Berkah

mustadiOleh Mustadihisyam

Berkah adalah harapan yang diinginkan oleh hampir semua hamba yang beriman, dengan demikian orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup. Bahkan hampir tiap pagi hari di wa kita selalu saling mendokan semoga kita semua mendapatkan berkah dari Allah. Apa sebenarnya makna berkah yang kita harapkan itu?

Berkah bukanlah cukup dan mencukupi saja, melainkan berkah ialah bertambahnya ketaatan kita kepada Allah dgn segala keadaan yg ada, baik berlimpah atau sebaliknya, itulah berkah, “al-barakatu tuziidukum fi thaah”. Berkah Menambah Ketaatanmu kepada Allah. Apapun yang terjadi pada diri kita yang ujung ujungnya menambah ketaatan kepada Allah itulah berkah.

Hidup yang berkah bukan hanya sehat, melainkan kadang kala sakitpun bisa jadi berkah. Lihatlah berkah sebagaimana Nabi Ayyub AS dapatkan, sakitnya justru menambah ketaatannya kepada Allah. Banyak contoh ketika orang ditimpa sakit, merubah jalan hidupnya menjadi orang yang taat beribadah, sakitnya menjadi berkah karena menjadikan dia dekat dengan Tuhan. Dan berkah itu tidak selalu panjang umur, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Mush’ab bin Umair RA.

Tanah yang berkah itu bukan karena panorama indahnya, melainkan tanah yang kadang tandus, seperti Makkah tapi keutamaannya di hadapan Allah tidak ada yang menandingi, Subhanallah.

keluarga-sakinahMakanan berkah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap, melainkan makanan itu mampu menjadikan kita menjadi sehat sehingga menambah syukur kita akan nikmat yang diberikanNya kepada kita. Berkah nikmat sehat menambah ketaatan beribadah dengan khusyuk, bisa bekerja untuk beramal, bisa melaksanakan perintah Allah dengan sempurna.

Ilmu yang berkah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya, melainkan yang mampu menjadikan seseorang untuk beramal dan menegakkan agama Allah. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang mampu menyejahterakan hidup manusia sehingga menjadi amal jariah, suatu amal yang kita tunggu dan harapkan ketika kita sudah tak bernyawa lagi.

Penghasilan berkah juga bukan gaji yang kita terima banyak dan bertambah, melainkan sejauh mana penghasilan kita bisa menjadi jalan rezeki bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan kita, semakin sejahtera orang-orang di sekitar kita.

Anak-anak yang berkah bukanlah mereka yang lucu, cakep dan cakap, melainkan anak yang berkah ialah yg senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak mereka menjadi anak shaleh dan tidak henti-hentinya mendoakan ibu bapaknya “

Yaa… Allah ampunilah dosa dan kesalahan kami, juga dosa dan kesalahan ibu bapak kami, baik beliau yang masih hidup maupun yang sudah mendahului kami.
Kasihanilah dan sayangilah kedua orang tua kami yaa Allah sebagaimana beliau menyayangi kami di saat kami masih kecil”.

Istri suami yang berkah bukan yang kaya, cantik tampan. Tetapi istri suami yang berkah adalah ketika kita menatap wajahnya, jiwa terasa adem tentrem ayem, hati merasa bahagia, sehingga menambah rasa syukur  kita atas kasih sayang yang dianugerahkan dariNya.Pegangan orang berumah tangga, bukan harta dan penampilan. Hanya kemantapan hati modalnya, bahkan tak terbeli dengan harta, seperti digambarkan dalam tembang macapat Asmaradhana ini.

Gegaraning wong akrami
dudu bandha dudu rupa
amung ati pawitane
luput pisan kena pisan
yen gampang luwih gampang
yen angel angel kalangkung
tan kena tinambak arta

Semoga segala aktivitas kita selalu dalam  berkahNya.

Barakallahu fiikum….

Salam, mustadi.

Menjadi manusia yang baik

mustadiOleh Mustadihisyam

Di dunia yang makin modern ini terdapat banyak orang yang hidup secara egois-individualistis. Apalagi di zaman kapitalisme seperti saat ini. Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin. Orang kaya memperkaya dirinya dengan berbagai macam cara, halal ataupun haram, yang efek sampingnya membuat yang miskin pun semakin miskin.

Apakah mereka pikir dengan menumpuk harta bisa hidup bahagia? Tentu saja salah besar. Banyak sekali kita mendengar kabar orang-orang kaya tak bisa menikmati kekayaannya entah itu karena dia harus tinggal di hotel prodeo alias dipenjara atau sakit. Apa itu yang disebut bahagia? Lalu, dengan apa orang dapat hidup bahagia?

Kebahagiaan hidup itu ada 3 tingkatan.

Pertama, pleasant life.

Orang mencapai kebahagiaan tingkat pertama ini ketika seluruh kebutuhan primernya tercukupi. Pangan, sandang, papan. Dengan tercukupi segala kebutuhan primernya orang sudah dapat dikatakan bahagia, tapi kebahagiaannya masih bersifat sementara. Orang seperti ini masih kurang bahagia.

Kedua, good life.

Orang akan mencapai kebahagiaan good life ketika sudah meraih kebutuhan sekunder maupun primernya. Pada tingkatan ini orang sudah mulai mencoba mencari pengakuan dari masyarakat—kedudukan yang tinggi, wibawa yang besar, dan mungkin ketenaran sehingga ia dapat merasakan kebahagiaan. Ironisnya, ketika banyak orang sudah mencapai tingkatan ini, mereka justru hidup dalam kekhawatiran. Khawatir kedudukannya diduduki orang lain, khawatir hartanya dirampok orang, khawatir dengan segala apa yang dimiliki. Yang artinya, kebahagiaan tak dapat hanya diperoleh dengan hal tersebut.

Tingkat ketiga adalah meaningful life.

Artinya, hidup yang berarti atau hidup yang bermanfaat. Ketika sese­orang mencoba menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain dia akan merasakan indahnya kehidupan. Ironis­nya, kebanyakan manusia tidak sadar hal ini. Mereka lebih mengejar pleasant life dan good life daripada meaningful life, padahal puncak kebahagiaan itu ketika seseorang dapat bermanfaat bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya.

Stress-Free-Guy-798x350

Ada seorang pejabat bersedih hati karena persoalan yang ia hadapi. Ia kemudian mendatangi seorang ulama dan mulailah ia bercerita tentang permasalahannya.  Setelah pejabat bercerita,ulama itu bertanya, “Apa yang kurang dari saudara? Saudara mempunyai keluarga yang lengkap, pekerjaan yang berharga, rumah, mobil, harta yang ber­limpah yang tidak semua orang memiliki apa yang saudara miliki. Lantas apa yang membuat saudara bersedih?” lanjut ulama itu.

“Saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak dapat merasakan kebahagiaan padahal saya sudah mendapatkan segalanya,” jawab pejabat itu.

“Saudara tidak akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mencari kebahagiaan, tetapi saudara akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara membagi kebahagiaan itu,” nasehat ulama  tersebut.

“Maksudnya?” tanya pejabat tidak paham.

“Saudara mencari harta agar saudara bahagia, mencari pangkat agar bahagia, mendapatkan istri cantik agar bahagia, melakukan hal yang menyenangkan agar bahagia, tapi apakah saudara mendapatkan kebahagiaan? Cobalah bagi harta saudara dengan orang-orang yang lebih membutuhkan, dengan mereka yang hidup di pinggir sungai, dengan tetangga- famili dan sahabat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya atau sakit tak mampu berobat, yang kesulitan mencari sesuap nasi, untuk anak jalanan yang seharusnya mempunyai hak sekolah, untuk anak-anak cacat yang membutuhkan penghidupan yang layak. Ketika saudara melakukan hal itu, Insya Allah saudara akan mendapatkan dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa” tutur ulama itu.

Seminggu kemudian raut wajah pejabat itu berubah. Ia merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah ia rasakan. Ia melakukan semua apa yang telah diberitahukan oleh ulama  itu. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh ulama itu: Saudara tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mencari kebahagiaan, tapi saudara akan mendapatkan kebahagiaan ketika saudara mau membagi kebahagiaan tersebut.

Dari cerita di atas kita bisa mengerti bahwa ke­ba­hagiaan dapat dicapai ketika kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Kebahagiaan bukan diukur dari harta yang dihasilkan, pangkat yang diduduki, atau prestasi yang diraih, tapi diukur dari seberapa besar kita mau mem­bagi kebahagiaan itu kepada orang lain yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, juga terpenting kepada sahabat dan sanak famili yang kurang beruntung dan tidak mampu.

Sebaik-baik manusia ialah yang paling baik budi pekertinya dan paling bermanfaat bagi orang lain.  Budi pekerti adalah nilai yang sangat dijunjung dalam masyarakat. Karena itu, untuk menjadi sebaik-baik manusia tidaklah cukup menjadi orang yang paling baik budi pekertinya, tetapi ia juga harus bermanfaat untuk kehidupan orang lain dan alam sekitar.

Salam, mustadi

Gambar ilustrasi ambil dari sini

Dua raga dalam satu jiwa

Oleh Mustadihisyam

!mantenSepasang suami istri sedang makan malam di rumahnya. Saat tengah makan bersama, sang istri membuka pembicaraan.

Istri: ”Suamiku sayang, tak terasa kita sudah berumah tangga hampir 25 tahun, suka duka telah kita jalani bersama, tentu kita telah mengetahui kekurangan pasangan kita masing-masing, bolehkah aku mengutarakan usul?”

Suami: ”Boleh istriku sayang, ayo silahkan!”

Istri: ”Saya ingin kita menulis kekurangan pasangan kita masing2 di kertas kosong agar kita bisa saling introspeksi diri, tapi janji lho…tidak ada yang boleh tersinggung dan marah, bagaimana sayang, setuju!”

Suami: ”Baik istriku, Insya Allah”sambil tersenyum manis.

Sang istri kemudian pergi mengambil dua lembar kertas kosong dan pulpen.

Beberapa saat kemudian…

Isri:”sayang, saya sudah selesai menulisnya, apakah engkau juga sudah selesai?”

Suami: ”Iya sayang.. saya juga sudah selesai”

Istri: ”Baiklah, sekarang tukar kertas kita masing-masing. Jangan ada yang dibuka dulu ya. Nanti dibaca secara terpisah setelah saya membereskan makan malam ini!!”

Suami: ”Ok, sayang!” sambil mengecup kening istri.

Si istri mulai membereskan makan malamnya dan suami segera pergi ke kamar tidur.

Beberapa saat kemudian si istri kirim sms kepada suami :  “Suamiku sayang, sekarang saya sudah selesai membereskan makanan, silahkan buka kertasnya dan baca tulisannya di kamar, saya juga akan membacanya di dapur”.

Sang suami langsung membuka kertas dan membacanya. Setiap membaca tulisan istrinya tentang kekurangannya, tak terasa air matanya mengalir disetiap sudut matanya, karena ternyata begitu banyak kekurangan pada dirinya. Sementara di dapur si istri juga membuka kertas dari suaminya.

Istri kemudian menghampiri suami ke kamar tidur.

Istri: ”Bagaimana suamiku, apakah engkau sudah membaca tulisanku?”

Suami: ”sudah istriku, maafkan aku yang tidak bisa sempurna mendamingimu … maafkan aku”, air matanya terus menetes membasahi wajahnya.

Istri: ”iya suamiku, walaupun engkau tak sempurna tapi cukup membuatku bahagia dan berarti lebih dari siapapun. Tapi mengapa engkau tak menulis apapun di kertas itu? Padahal aku sudah menulis panjang lebar segala kekuranganmu”.

Suami:”istriku sayangku, tahukah kamu, aku mencintai mu apa adanya…sehingga aku melihat kekuranganmu adalah kelebihanmu dan aku tahu Allah menciptakan setiap manusia dengan berbagai kekurangannya, oleh karena itu aku sebagai suamimu akan menjadi pelengkap untuk menutupi segala kekurangan istriku.. aku mencintai mu karena Allah wahai istriku, bukan karena nafsu untuk memiliki dirimu. Engkau garwoku, belahan jiwaku, saling menutupi, saling melengkapi. Kita adalah dua raga yang berbeda tetapi dalam satu jiwa”sambil memeluk, menangis dan berbisik lirik di telinga istrinya.

Si istri pun terharu meneteskan air mata mendengar ketulusan, kejujuran pengakuan suaminya yang begitu sangat dalam mencintai dirinya.

“Suamiku, jika aku diizinkan untuk mengulang hidupku, aku akan memilihmu sebagai pendampingku, aku bangga memilikimu”guman istrinya.

Saudaraku, banyak pertengkaran di dalam rumahtangga yang sebab utamanya adalah EGOIS, hanya memikirkan kesenangan sesaat tak mau berpikir panjang, saling menyalahkan, saling menuntut, saling minta diperhatikan, saling minta disayang, gengsi meminta maaf jika melakukan kesalahan, tak mau berlomba memberi yang terbaik, bukannya saling mengingatkan tetapi saling membalas jika salah satu berbuat salah, semuanya itu berakibat hilangnya rasa syukur dan qonaah, menerima apa adanya.

robbana hablana min azwaajina.png

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, dari istri kami dan anak turun kami yang menjadikan permata hati kami dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa kepada Mu”.

 Wabillahi taufik wal hidayah, wassalaamu’alaikum wwb

Mustadi

WhatsApp chat