Mu’ tah.

Continue reading “Dermawan”

Glopa-glape

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh
Salam dan sejahtera untuk kita semua.

 

 

“Glopa-glape, glopa-glape
Gajahe kepengin menek 
Ulane kepengin mabur 
Manuke kepengin nglangi
Kodhoke kepengin nyembur
Elok temen  elok iki”.

Glopa-glape adalah tembang Jawa karya Ki Narto Sabdo  yang mengandung pesan moral agar kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Tindakan orang yang tidak bersyukur akan anugerah Tuhan atau disebut “klewa-klewa”  sering terjadi pada pejabat negeri ini. Cita-cita dan ambisi memang penting, tetapi ambisi harus didampingi dengan rasa MALU.

Barangkali hanya manusia di antara mahluk Allah di bumi ini, yang memiliki perasaan malu. Tetapi tampaknya tidak seluruhnya manusia memiliki perasaan malu itu. Lihatlah pejabat kita, dengan jabatannya, mereka tak merasa sungkan mengambil harta yang bukan haknya, mereka tak malu malu lagi meminta jatah yang seharusnya dipergunakan untuk kemakmuran rakyat yang memilihnya. Mereka tega memperkosa hak rakyat dan dengan santai mempertontonkan aibnya. Mereka yang seharusnya menjadi contoh justru menjadi cengkre tabiatnya.

Kita mengenal paling sedikit tiga malu: malu kepada orang lain, malu kepada diri sendiri, dan malu kepada Tuhan. Kalau malu kepada orang lain sudah tidak dipunyai, malu kepada diri sendiri dan Tuhan apalagi. Sebab bagi kita, orang yang tidak begitu mempertimbangkan pandangan diri dan pandangan Tuhan, umumnya masih suka mempertimbangkan pandangan orang lain. Bahkan pandangan orang lain inilah yang justru sering menjadi motor utama gerak-gerik dan perilaku. Manusia berbuat mulia atau menyembunyikan borok sendiri karena dipandang orang, kadang-kadang sopan di depan orang dan liar dalam kesendirian.

Mereka yang selingkuh kepada rakyatnya, minta suap dan korupsi, mungkin masih sedikit punya perasaan malu terhadap orang lain. Oleh karena itu dia lakukan secara sembunyi-sembunyi, supaya tak ingin perbuatannya diketahui banyak orang. Namun jelas, semua itu sudah tidak lagi mempunyai rasa malu kepada diri sendiri maupun Tuhan.

Nabi Muhammad swa yang mengatakan  “Apabila kamu tidak malu, berbuatlah sekehendak hatimu!” , artinya tentu saja tidak malu kepada orang, diri sendiri dan Tuhan.  Malu sebenarnya merupakan bagian dari iman, kalau tidak ya iman itu sendiri. Maka jangan mengatakan kita orang yang beriman kalau kita tak lagi punya rasa malu.

Sekuat tenaga apapun tekad dan kehendak manusia yang berusaha untuk mengejar ambisi pribadi dengan menghalalkan segala cara, akhirnya mereka akan jatuh karena ulah dan perbuatannya sendiri.

“Si Gajah pepes tlalene
Si Ulo aber upase
Si Manuk putung swiwine
Si Kodhok bedhah wetenge”.

waqul jaa-a alhaqqu wazahaqa albaathilu inna albaathila kaana zahuuqaan

[17:81] Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS Al-Isra’: 81)

Semoga ibadah kita, disamping kemuliaan-kemuliaan lainnya mampu mendidik kita menjadi manusia-manusia sejati yang memiliki perasaan malu.

Wassalaamu’laikum warahmatullahi wa barakatuh

Aamiin YRA.
Salam, Mustadi.

Mensyukuri nikmat sehat dengan berolahraga

mustadiOleh Mustadihisyam

Assalaamu’alaikum wr. wb

Hampir setiap saat kita selalu mendengar kata “Syukur” yang diucapkan baik oleh kita sendiri maupun orang lain. Tetapi tidak banyak orang yang memahami makna syukur dalam kenyataan sehari-harinya. Makna syukur menurut hemat saya tidak hanya sekedar dengan ucapan “Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah”, setelah itu selesai sudah. Harus ada follow upnya yang dilakukan oleh orang yang bersyukur. Makna syukur yang sebenarnya adalah, hatinya mengakui yang pantas dipuji itu hanyalah Allah, lisannya mengucapkan Alhamdulillah – segala puji bagi Allah, dan diikuti tindakan mewujudkan rasa syukur itu.

Dalam kehidupan sehari-hari orang yang bersyukur itu adalah orang yang ketika diberi sesuatu oleh Tuhan, maka dia akan merawat, menggunakannya sesuai dengan fungsinya, dan semata-mata mengharapkan ridha Allah.

Seiring bertambahnya usia, pernahkah kita introspeksi diri apakah kita sudah bersyukur atas nikmat “SEHAT” yang dikaruniakan oleh Allah kepada kita? Kalau belum, apa yang seharusnya kita lakukan wujud dari syukur itu? Wujud dari syukur itu adalah dengan merawat kesehatan yang diberikan Allah. Bertambahnya umur berbanding lurus dengan berkurangnya fungsi organ kita: hati, ginjal, otot jantung dan paru-paru. Itulah sunatullah yang harus kita terima. Oleh karena itu kita punya kewajiban merawat nikmat sehat agar karunia dari Tuhan itu selalu terawat dengan baik.

Pertama: Hindari merokok

Jelas sekali bahwa rokok ditinjau dari dunia kedokteran sangat tidak baik untuk kesehatan. Dengan Anda mengurangi atau meninggalkan rokok artinya Anda telah berbuat syukur kepada Allah, mau merawat jantung dan paru-paru sebagai pemberian Allah yang tak ternilai harganya.

Dalam agama Islam merokok itu hukumnya makruh, artinya dalam bahasa kampung adalah bahwa merokok itu sesuatu perbuatan yang tidak disukai Allah. Saat merokok, Anda akan turut memasukkan zat-zat berbahaya yang bisa berdampak buruk tubuh, khususnya jantung. Contohnya zat nikotin. Ketika nikotin masuk ke tubuh, zat itu bisa mengurangi kadar oksigen yang akan masuk ke darah. Zat yang bersifat candu ini juga bisa mempercepat detak jantung, menaikkan tekanan darah, merusak pembuluh darah dalam jantung, dan mempercepat pembekuan darah yang bisa memicu serangan jantung. Begitu juga dengan akibat-akibat buruk terhadap organ tubuh yang lainnya.

Kedua : Melakukan olah raga secara teratur

“Kesehatan di atas segala-galanya, banyak orang kehilangan segalanya karena kesehatan yang buruk” – Dr Scwartz. Kutipan tersebut mungkin sering kita dengar, tapi sering kita abaikan.

Prinsip tunggu sakit baru olahraga, adalah pola pemikiran yang tidak benar yang dijalankan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Pemahaman olahraga dalam masyarakat kita adalah sekedar hobi, lain dengan orang barat yang memahami  olahraga sebagai kebutuhan pokok, wajib seperti makan dan minum.

Sebagai contoh ketika Anda terkena penyakit diabetes sebenarnya Anda sudah kehilangan sebagian nikmat Tuhan karena makan dibatasi tak boleh makan sembarangan, hidupnya tergantung obat. Begitu juga orang yang terkena penyakit lainnya seperti jantung, ginjal dan liver. Sebagian kenikmatan hidup Anda telah hilang karena ketidaktahuan Anda, kemalasan Anda, ketidak pedulian Anda akan cara mensyukuri nikmat sehat dari Allah yang luar biasa nikmatnya.

Tunggu apa lagi, ayo ubah pola hidup dengan olahraga sbg sarana menjaga kesehatan kita dan sbg wujud syukur kita akan nikmat sehat.

Sering kali orang mengatakan : “Olah raga atau tidak, merokok atau tidak, podho wae mengko yo mati!” Mungkin kita kurang memahami penegasan Allah berikut ini :

“Jika ajal telah datang maka usia tidak dapat ditunda dan tidak pula ia dapat dipercepat ” (QS Al A’raaf ;34).

Karena ketidakfahaman memaknai ayat ini sehingga mengantarkan kita menolak “usaha memperpanjang usia”. Memang kita harus yakin bahwa umur manusia di tangan Tuhan, tapi itu bukan berarti usaha untuk “memperpanjang” umur tidak akan berhasil, lho. Usaha untuk memperpanjang umur (tidak merokok, mau berolah raga, makan secukupnya) akan berhasil  direstui Allah karena sesuai dengan Sunatullah.  Apapun usaha manusia yang sesuai dengan Sunatullah pasti akan berbuah hasil, termasuk usaha memperpanjang umur.

Sangat menarik ketika kita mengamati bahwa dalam Al-Quran tidak dijumpai satu kalimat pun yang diterjemahkan dengan “Saya (Tuhan) memanjangkan umur”. Redaksi yang digunakan Al-Quran adalah: “Kami memanjangkan umurnya” (QS Yaasiin ; 68). Redaksi ‘Kami‘ disini memberi kesan bahwa manusia punya keterlibatan usaha demi memperpanjang usia.

Rupanya kita tidak boleh membiarkan raga kita tidak terpelihara hanya karena nafsu ingin merokok, malas berolahraga, ngumbar makan, dan bila jatuh sakit lalu kita mengatakan “Ini sudah suratan takdir Tuhan”. Lho, kok enak temen Tuhan disalahke, dijadikan alasan, padahal kita yang tidak tahu diri, kita tidak mau berusaha sehingga tidak membiarkan Tuhan bekerja sendiri.

“Ikatlah terlebih dahulu ontamu, kemudian serahkan kepada Allah”, demikian kata Rasulullah saw.

Mudah-mudahan dengan bertambah usia kita, menyadarkan  akan pentingnya merawat nikmat sehat dengan olahraga yang teratur, menghindari merokok, tidak ngumbar makan, dan manah kudu sumeleh. Itulah sejatinya syukur, mudah-mudahan kita ini termasuk orang yang pandai bersyukur dan mensyukuri nikmat sehat sebagai karunia Tuhan yang luar biasa tak ternilai harganya.

Monggo dr Endah Poncowati, dr. Erna Nuraini, dr Zaenudin, dan para dokter Kasmaji81 silahkan menjelaskan dari sisi ilmiah kedokteran.

Inilah alasannya kenapa saya selalu mengajak agar kita mensyukuri nikmat sehat dengan berolahraga. “Yen lagi waras aturna panuwun marang Gusti, amarga akeh sing lara ora mari”.

Wassalam, Mustadi.

WhatsApp chat